Menyusuri Jejak Sejarah di Masjid Pathok Negoro Dongkelan
Yogyakarta, JatimUPdate.id - Di tengah suasana sakral bulan Suro, ada satu destinasi bersejarah di Yogyakarta yang menyimpan kisah panjang tentang dakwah, perjuangan, dan peradaban Jawa-Islam, yaitu Masjid Pathok Negoro Dongkelan atau yang secara resmi bernama Masjid Nurul Huda.
Masjid yang berada di Dusun Dongkelan Kauman, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul ini merupakan salah satu Kagungan Dalem atau aset milik Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Sejak awal berdirinya, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai penanda batas wilayah kerajaan sekaligus benteng spiritual yang menjaga masyarakat di sekitarnya.
Dalam konsep tata ruang tradisional Jawa dikenal filosofi “Kiblat Papat Kalimo Pancer”, yaitu empat penjuru yang mengelilingi pusat. Dalam tata ruang Keraton Yogyakarta, Masjid Pathok Negoro Dongkelan menempati posisi strategis sebagai penjaga wilayah barat daya keraton.
Bersama empat Masjid Pathok Negoro lainnya di Mlangi, Plosokuning, Babadan, dan Wonokromo, masjid ini menjadi bagian penting dari sistem spiritual dan sosial Kesultanan Yogyakarta.
Jejak Sejarah dan Perjuangan
Masjid Pathok Negoro Dongkelan didirikan pada tahun 1775 M oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I. Pembangunannya merupakan bentuk penghormatan kepada Kiai Syihabuddin, seorang ulama ahli fikih yang berjasa membantu Sultan meredakan konflik politik dengan Raden Mas Said. Atas jasanya tersebut, Kiai Syihabuddin kemudian dipercaya menjadi penghulu pertama masjid.
Namun perjalanan masjid ini tidak selalu berjalan mulus. Saat berkecamuknya Perang Jawa, masjid menjadi salah satu basis pertahanan dan tempat berkumpul para pejuang pengikut Pangeran Diponegoro.
Karena peran strategisnya, bangunan asli masjid dibakar oleh pasukan Belanda pada tahun 1825 hingga nyaris rata dengan tanah.
Setelah perang berakhir pada tahun 1830, masjid dibangun kembali. Dari bangunan lama, hanya fondasi tiang utama yang masih tersisa dan menjadi saksi bisu perjuangan para pejuang bangsa.
Keunikan Arsitektur
Masjid Pathok Negoro Dongkelan memiliki bentuk bangunan bujur sangkar dengan arsitektur Jawa tradisional yang sangat mirip dengan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.
Keaslian masjid ini terlihat dari mustaka berbahan tanah liat yang menghiasi puncak atapnya, menjadi ciri khas utama Masjid Pathok Negoro.
Selain itu, bangunan ini memiliki tujuh pintu yang melambangkan pituduh (petunjuk) dan pitulungan (pertolongan) dari Allah SWT.
Di sekeliling bangunan terdapat sembilan jendela yang menjadi simbol penghormatan kepada dakwah Wali Songo. Keunikan lainnya adalah keberadaan dua ruang pawestren atau ruang khusus jamaah perempuan yang tertutup, sesuatu yang jarang ditemukan pada masjid-masjid pathok negoro lainnya.
Wisata Religi dan Ziarah Ulama
Selain menjadi tujuan wisata religi yang sarat nilai sejarah, kompleks masjid ini juga menjadi tempat peristirahatan sejumlah ulama besar yang berpengaruh dalam perkembangan Islam di Nusantara.
Di area pemakaman belakang masjid terdapat makam Kiai Syihabuddin, serta dua tokoh besar dari Pesantren Krapyak, yaitu Kiai Munawwir dan Kiai Ali Maksum.
Mengunjungi Masjid Pathok Negoro Dongkelan bukan sekadar melihat bangunan tua. Di setiap sudutnya tersimpan kisah perjuangan, keteladanan para ulama, serta jejak spiritual yang telah menjaga Yogyakarta selama berabad-abad.
Sebuah warisan sejarah yang mengingatkan bahwa masjid bukan hanya pusat ibadah, tetapi juga pusat peradaban, pendidikan, dan perjuangan umat. (Berbagai sumber/ih/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat