Piala Dunia: Ketika Bola Menjadi Bahasa Semesta
Oleh: Salihudin
Pemerhati Sosial Politik sekaligus Pecinta Olahraga Sepakbola
Jakarta, JatimUPdate.id - Sejak putaran Piala Dunia 2026 dimulai, sebenarnya saya sudah ingin menulis sesuatu. Tetapi seperti biasa, keinginan menulis kadang lebih dulu datang daripada topiknya. Mau menulis tentang strategi permainan, saya bukan pelatih.
Mau menulis tentang formasi, saya juga tidak cukup tekun mengikuti perkembangan sepak bola. Mau menulis tentang para pemain, nama yang saya kenal hanya beberapa saja, terutama yang sudah terlalu terkenal seperti Ronaldo dan Messi.
Di usia sekarang, perhatian saya terhadap sepak bola memang tidak sebesar ketika masih SMP atau SMA. Waktu itu, sepak bola terasa seperti bagian dari hidup remaja. Tabloid olahraga seperti Bola, rubrik-rubrik pertandingan, jadwal liga, nama-nama pemain, sampai skor pertandingan menjadi bacaan yang menarik.
Ada semacam kebahagiaan ketika tahu siapa mencetak gol, klub mana yang menang, dan negara mana yang sedang kuat.
Sekarang situasinya berbeda. Sepak bola tidak lagi saya ikuti dengan keseriusan seperti dulu.
Namun anehnya, Piala Dunia tetap punya daya tarik. Bukan semata karena pertandingannya, tetapi karena suasananya. Lingkungan ikut membentuk perhatian kita. Teman-teman bicara bola, kita ikut mendengar.
Banyak orang menulis tentang Piala Dunia, kita ikut membaca. Di grup percakapan Whatsapp, di warung kopi, di meja makan, bahkan dalam obrolan santai dengan bos, sepak bola tiba-tiba menjadi bahasa bersama.
Sesekali saya ikut berkomentar. Bukan karena sangat paham, tetapi agar tidak tampak terlalu jauh tertinggal dari percakapan. Dalam situasi seperti itu, muncul satu pertanyaan sederhana tetapi menarik: mengapa disebut Piala Dunia? Bukankah ini hanya sepak bola? Mengapa bukan Piala Sepak Bola saja?
--------------
Pertanyaan ini tampaknya ringan, tetapi sebenarnya cukup dalam. Kata “dunia” di dalam Piala Dunia memberi kesan yang jauh lebih besar daripada sekadar pertandingan olahraga.
Dunia tentu tidak hanya berisi bola. Dunia berisi manusia, sejarah, politik, ekonomi, budaya, agama, bahasa, harapan, bahkan penderitaan. Dunia terlalu luas untuk diwakili oleh sebuah lapangan hijau, dua gawang, dan satu bola yang diperebutkan selama sembilan puluh menit.
Memang bumi berbentuk bulat, dan bola juga bulat. Tetapi kesamaan bentuk itu tentu belum cukup untuk menjelaskan mengapa sebuah turnamen sepak bola disebut Piala Dunia. Sebab yang membuatnya “dunia” bukan bentuk bolanya, melainkan kemampuan sepak bola menciptakan perhatian bersama di hampir seluruh penjuru bumi.
Di sinilah menariknya. Piala Dunia bukan hanya peristiwa olahraga. Tapi adalah peristiwa sosial, budaya, ekonomi, bahkan politik. Ketika sebuah negara bertanding, yang bermain bukan hanya sebelas orang di lapangan. Yang ikut merasa hadir adalah rakyatnya, sejarahnya, identitasnya, dan harga dirinya. Bendera dikibarkan. Lagu kebangsaan dinyanyikan. Wajah pemain tegang. Penonton berdoa. Kemenangan menjadi kebanggaan nasional, kekalahan bisa terasa seperti kesedihan kolektif.
Karena itu, Piala Dunia sesungguhnya adalah panggung besar tempat manusia merayakan persaingan secara simbolik. Negara boleh berbeda ideologi, bahasa, warna kulit, tingkat ekonomi, dan kepentingan politik. Tetapi dalam sepak bola, semuanya bisa bertemu dalam aturan yang sama. Ada wasit. Ada garis lapangan. Ada waktu. Ada menang dan kalah. Dalam dunia nyata, konflik antarnegara sering rumit. Di lapangan bola, konflik itu dibuat lebih sederhana, lebih terukur, dan lebih indah untuk ditonton.
Namun saya juga melihat sisi lain. Istilah “Piala Dunia” adalah bahasa yang sangat kuat secara marketing. Kalau disebut “Piala Sepak Bola”, daya jangkaunya mungkin hanya kepada mereka yang mencintai bola. Tetapi ketika disebut “Piala Dunia”, imajinasinya berubah. Semua orang merasa punya hubungan dengan kata itu, karena semua orang hidup di dalam dunia. Kata “dunia” membuat turnamen ini terasa milik bersama, bahkan bagi orang seperti saya yang tidak terlalu mengikuti perkembangan sepak bola.
----------------
Di sinilah kecerdasan bahasanya. Piala Dunia menjual lebih dari pertandingan. Piala Dunia menjual rasa terlibat. Termasuk menjual percakapan. Seterusnya menjual kebanggaan. Termasuk menjual ingatan masa kecil, nostalgia remaja, pertemanan, kopi malam, layar besar, dan komentar-komentar kecil di meja makan.
Mungkin itulah sebabnya, meskipun saya bukan pengamat bola, saya tetap merasa perlu menulis tentang Piala Dunia. Bukan karena saya menguasai sepak bola, tetapi karena Piala Dunia telah melampaui sepak bola itu sendiri. Piala dunia sudah menjadi bahasa sosial. Yakni menjadi cara manusia berbicara tentang kompetisi, identitas, harapan, dan kebersamaan tanpa ada kehilangan nyawa.
Ketika 206 negara yg terlibat sejak babak penyisihan, dengan jumlah populasi kurang lebih 8 miliar, ini sebenarnya angka yang sangat fantastis. Pelajarannya adalah dengan populasi manusia sebanyak itu ternyata dunia bisa bersatu dengan satu arah kiblat : sepakbola.
Wallahu A' lam.
Editor : Redaksi