Indonesia Mempercepat Pembangunan Frigate Merah Putih KRI Balaputradewa-322

avatar Rio Rolis
  • URL berhasil dicopy
Frigate Merah Putih (FMP), KRI Balaputradewa-322
Frigate Merah Putih (FMP), KRI Balaputradewa-322

Jakarta, JatimUPdate.id -Keputusan Indonesia untuk mempercepat penyerahan Frigate Merah Putih (FMP), KRI Balaputradewa-322, agar dapat berpartisipasi dalam peringatan HUT ke-81 TNI pada 5 Oktober 2026, mencerminkan upaya strategis yang terencana untuk memproyeksikan kredibilitas industri maritim di kawasan.

Direktur PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, secara terbuka mengonfirmasi target penyerahan pada September 2026 tersebut. Hal ini menegaskan adanya tekanan politik yang kuat dari Jakarta untuk menjadikan frigat ini sebagai simbol utama kemandirian industri pertahanan Indonesia yang terus berkembang di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Jadwal yang dipercepat ini memadatkan tahapan penyelesaian akhir (fitting-out), integrasi sistem tempur, sertifikasi platform, dan pengujian di dermaga ke dalam rentang waktu operasional yang sangat singkat sebuah langkah yang jarang dilakukan untuk kapal kombatan permukaan pertama dari kelasnya yang memiliki bobot benaman lebih dari 6.600 ton pada muatan penuh.

Urgensi strategis terkait KRI Balaputradewa-322 melampaui sekadar pertimbangan seremonial, karena program ini merupakan frigat multiguna besar pertama buatan dalam negeri Indonesia yang memadukan arsitektur lambung kapal Barat dengan sistem tempur Turki serta melibatkan partisipasi industri nasional.

Keputusan Jakarta untuk menampilkan frigat KRI Balaputradewa-322 tersebut dalam parade kapal (sailing pass) peringatan HUT TNI di Teluk Jakarta bertujuan untuk menunjukkan transisi Indonesia dari angkatan laut yang berfokus pada pertahanan pesisir menuju kekuatan maritim 'blue-water' yang lebih tangguh dan mampu menjalankan operasi jangka panjang di kawasan.

Program Frigate Merah Putih bermula dari kontrak Kementerian Pertahanan yang ditandatangani pada 30 April 2020 antara PT PAL Indonesia dan pemerintah Indonesia, sebagai bagian dari upaya lebih luas untuk mengurangi ketergantungan jangka panjang terhadap galangan kapal asing dan platform tempur impor.

Arsitektur dasar frigat ini mengacu pada desain Arrowhead 140 buatan Inggris yang dikembangkan oleh Babcock International desain yang sendiri berawal dari konsep lambung kapal kelas Iver Huitfeldt milik Denmark dan kemudian diadaptasi untuk program frigat Type 31 milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris (Royal Navy).

Nilai total program tersebut belum diungkapkan secara resmi, meskipun para analis angkatan laut di kawasan memperkirakan bahwa biaya gabungan untuk dua frigat tahap awal dapat melampaui angka US$450 juta hingga US$500 juta, di luar paket integrasi persenjataan di masa mendatang.

KRI Balaputradewa-322, yang dinamai berdasarkan penguasa kerajaan Sriwijaya abad ke-9, Balaputra, secara sengaja membangkitkan kembali warisan kekaisaran maritim historis Indonesia sekaligus memperkuat narasi terkini Jakarta mengenai kebangkitan maritim strategis dan relevansi angkatan laut di kawasan.

Kemunculan kapal frigat ini terjadi di tengah tren modernisasi angkatan laut yang kian intensif di kawasan Indo-Pasifik, yang melibatkan China, India, Australia, Jepang, dan negara-negara maritim Asia Tenggara dalam persaingan untuk memperkuat kemampuan pengendalian laut, daya tangkal, dan kesadaran akan domain maritim di perairan kawasan yang menjadi objek sengketa. (rio/yh)