Selamat Jalan, Santiago

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Yayat Biaro
Yayat Biaro

Oleh Yayat Biaro

 

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Kemarin malam ba'da Isya saya duduk sendiri di teras depan rumah, ditemani pasangan yang selalu serasi: secangkir kopi dan sebungkus sigaret kretek. Tak berapa lama, di sela-sela seruput kopi dan hembusan asap kretek, telepon berdering.

Kabar duka dari seberang pulau seketika mengubah suasana malam menjadi sendu. Irfadin Oneng, sahabat baik sekaligus mantan Bendahara Umum HMI saat kami sama-sama berproses di Cabang, meninggal dunia sesaat setelah bercengkerama di rumah seorang kawan baiknya.

Kematian selalu datang tanpa membuat janji. Dan setiap kali ia mengetuk pintu seseorang, ia sesungguhnya sedang mengingatkan kita yang masih tinggal: sudah sejauh mana hidup ini benar-benar kita jalani?

Ada dua cara manusia kalah dalam hidup. Yang pertama adalah ketika ia berhenti berjuang. Yang kedua, yang jauh lebih berbahaya, adalah ketika ia berhenti bermimpi. Ernest Hemingway menuliskan keduanya melalui dua tokoh yang sama-sama berhadapan dengan kematian, tetapi memilih jalan yang berbeda dalam memaknai hidup.

Tokoh pertama adalah Santiago, nelayan tua dalam The Old Man and the Sea. Setelah puluhan hari tidak mendapatkan seekor ikan pun, ia berlayar sendirian jauh ke tengah laut dan berhasil menaklukkan seekor marlin raksasa setelah pertarungan berhari-hari. Namun dalam perjalanan pulang, hiu-hiu menghabisi seluruh hasil tangkapannya hingga yang tersisa hanya kerangka ikan. Ia kembali ke pantai tanpa membawa kemenangan yang dapat dijual, tetapi membawa sesuatu yang jauh lebih mahal: harga diri seorang manusia yang tidak menyerah kepada nasib.

Tokoh kedua adalah Harry dalam The Snows of Kilimanjaro. Ia seorang penulis berbakat yang sekarat akibat gangren di tengah sabana Afrika. Menjelang ajal, ia tidak menyesali hartanya, bukan pula kegagalannya mencari nafkah. Yang menghantuinya justru semua karya besar yang tidak pernah ia tulis. Ia sadar telah menggadaikan bakatnya demi kenyamanan hidup. Ia mati bukan karena kehabisan waktu, melainkan karena terlalu lama menunda panggilan hidupnya.

Dua tokoh itu seperti dua cermin yang diletakkan Hemingway di hadapan kita. Santiago mengajarkan bahwa manusia bisa kehilangan hasil perjuangannya tanpa kehilangan martabatnya. Harry mengingatkan bahwa seseorang bisa memiliki segala kenyamanan, tetapi kehilangan makna hidup karena mengkhianati potensi yang dimilikinya.
Di situlah Hemingway seolah sedang mengadili kita. Jangan-jangan kita bukan sedang kalah oleh keadaan, melainkan kalah oleh rasa nyaman. Kita tidak berhenti karena kehabisan tenaga, tetapi karena kehilangan alasan untuk terus mendaki.

Kita hidup pada zaman yang memuja hasil instan. Orang lebih sibuk memamerkan pencapaian daripada membangun kemampuan. Media sosial membuat kemenangan tampak murah, padahal perjuangan selalu mahal. Banyak orang ingin menjadi pemenang, tetapi sedikit yang rela menjalani proses panjang yang berliku.
Dalam hidup, akan selalu ada "hiu-hiu" yang menggerogoti hasil kerja kita: fitnah, kegagalan, pengkhianatan, penyakit, usia, bahkan waktu. Kita mungkin tiba di pantai hanya dengan membawa "kerangka" dari perjuangan panjang. Namun kerangka itu menjadi bukti bahwa kita pernah berani menantang samudra, bukan sekadar berdiri di tepi pantai sambil mengeluh.

Sebaliknya, tidak ada tragedi yang lebih sunyi daripada dikubur bersama mimpi-mimpi yang tidak pernah diperjuangkan. Dunia kehilangan gagasan yang seharusnya lahir. Anak-anak kehilangan teladan. Bangsa kehilangan sumbangan pemikiran. Sejarah kehilangan nama yang seharusnya meninggalkan jejak.

Karena itu, jangan ukur hidup hanya dari apa yang berhasil kita miliki. Ukurlah dari apa yang berani kita perjuangkan. Hasil sering berada di luar kuasa kita, tetapi keberanian untuk tetap berjuang sepenuhnya berada dalam pilihan kita sendiri.

Usia bukan alasan untuk berhenti. Santiago membuktikan bahwa tubuh boleh menua, tetapi semangat tidak mengenal umur. Harry mengingatkan bahwa kematian tidak pernah menunggu sampai semua rencana selesai. Waktu selalu bergerak lebih cepat daripada penyesalan.

Irfadin telah menunaikan pilihannya dalam menempuh jalan perjuangan yang berliku dan penuh jatuh bangun. Ia pernah dipercaya menjadi anggota DPRD, pernah pula diberhentikan dari partainya. Ia kemudian memasuki dunia pertambangan—sebuah dunia yang tidak pernah dipelajarinya di bangku kuliah. Mungkin ia tidak meninggalkan pencapaian menjulang yang dapat dipamerkan kepada dunia. Tetapi, seperti Santiago, saya tahu ia pernah mengayuh perahunya jauh ke tengah samudra. Ia pernah melawan ombak, menghadapi hiu-hiu ganas, dan memilih tetap berjuang di tengah kerasnya kehidupan.

Selamat jalan, kawan. Semoga Allah mengampuni segala khilafmu, menerima seluruh amal baikmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Kami yang masih tinggal akan selalu mengenangmu, bukan karena engkau tak pernah jatuh, tetapi karena engkau memilih untuk terus bangkit dan melanjutkan perjalanan.

YB 050726