Dialog Lintas Generasi Bahas Ekologi, AI, dan Masa Depan Nusantara di Purbalingga
Purbalingga,JatimUPdate.id - Kerabat Pendopo Majapura bersama Kerabat Nusantara Bangkit menggelar Ngopi Bareng & Dialog Budaya Lintas Generasi bertema "Menakar Masa Depan Nusantara: Integrasi Ekologi, Teknologi, dan Narasi Lokal di Era Digital" di Pendopo Majapura, Desa Majapura, Bobotsari, Purbalingga.
Forum yang diikuti sekitar 120 peserta dari kalangan anak muda, pegiat lingkungan, budayawan, akademisi, aparatur pemerintah, tokoh agama, praktisi media, dan masyarakat umum ini menjadi ruang dialog untuk mempertemukan kearifan lokal, pelestarian lingkungan, dan perkembangan teknologi digital.
Dipandu Ki Aji Bagus Dharmawan, diskusi menyoroti pentingnya menjembatani kesenjangan budaya yang dialami generasi digital melalui penguatan identitas lokal.
Forum juga menegaskan empat fokus utama, yakni penguatan budaya sebagai identitas dan modal sosial, konvergensi budaya dan teknologi, resiliensi ekologi-budaya, serta transfer pengetahuan antargenerasi.
Pemantik pertama, Adhitiyas Bagus, membahas Digital Humanities dan Cultural Branding.
Menurutnya, kecerdasan buatan dan teknologi digital dapat menjadi sarana memperkuat budaya lokal apabila dimanfaatkan tanpa menghilangkan nilai-nilai yang diwariskan leluhur.
"Teknologi semestinya menjadi alat untuk memperkuat akar budaya lokal, bukan menggerusnya. Tantangannya adalah membungkus narasi leluhur dengan bahasa yang akrab bagi generasi digital tanpa mereduksi nilainya," ujarnya.
Pemantik kedua, Indaru S. Nurprojo, dosen FISIP Universitas Jenderal Soedirman sekaligus Ketua Komunitas Dharma Bhakti Patanjala, menekankan bahwa keberhasilan konservasi lingkungan tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga pada kesadaran budaya yang hidup di masyarakat.
Ia menjelaskan pelestarian mata air selama ratusan tahun ditopang oleh sastra lisan, simbol, folklor, dan pola perilaku masyarakat.
Oleh sebab itu, unsur budaya harus menjadi bagian utama dalam setiap kebijakan konservasi.
Forum turut menegaskan pentingnya kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, pegiat budaya, pegiat lingkungan, media, dan generasi muda agar hasil dialog dapat diwujudkan dalam aksi nyata.
Panitia menyatakan kegiatan serupa akan digelar secara berkala sebagai ruang dialog lintas generasi sekaligus penguatan gerakan pelestarian budaya dan ekologi di Purbalingga. (Rilis/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat