Mahkota Para Bayangan (Bagian V)

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi cerita pendek Mahkota Para Bayangan
Ilustrasi cerita pendek Mahkota Para Bayangan

JatimUPdate.id - Elena mematung di balik dinding ruang tamu, genggamannya semakin kuat pada selembar kartu remi yang baru saja ia temukan di rumah Arman. 

Dari balik jendela, bayangan seseorang melintas perlahan. Langkahnya tenang, tidak tergesa-gesa, seolah yakin rumah itu sudah tidak lagi memiliki penghuni yang mampu melawan.

Suara gagang pintu terdengar sekali lagi, Elena tidak bergerak, pengalaman bertahun-tahun mengajarinya kepanikan musuh pertama seorang operator. 

Padahal orang yang berada di luar sana belum tentu mengetahui keberadaannya, dan kesalahan sekecil apa pun justru akan membocorkan posisinya.

Beberapa detik berlalu, langkah kaki itu menjauh, mesin mobil kembali menyala, lalu perlahan meninggalkan rumah tua tersebut. 

Elena baru berani mengembuskan napas ketika suara kendaraan benar-benar menghilang di ujung jalan.

Ia segera keluar melalui pintu belakang, hujan pun mulai reda, menyisakan aroma tanah basah yang memenuhi udara malam. Namun pikirannya jauh lebih kacau daripada cuaca di sekelilingnya.

Rumah Arman bukan hanya tempat tinggal seorang pensiunan agen. Di sanalah selama bertahun-tahun berbagai informasi sensitif disimpan. 

Jika seseorang berani mengacak-acak rumah itu tanpa meninggalkan banyak jejak, orang tersebut mengetahui dengan pasti apa yang sedang dicari.

Pertanyaannya kini bukan lagi ke mana Arman menghilang, melainkan, apakah Arman masih hidup? Perjalanan pulang justru membawa Elena kembali pada kenangan yang selama ini berusaha ia kubur.

Dua belas tahun sebelumnya, ia masih menjadi peserta pelatihan operasi intelijen di sebuah fasilitas terpencil yang tidak tercantum di peta umum. 

Selama berbulan-bulan, para peserta tidak diajarkan cara menembak lebih dulu. Justru dipaksa mempelajari manusia, diminta menghafal ekspresi wajah ketika seseorang berbohong.

Membedakan senyum tulus dan senyum yang dibuat-buat, mengenali perubahan nada suara ketika rasa takut mulai muncul.

Instruktur mereka selalu mengatakan peluru hanya mengakhiri satu kehidupan, tetapi informasi dapat menghancurkan ribuan kehidupan sekaligus. Arman adalah salah satu pengajar terbaik di tempat itu.

Ia jarang meninggikan suara, cara mengajarnya sederhana, tetapi setiap kalimatnya selalu melekat di kepala para peserta.

Suatu malam, seluruh peserta dikumpulkan di sebuah ruangan tanpa jendela. Tak ada layar presentasi, papan tulis, hanya selembar kartu remi di atas meja.

Tak seorang pun memahami maksudnya, Arman membiarkan keheningan memenuhi ruangan sebelum akhirnya berbicara.

"Selama kalian mengikuti pelatihan, kalian akan belajar menyusup, mengumpulkan informasi, membangun identitas palsu, dan memengaruhi keputusan orang lain. Kalian mungkin merasa suatu hari akan menjadi operator terbaik. Namun ada satu pelajaran yang tidak akan pernah diajarkan dalam modul," kata Arman.

Semua peserta memperhatikan dengan saksama, Arman mengangkat kartu remi itu perlahan.

"Kalau suatu hari, dalam sebuah operasi, kalian menemukan benda seperti ini di lokasi kejadian, jangan menganggapnya sebagai kebetulan," jelas Arman.

Seorang peserta mengangkat tangan. "Apa arti kartu itu, Pak?" Arman tidak langsung menjawab.

Ia justru menatap seluruh ruangan, memastikan setiap orang mendengarkan.

"Jangan pernah bertanya apa artinya, kalian tidak akan memperoleh jawaban. Yang perlu kalian pahami hanya satu, jika kartu ini muncul, berarti ada pihak lain yang telah mengambil alih permainan," urai Arman.

Ruangan menjadi sunyi, mereka saling pandang seolah ingin mencari jawaban dari teman-temannya di sekitar.

"Apakah mereka musuh?" tanya peserta lain, Arman menggeleng.

"Itu pertanyaan yang salah, dalam dunia ini tidak semua orang dapat disebut musuh atau kawan. Ada pihak-pihak yang hanya bergerak mengikuti kepentingan mereka sendiri hari ini mereka bisa membuat seseorang menjadi pahlawan. Besok, mereka bisa menjadikannya pengkhianat. Mereka tidak membutuhkan seragam, tidak membutuhkan bendera, dan tidak membutuhkan pengakuan." Arman menjelaskan dengan gamblang.

Seorang peserta kembali bertanya, "Apakah Bapak pernah bertemu mereka?" Arman tersenyum tipis.

"Saya tidak pernah melihat wajah mereka, saya hanya melihat akibat dari pekerjaan mereka," kalimat itu menjadi penutup pelajaran malam itu.

Sejak saat itu, Elena berharap tidak akan pernah menemukan kartu remi dalam operasi mana pun.

                             ***

Suara klakson dari kendaraan lain membuyarkan lamunannya. Lampu lalu lintas berubah hijau, Elena kembali fokus mengemudi menuju apartemennya.

Sesampainya di sana, ia langsung membuka komputer yang selama ini tidak pernah terhubung ke jaringan internet umum. 

Seluruh catatan tentang Adrian, Damar, dan pertemuan-pertemuan beberapa bulan terakhir kembali ia susun.

Semakin lama diperiksa, semakin banyak kejanggalan yang muncul, terdapat jadwal pertemuan Damar yang tidak pernah tercatat secara resmi.

Ada sejumlah transaksi keuangan yang berhenti mendadak setelah Adrian mengumumkan rancangan kebijakan transparansi anggaran.

Selain itu, ada pula beberapa tokoh yang tampaknya tidak saling mengenal, tetapi selalu muncul dalam waktu yang hampir bersamaan di berbagai peristiwa penting.

Potongan-potongan itu belum membentuk gambar utuh. Namun Elena mulai melihat pola, seseorang sedang mendorong Damar untuk mengambil keputusan-keputusan yang lebih berani.

Seseorang pula yang membuat operasi terhadap Adrian berkembang jauh melampaui tak hanya cuma persaingan politik.

                             ***

Di gedung parlemen, Adrian belum pulang meski hari telah larut, ia duduk sendirian di ruang kerjanya sambil memandangi berkas-berkas rancangan undang-undang yang belum selesai dibahas.

Rendra masuk membawa secangkir kopi, sekaligus membuka percakapan.

"Pak, sejak beberapa hari terakhir saya menerima banyak telepon dari nomor yang tidak dikenal. Mereka tidak pernah berbicara. Begitu saya mengangkat telepon, sambungan langsung diputus," kata Rendra.

Adrian meletakkan pulpennya, sambil meminta asistennya tidak panik, tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa. 

Kendati begitu, ia menekankan meningkatkan kewaspadaan utamanya bagi sosok yang tidak dikenal.

"Itu bukan teror, itu cara seseorang memastikan kita mulai merasa diawasi," kata Adrian sambil menyeruput kopi hitam.

Rendra cuma bisa menghela napas, akan tetapi ia juga merasa heran, melihat ekspresi Adrian yang seolah tak merasa terganggu, bahkan menganggapnya sebagai sebuah ancaman.

"Kalau benar ada yang sedang memainkan ini semua, apa yang akan Bapak lakukan?" mendengar pertanyaan itu, Adrian cuma menatap keluar jendela, setelah itu ia mulai angkat bicara.

"Saya masuk politik bukan untuk mencari musuh. Tetapi kalau ada orang yang ingin meruntuhkan kepercayaan publik dengan kebohongan, saya tidak boleh diam, jabatan bisa hilang kapan saja. Yang tidak boleh hilang keyakinan masyarakat politik masih bisa dijalankan dengan cara yang benar," tutur Adrian.

Ucapan itu terkesan biasa, menggambarkan Adrian siap untuk menghadapi apapun risiko.

Namun bagi Rendra, menjadi mengapa begitu banyak orang memilih tetap berdiri di belakang Adrian, mereka tidak cuma mengikuti seorang legislator muda, tapi mengikuti harapan.

Dan harapan selalu menjadi sesuatu yang paling ditakuti oleh mereka yang telah lama menikmati kekuasaan.

                           ***

Sementara di tempat lain, Elena menutup layar komputernya. Untuk pertama kalinya sejak menerima tugas itu, ia tidak lagi bertanya bagaimana menjatuhkan Adrian.

Ia justru mulai bertanya apakah lelaki itu sebenarnya satu-satunya orang yang belum mengetahui betapa besar badai yang sedang bergerak ke arahnya.