Sang Hyang Penjaga Nusantara: Kala Naga dan Garuda Murka Menumpas Angkara

avatar Yuris. T. Hidayat
  • URL berhasil dicopy

Oleh: Hadipras 

JatimUPdate.id - Cerita dongeng ini dibuat untuk para pemimpin negeri.
Sejak lembar awal sejarah terbentang, Nusantara tak pernah tanpa penjaga. Di balik hutan lebat, palung samudra, dan deretan gunung api, bersemayam dua kekuatan adidaya: Naga Nusantara yang menguasai bumi dan air, serta Garuda Nusantara yang membentang di angkasa. 

Keduanya bukan mitos pengantar tidur, melainkan simbol kosmis keseimbangan—pengikat antara bumi dan langit yang mengawasi gerak manusia di pertiwi.

Dalam tradisi leluhur, Naga dan Garuda adalah hukum alam yang adil. Naga merepresentasikan stabilitas lempeng dan kesuburan yang menghidupkan, sementara Garuda melambangkan kedaulatan, cahaya matahari, dan kebebasan dari penindasan. Keduanya hidup harmonis, membiarkan manusia merawat bumi dengan bijaksana dan nurani bersih.

Namun, di antara keduanya, terselip gema purba yang lebih mengerikan—bisikan Sang Hyang Wewadi Purba, yang telah bersemayam sejak daratan Nusantara pertama terangkat dari dasar samudra. Ia bukan abdi raja, melainkan saksi bisu atas setiap sumpah yang diucapkan manusia di atas tanah pertiwi. Sabda purbanya bergema: "Jika kelak penghuni pertiwi melupakan pamor dan keadilan, jika tanah ini dijadikan ladang daging bagi serigala-serigala berjubah kekuasaan, maka aku akan membangunkan Naga yang tertidur di bawah candi dan Garuda yang menyamar di puncak gunung. Mereka akan bangkit bukan untuk menghakimi, melainkan untuk MEMANGSA." 

Bisikan itu tak tertulis di prasasti, melainkan tertanam di getaran dasar samudra, desir angin puncak purba, dan denyut setiap batu Nusantara. Sang Hyang Wewadi Purba tak pernah lenyap—ia hanya diam, menunggu saat yang tepat untuk menggema kembali.
Kesabaran makhluk supranatural punya batas. Ketika keserakahan merajalela—para penguasa lalim dan oligarki hitam merampas hak rakyat, menjarah alam, dan kejahatan struktural melampaui batas kemanusiaan—getaran kemarahan terasa dari perut bumi hingga langit. Pada malam bulan sabit berdarah, Sang Hyang Wewadi Purba menggema kembali—bukan sebagai sekadar bisikan, tetapi sebagai guntur penagih janji.

Saat kejahatan keterlaluan, Naga Jawa bangkit dari dasar bumi. Di sisinya, Sang Hyang Wewadi Purba berbisik, "Ini bisikanku sejak purba—tunjukkan bahwa dosa tak selamanya tersembunyi di balik tembok istana." Naga menggetarkan tanah dengan api kemarahan, membakar benteng para penjahat. Lilitan tubuhnya meremas gedung pencakar langit yang berdiri di atas tangisan rakyat, menjadikannya puing seperti istana angkara masa lalu. Bersamaan, Garuda Nusantara melesat dari langit, menyambar dengan cakar berapi, menyapu bersih pelaku kejahatan tanpa ampun. Di sayap kirinya, Sang Hyang Wewadi Purba melayang tanpa wujud, menyaksikan dengan keheningan yang membuat tulang belakang bergetar—karena ia tahu eksekusi ini telah ditulis sejak awal penciptaan.

Amukan ini bukan kebencian, melainkan pemurnian untuk mengembalikan keadilan dan menyucikan bumi dari angkara murka. Namun, yang lebih seram adalah Sang Hyang Wewadi Purba tak pernah memaafkan. Janjinya bukan peringatan—ia putusan final. Saat Naga dan Garuda usai, yang tersisa keheningan mencekam: bumi bergetar, langit menghitam, dan di kejauhan terdengar tawa panjang memudar—tawa Sang Hyang Wewadi Purba yang menagih lunas setiap butir kejahatan sejak zaman purba.

Dongeng ini cermin bagi nurani kita. Sekuat apa pun tirani bersembunyi di balik topeng kuasa, alam melalui hukum moral—disimbolkan amukan Naga dan Garuda, bersama rakyat yang tertindas—akan selalu meruntuhkan kebatilan dan menegakkan keadilan. Dan Sang Hyang Wewadi Purba? Ia tak pernah tidur. Ia hanya menunggu waktu membisikkan nama-nama yang kelak dijemput cakar dan api. Karena bisikan purba yang disumpahkan ke tanah akan terus bergema, bahkan setelah seribu matahari padam. 

(Dongeng fiksi jelang 17 Agustus 2026).