Warkop Ekspektasi Bagian 10: Luka yang Tertinggal
JatimUPdate.id - Hari-hari setelah percakapan di warung kopi telah berlalu. Namun semuanya tanpa perubahan yang berarti.
Bahar Khan dan Ayu Chen tetap menjalani kehidupan sebagaimana biasanya, masih saling menyapa setiap pagi, makan di meja yang sama, dan masih berbagi atap yang sama.
Kendati begitu keduanya memahami kebersamaan itu perlahan mulai kehilangan makna yang sejak dulu mereka rasakan. Keduanya saat ini lebih banyak tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Bahar Khan tidak lagi berusaha mencari jawaban atas semua yang terjadi. Ia memilih memberi ruang kepada Ayu Chen untuk menenangkan dirinya.
Dari sudut pandangnya, keputusan besar tidak sepatutnya lahir dari tekanan ataupun rasa kasihan.
Sementara itu, Ayu Chen semakin banyak menghabiskan waktu dalam kesunyian, beberapa kali ia membuka lemari kecil yang menyimpan album foto mereka.
Di dalamnya tersimpan potret sederhana saat akad dilangsungkan bertahun-tahun silam. Dimana saat itu, mereka sepakat tidak ada pelaminan megah, pesta mengundang ratusan orang.
Yang ada hanya beberapa wajah yang menjadi saksi ketika seorang mudin mengikat mereka dalam sebuah janji.
Namun, foto itu tidak lagi membuat Ayu Chen menangis, malah menghadirkan rasa syukur karena pernah melewati masa-masa yang begitu indah bersama Bahar Khan.
Sayangnya rasa syukur itu tidak mampu menghapus kenyataan perjalanan mereka telah berubah.
***
Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat, Ayu Chen meminta Bahar Khan duduk bersamanya di ruang tamu.
Di ruang tamu itu, tidak dak ada nada tinggi, amarah, suasananya justru terdengar lebih tenang daripada sebelumnya.
"Bahar, Aku sudah memikirkan semuanya," ucapnya perlahan, Bahar Khan mengangguk, ia tidak menyela.
"Aku bersyukur pernah menjadi bagian dari hidupmu, banyak hal baik yang kupelajari selama kita bersama. Kesabaranmu, ketulusanmu, dan caramu menghadapi hidup akan selalu kuingat," tutur Ayu Chen.
Ayu Chen berhenti sejenak, tatapannya jatuh ke lantai.
"Tetapi aku tidak ingin kita terus bertahan hanya karena takut mengakhiri," tambah Ayu Chen.
Ayu Chen menahan napas dalam-dalam, sementara Bahar Khan mendengarkan secara seksama meskipun terdengar biasa.
Bahar Khan juga tahu setiap kata yang dibeberkan Ayu Chen begitu berat. Namun ia juga membiarkan Ayu Chen mengungkapkan kegundahannya, tanpa memotongnya. Hingga Ayu Chen menyatakan siap berpisah, ingin menghitamkan segalanya, dan harapan yang mereka bangun.
"Aku ingin kita berpisah dengan baik-baik," kata Ayu Chen.
Rumah kembali sunyi, Bahar Khan memejamkan mata beberapa saat, sebenarnya, sejak beberapa waktu terakhir ia telah menduga kalimat itu pada akhirnya akan diucapkan Ayu Chen.
Kendati begitu, mendengarnya secara langsung tetap menghadirkan luka yang sulit dijelaskan, meskipun secara mental Bahar Khan sangat siap.
Maka Bahar Khan pun tidak marah, tidak pula berusaha menyalahkan Ayu Chen.
Baginya, cinta tidak pernah bisa dipertahankan oleh satu orang saja.
"Apa keputusanmu sudah bulat?" tanyanya pelan.
Ayu Chen menganggukkan kepala.
"Sudah!" jawabnya singkat.
Bahar Khan menarik napas panjang, dalam benaknya terlintas begitu banyak kenangan, tentang pertemuan pertama, secangkir teh setelah akad sederhana, impian membangun keluarga kecil.
Pun tentang dua kali harapan yang gugur sebelum sempat lahir ke dunia, Bahar Khan tidak pernah menyalahkan Ayu Chen atas kehilangan itu.
Ia juga tidak pernah menganggap kehadiran anak sebagai ukuran kebahagiaan rumah tangga.
Namun ia memahami dua peristiwa tersebut meninggalkan luka yang sangat dalam bagi perempuan yang dicintainya.
Luka itu perlahan mengubah cara Ayu Chen memandang hidup, memandang dirinya sendiri, dan akhirnya memandang rumah tangga mereka.
Mungkin, seandainya takdir berjalan berbeda, kehidupan mereka pun akan berbeda. Namun hidup tidak pernah memberi kesempatan kepada manusia untuk mengulang jalan yang telah dilewati.
"Kalau itu yang membuatmu lebih tenang, aku akan menghormatinya," ujar Bahar Khan.
Ayu Chen menundukkan kepala, air matanya jatuh tanpa suara, untuk pertama kalinya, mereka menangis bukan karena bertengkar, melainkan karena sama-sama sadar tidak semua cinta dapat dipertahankan sampai akhir.
***
Beberapa minggu kemudian, mereka memilih menjalani kehidupan masing-masing, perpisahan itu berlangsung biasa saja, sebagaimana sederhana pula awal mereka membangun rumah tangga.
Tidak ada pertengkaran, saling membuka aib. Yang ada hanyalah dua orang yang memilih mengakhiri perjalanan dengan tetap menjaga hormat satu sama lain.
***
Pada suatu senja, Bahar Khan kembali mengendarai motor tuanya menuju Warkop Ekspektasi, ia duduk di kursi yang dahulu sering ditempatinya.
Memesan secangkir kopi hitam, menghirup aromanya perlahan, di hadapannya, sebuah kursi kosong tetap dibiarkan tanpa penghuni.
Bahar Khan tersenyum tipis, ia akhirnya mengerti hidup bukan tentang mempertahankan semua yang pernah dimiliki.
Ada saatnya seseorang harus belajar melepaskan, bukan karena cintanya telah habis, melainkan karena cinta juga mengajarkan keikhlasan.
Senja perlahan turun, kopi di hadapannya mulai dingin, sementara Warkop Ekspektasi tetap berdiri, menjadi saksi setiap pertemuan akan selalu memiliki akhir, dan setiap akhir, pada waktunya, akan menjadi awal bagi perjalanan yang baru.
Editor : Redaksi