Subuh yang dingin, Kamis (10/09/26)
PULANG
Oleh Taufiq F. Pasiak
Penyuka kopi dan traveling
Seharusnya kami sudah pulang pada Minggu malam, 6 September 2026. Semua sudah tersusun rapi. Dari Penang kami menuju Kuala Lumpur, lalu dari KLIA terbang dengan pesawat Batik Air menuju Jakarta pukul 20.30.
Sejatinya, ini sebuah perjalanan pulang yang sederhana. Setidaknya begitu yang ada dalam itinerary kami.
Amazing, semburan larva sebuah gunung mengubah itenerary sederhana menjadi rumit minta ampun.
Erupsi anak Krakatau mengubah segalanya.
Jadwal yang beberapa hari sebelumnya terasa begitu pasti diyakini ada dalam kendali kami, tetiba kini menjadi sesuatu yang tak bisa kami jangkau lagi.
Minggu malam (06/09/2026) kami batal berangkat. Kami lalu bersepakat tiket dipindahkan ke Senin (07/09/2026) . Kami menunggu dan membaca perkembangan, mencoba menghitung pelbagai kemungkinan.
Sayangnya, hingga Senin malam, keadaan belum juga membuat kami yakin bahwa penerbangan menuju Jakarta akan berjalan seperti yang kami harapkan.
Kami menggesernya sekali lagi ke Selasa (08/09/2026).
Awalnya kami masih memegang tiket Batik Air menuju Jakarta. Ada semacam harapan bahwa kali ini semuanya akan selesai. Justru, semakin kami mengikuti keadaan, semakin terasa bahwa bertahan dengan rencana yang semula bukan keputusan yang bagus.
Selasa pagi (9/09/2026), sekira pukul 09.00 Penang, kami mengambil keputusan baru; Tiket Batik Air itu kami batalkan (cancelled)
Kami membeli tiket baru AirAsia dari Penang menuju Surabaya, yang mengubah rute. Artinya, kami membayar lagi untuk sebuah perjalanan yang sebelumnya sama sekali tidak ada dalam rencana.
Jakarta yang seharusnya dicapai secara langsung kini harus ditempuh melalui Surabaya.
Alhamdulillah, Selasa pukul 18.00 pesawat kami benar-benar meninggalkan Penang. Secara geografis dan spasial kami tentu akan berpindah.
Sekitar pukul 20.00. WIB malam kami tiba di Surabaya. Belum Jakarta, apatah lagi rumah.
Kami menginap semalam. Keesokan harinya, Rabu (9/09/2026), perjalanan dilanjutkan menggunakan kereta api Agro Anggrek, menuju Jakarta. Pukul 09.00. WIB kereta bergerak dari Surabaya, dan dalam alam waktu sekitar 7 jam 45 menit dengan jarak tempuh kurang lebih 725 km, kami tiba St.Gambir-Jakarta. Secara geografis, saya akhirnya pulang. Fisik saya di area spasial yang memang saya tuju.
Masya Allah, selama perjalanan yang memutar itu saya mulai bertanya: apakah pulang memang sesederhana kembali ke Jakarta? nSaya semakin merasa tidak.
******
Kita sering memahami pulang berdasarkan alamat. Rumah adalah sebuah titik pada peta. Jakarta adalah tujuan. Penang adalah tempat yang ditinggalkan. Surabaya hanyalah persinggahan. Kereta membawa kita mendekati rumah kilometer demi kilometer. Semakin dekat jaraknya, semakin dekat pula kita mengatakan diri kita “pulang”.
Faktanya, manusia tidak hanya hidup dalam ruang geografis.
Ada perjalanan lain yang tidak dapat ditunjukkan Google Maps. Tidak terlihat pada layar keberangkatan bandara, tertulis di tiket pesawat dan tidak dapat dihitung berdasarkan berapa kilometer yang masih tersisa.
Itulah perjalanan kembali kepada diri sendiri.
Saya berpikir tentang itu sepanjang waktu manakala berada di Penang, surabaya hingga Jakarta saat membuat tulisan ini.
Kita menghabiskan begitu banyak bagian kehidupan dengan menjadi sesuatu.
Menjadi dokter. Menjadi dosen. Menjadi dekan. Menjadi pimpinan. Menjadi ayah. Menjadi suami. Menjadi kolega. Menjadi orang yang harus mengambil keputusan. Menjadi orang yang diharapkan mampu memberikan jawaban ketika orang lain tidak tahu harus berbuat apa.
Semua identitas itu benar. Semuanya bagian dari diri kita. Jika saja kita sadari, semakin lama, ada bahaya kecil yang jarang kita sadari karena kita mulai mengira bahwa itulah diri kita seluruhnya.
Padahal bukan.
Jabatan adalah sesuatu yang ditempelkan kehidupan kepada kita. Gelar adalah sesuatu yang diperoleh. Kekuasaan adalah sesuatu yang dipercayakan.
Reputasi dibentuk oleh pandangan orang lain. Bahkan berbagai keberhasilan yang dengan bangga kita ceritakan sesungguhnya hanyalah bagian kecil dari perjalanan yang suatu hari akan kita tinggalkan.
Perjalanan pulang dari Penang seperti memberi saya kesempatan untuk melihat semua itu dari jarak tertentu.
Di bandara dan gunung tidak mengenal siapa yang dekan dan siapa yang bukan. Abu vulkanik tidak peduli dengan kartu nama yang kita bagikan. Jadwal penerbangan tidak berubah karena seseorang mempunyai gelar panjang.
Ketika pesawat tidak dapat membawa kami pulang, kami semua kembali menjadi manusia biasa. Sama sama melihat layar telepon, mengecek penerbangan, membuka koper lagi, mencari tiket baru, menghitung waktu, berdiskusi, menunggu.
Ini pengalaman berharga. Karena ada saat-saat ketika kehidupan perlu melucuti manusia dari atributnya agar ia dapat melihat dirinya sendiri.
Di kantor, kita mudah berlindung di balik jabatan. Dalam ruang rapat kita berbicara berdasarkan posisi. Ada meja, struktur organisasi, protokol, disposisi, undangan, keputusan.
Semua orang memiliki tempatnya, tetapi dalam sebuah perjalanan yang terganggu, struktur itu mencair.
Kita makan bersama. Kita menunggu bersama. Kita kebingungan bersama. Kita tertawa pada hal-hal kecil. Semua itu kami alami setidaknya selama 2 hari di Penang.
Kita mulai mengetahui siapa yang mudah gelisah, siapa yang tetap tenang, siapa yang segera mencari jalan keluar, siapa yang bisa membuat suasana lebih ringan ketika semua orang sudah lelah.
Pada saat seperti itu, saya tidak lagi terutama melihat jabatan seseorang. Saya melihat manusia. Dan mungkin sesungguhnya kami juga sedang melihat diri kami sendiri.
Ada juga satu hal lain yang saya pelajari. Kita ternyata jauh lebih melekat kepada kendali daripada yang kita sadari.
Kita senang ketika kehidupan berjalan mengikuti itinerary. Pukul sekian harus berangkat. Pukul sekian harus tiba. Besok rapat ini. Lusa kegiatan itu. Kalender penuh sering bahkan memberikan perasaan bahwa hidup kita penting.
Lalu tiba-tiba sebuah gunung meletus. Semua jadwal menjadi tidak berarti.
Yang lebih menarik, kegelisahan kita bukan selalu karena masalahnya begitu besar.
Kadang-kadang kita gelisah karena kenyataan tidak lagi berjalan menurut rencana kita.
Saat saat beginian kehidupan seperti sedang berbisik; you boleh membuat rencana, tetapi jangan pernah mengira bahwa you memiliki kehidupan.
Kalimat itu menemani saya dalam perjalanan Surabaya–Jakarta di tengah gemirisik roda kereta dan kegaduhan kecil para penumpang di resto kereta.
Dari balik jendela kereta, Kota Surabaya bergerak perlahan di depan mata. Kota berganti kota. Sawah, rumah, jalan, pohon, stasiun kecil, orang-orang yang entah sedang menuju ke mana.
Tidak ada lagi kecepatan pesawat. Tidak ada lagi awan yang menutup bumi.
Kereta membuat perjalanan terasa panjang, tetapi mungkin justru karena itu perjalanan memberi waktu untuk berpikir.
Saya kemudian menyadari sesuatu.
Barangkali pulang adalah proses melepaskan. Sejenis katarsis tingkat dewa tentang eksistensi kita.
Melepaskan keinginan bahwa semua harus berjalan menurut rencana kita. Melepaskan kebutuhan untuk selalu menjadi orang penting.
Melepaskan gelar, jabatan, reputasi, dan semua lapisan yang tanpa disadari kita gunakan untuk menjelaskan siapa diri kita.
Pada akhirnya, setelah semua itu dilepas, lalu apa yang tersisa?
Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada kapan pesawat akan berangkat.
Saya membayangkan bahwa suatu hari nanti semua manusia akan mengalami perjalanan pulang yang jauh lebih besar. Pada saat itu kita tidak membawa jabatan. Tidak membawa gelar akademik. Tidak membawa ruang kerja. Tidak membawa kartu nama.
Bahkan nama besar yang dibangun bertahun-tahun akhirnya hanya menjadi kenangan di kepala orang lain.
Yang pulang hanyalah diri.
Mungkin itulah sebabnya perjalanan seperti ini penting.
Kami membutuhkan hampir tiga hari untuk menempuh perjalanan yang semestinya selesai dalam beberapa jam.
Minggu kami gagal pulang. Senin kami masih menunggu. Selasa kami mengubah rute, terbang ke Surabaya, dan menginap. Rabu kami menempuh berjam-jam perjalanan dengan kereta sebelum akhirnya Jakarta muncul di ujung perjalanan.
Saya memang kehilangan waktu kalender. Hebatnya, saya memperoleh ilmu kehidupan yang sejati..
Ketika akhirnya tiba di St. Gambir Jakarta Rabu sore, saya sadar ada dua kepulangan yang berbeda.
Yang pertama adalah pulang ke rumah.
Yang kedua adalah pulang kepada diri sendiri.
Yang pertama membutuhkan pesawat, hotel, kereta api, tiket, dan perjalanan ratusan kilometer.
Yang kedua hanya membutuhkan keberanian untuk bertanya; setelah segala sesuatu yang dunia tempelkan kepada saya dilepaskan—jabatan, gelar, kehormatan, kesibukan, keberhasilan, bahkan berbagai rencana yang saya banggakan—siapakah saya sebenarnya?
Mungkin kita harus pergi cukup jauh untuk menemukan pertanyaan itu.
Dan mungkin, sesudah begitu banyak perjalanan dalam kehidupan, kita akhirnya memahami bahwa rumah paling jauh yang harus kita tempuh ternyata bukan Jakarta, Manado, Penang, atau kota mana pun.
Rumah itu ada di dalam diri.
Karena hakikat pulang bukanlah ketika tubuh akhirnya sampai pada sebuah alamat.
Pulang adalah ketika manusia, setelah berjalan begitu jauh menjadi siapa saja bagi dunia, akhirnya berani kembali menjadi dirinya sendiri.
Editor : Redaksi