Catatan Mas AAS

Tahun Politik

Reporter : -
Tahun Politik
Catatan Mas AAS

Pagi ini agenda saya, sudah kayak orang yes saja: antar istri, datangi gedung layanan pendidikan tinggi wilayah 7 Jatim, membaca koran, juga tentunya membaca lalu lintas obrolan di WhatsApp yang sedang panas bahas cari calon "pemimpin" bagi negeri! Dan tak lupa harus cancel beberapa orderan ngojek, karena masih ada urusan yang lebih penting, hadiri wawancara di gedung terhormat!

Tidak di grup WhatsApp, di warkop, juga di gedung dan ruang akademik. Semua pada _rempong_ menjual kehebatan para junjungan nya masing-masing. Tidak tahu di bayar berapa oleh tuannya!

Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Bahwa pilihannya, bahwa yang ia dukung, bahwa yang ia puja, adalah orang terbaik di negeri ini! Lainnya jelek, atau jangan sampai namanya melambung, hasil survei nya terdongkrak mencuat ke atas!

Yang harus number one adalah junjungan saya titik!

Diskusi di ruang publik, apalagi menggunakan teknologi digital, di media sosial.

Sekali saja menyebut seorang nama, atau junjungannya, dan berhasrat menjualnya. Akan spontan langsung disambar menjadi kudapan renyah: disanggah, dipertanyakan, di _blejeti_ jejak digitalnya, dan siap-siap, diskusi tak ada ujung juga pangkal nya bakalan terjadi.

Tidak sekadar puluhan, bahkan ratusan, mungkin malah juga ribuan notifikasi akan terjadi sebagai pesan auto dari aplikasi. Contohnya saja aplikasi WAG (WhatsApp Grup).

Tidak kuat merasa bising, sila leave, tak merasa terganggu, ya dinikmati saja!

Spontan jemari kalau tidak clear text, kegaduhan yang tak berujung akan terjadi. Sama dengan kegaduhan jemari untuk meng cancel orderan grab pagi ini tadi!

Kadang hidup memang lucu. Tidak bakalan mampu berpikir jernih membahas junjungan, karena tiap orang sudah punya juga junjugan. Tidak masalah kalau jagoannya sama, kalau berbeda, ya jangan berharap bisa menerima perbedaan dengan legowo, meski dalam diskusi. Yang terjadi sama kaya mengejar layangan yang putus!

Pemilu dalam hitungan detik, menit, jam, bisa jadi masih lama dan apabila dihitung bilangan, digit nya masih banyak. Kalau dihitung tahun, baru sedikit hanya satu digit saja. Kurang satu tahun lagi.

Ya, memang dekat sekali, sedekat urat nadi kali ya, tapi kalau yang ini agak lebay!

Semua pendukung para junjungan masing-masing akan secara auto berkelompok. Dan semua akan keluarkan keahlian nya masing-masing. Buat sanggah, buat defence untuk tetap berdiri di garda terdepan bela junjungan nya hingga darah tertumpah, dan hasratnya untuk menang kesampaian.

Salah, jangan ngomong salah benar kalau membela junjungan!

Dapat apa itu, si pembela junjugan? Ya, kalau bukan kolega dan masuk ring satu, setengah, atau seperempat. Ya, paling hanya dapat musuh baru, tidak hanya satu, tapi musuhnya adalah kelompok! Mengerikan bukan?

Tapi itu fakta yang terjadi hari-hari ini. Mencoba membayangkan mendekati hari H acara demokrasi nanti, entah pilkada ataupun pilpres, cem mana kejadiannya. Apa yang bakalan terjadi? Mari kita tunggu sambil rebahan saja!

Tambah seru, runyam, dan berbagai bumbu, serta racikan untuk patahkan argumen kelompok lawan, demi membela junjungan akan masif terjadi.

Tone dalam diskusi yang muncul bukan membangun pertemuan ide dan juga pikiran. Kamu dukung siapa, aku dukung siapa! Itulah yang bakalan tampil di permukaan wajah ruang publik nantinya.

Sampai lebaran monyet akan kisruh terus! Boro-boro kalau junjungan menang dapat posisi menteri, atau komisaris! Lha dapatnya ya tetap jadi tukang ojek lagi, menggoreng sego lagi!

Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Tapi memang istilah pendukung sang junjungan, adalah hal yang biasa dan lumrah saja. Setiap orang punya hak itu. Dan dijamin oleh konstitusi.

Karena ini negara demokrasi, dalih yang kuat bukan untuk bertindak hal tersebut. Tapi bahwa, sudah siap mendukung, dan siap mendeklarasikan dukungannya secara terbuka.

Ya, harus siap-siap digoreng hingga kapan berakhirnya, penulis pun tidak tahu pastinya. Gorengan itu akan rampung!

Kalau goreng nasi Mbah Joyo, cukup lima menit, sudah siap itu nasi dimakan dan mengenyangkan. Dan tentunya rasa nasi goreng Mbah Joyo pastilah maknyus.

Lha, kalau menggoreng calon presiden, yang merupakan sang junjungan, dalam aras dunia politik. Sepertinya akan berlanjut tahun demi tahun!

Presiden dan tokoh politiknya, sudah ber haha-hihi dengan para lawan politiknya. Dilayani para emban duduk di kursi beralaskan karpet mewah.

Lha orang bawah dan para pendukung fanatiknya sang junjungan masih gontok-gontokan dengan dalih macam-macam! Kan ironis.

Tapi bagaimana lagi, itu yang terjadi?

Tarik Mangggggg, mending ngojek dulu saja. Bahas politik di ruang publik, bisa terjadi: piring, gelas, akan berpindah tempat secara cepat. Apabila pikiran serta hati tidak dingin.

Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Tetapi meski sudah mampu dingin pun, tak mampu akan bertahan lama. Kerena lawan yang dihadapi bukan mitra diskusi, tetapi kelompok pendukung yang berlawanan!

"Pokoknya junjungan kami yang harus menang!"

"Lah, kok, enak, terus junjungan saya?"

"Junjunganmu kurang cerdas!"

"Tahu apa, kamu, tentang kecerdasan seseorang!"

Diteruskan bisa berhari-hari, bahkan minggu, juga bulan, obrolan seputar jagoan neon alias cari pemimpin negeri, itu tak mudah berakhir akan berakhir begitu saja! Ketika peserta diskusinya tidak mendapat hidayah, upps!

Hanya doa penulis yang selalu dilantunkan ke langit, semoga negeri ini selalu aman, agar tukang ojek macam saya ini, mudah mencari orderan.

Itu saja...


AAS, 12 April 2023
Loby Gedung LLDIKTI Wil 7 JATIM

Editor : Nasirudin