Catatan Mas AAS

Memimpin Itu Menderita

Reporter : -
Memimpin Itu Menderita
Catatan Mas AAS

Barang siapa, yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita. Kehilangan kemerdekaannya sendiri! (Tan Malaka).

Pagii-pagi sudah menulis judul yang berat saja mas AAS? Bukan, hanya mengikuti gerak yang ada di dalam pikiran saja, apa yang terlintas diperjalanan saat antar istri ke kantornya di RS.Dokter Soetomo. Melihat banyak _baleho_ terpampang besar di tempat-tempat strategis kota pahlawan Surabaya.

Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Spontan ingin menulis sebuah judul tulisan seperti di atas! Yang terpampang di baleho itu para politisi atau manusia politik ya? Tanya dalam batin secara auto saja.

Jelek-jelek begini, dahulu pernah belajar tepatnya pernah sekolah *pendidikan politik* yang diadakan oleh sebuah organisasi, saat pernah kuliah S1 dahulu. 

Masih mengendap di ingatan kepala, bahwa pada hakekatnya manusia itu adalah *manusia politik* oleh karenanya ia digerakkan minimal oleh empat pemikiran, begitu kata salah satu pemateri pada acara tersebut.

Pertama, ia digerakkan oleh *ide*. Ide ini bisa diperoleh dari aktivitas: membaca, menulis, berdiskusi, dan banyak hal lainnya. Manusia politik harus mencintai ide dan memiliki hasrat yang tinggi untuk mewujudkan ide tersebut. 

Kedua, manusia politik itu seyogyanya harus *dekat* dengan rakyat. Berpolitik berarti harus berjuang untuk rakyat, mendengar keluh kesah serta mampu menawarkan solusi yang dihadapi oleh rakyat. Maka kedekatan dengan rakyat harus menjadi modal utama bagi manusia politik, agar tahu tentang apa yang dialami dan dirasakan oleh rakyat.

Ketiga, berorganisasi. Bagaimanapun manusia politik itu harus tahu serta paham dalam membuat dan menjalankan roda sebuah organisasi. Ini kemampuan mutlak yang wajib dimiliki. Menjalankan peran bahkan melibatkan dalam kegiatan yang membawa massa banyak bisa jadi mampu dilakukan oleh manusia politik bila ia memiliki rekam jejak pernah belajar berorganisasi, tanpanya ia akan _kapiran_ untuk bisa bergerak! Menggerakkan lokomotif massa gerakan.

Keempat, adalah *kehendak* untuk berkuasa. Ini yang sampai sekarang saya ingat betul, akan apa yang disampaikan oleh pemateri tersebut. Karena seorang *manusia politik* harus memiliki tujuan akhir dalam gerak dan gerakan hidupnya yaitu kehendak *berkuasa*. 

Sehingga ada sebuah slogan yang kerap penulis dapatkan bila _guyon maton parikeno_ dengan senior. Membahas perihal *politik*. Kadang senior memberi klue begini," Manusia politik yes, politikus no!"

Apa artinya? Menjadi manusia politik adalah kerja keras, ia harus memiliki: ide, dekat dengan rakyat, memiliki kemampuan berorganisasi, dan punya tujuan akhir yaitu berkuasa. Sayangnya kalau *politikus* hanya berharap-harap cemas segera pingin duduk di kursi dan berkuasa saja, tidak tahu setelah *duduk* ia harus ngapain, membela siapa, dan mengabdi untuk apa! 

Dan kembali kepada *banyak baleho* yang terpampang di jalan-jalan strategis kota pahlawan, pagi ini. Orang-orang yang berada di dalam baleho itu masuk katagori yang mana: manusia politik atau malahan seorang politikus semata. Biarlah mereka sendiri yang bakalan menjawabnya.

Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Toh, mereka telah memilih jalan itu. 

Karena, kita sebagai rakyat, tentu sudah memiliki sikap sendiri nantinya di bilik pemilihan, coblos tidak orang tersebut.

Sebagai seorang yang hidup dalam budaya Nusantara, kita acap kali mendengar tentang kredo menjadi seorang pemimpin. Memimpin dan jadi pemimpin itu adalah menderita. Memimpin dan jadi pemimpin itu adalah _laku hening_. Dirinya sendiri sudah harus sudah selesai dan melebur dengan keinginan serta kehendak untuk memakmurkan, mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya.

Pertanyaannya masih adakah manusia politik yang mau mengambil *peran* berat itu.

Jangan-jangan hanya karena mau duduk di kursi empuk, fasilitas mewah, rumah dinas megah, dan tunjangan berdigit banyak, minimal di atas dua bahkan tiga digit. Entahlah!

Sebagai warga dari bangsa yang tercinta ini, tentu merawat api optimisme dalam benak, masih kudu dilakukan.

Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Semoga semakin banyak anak negeri yang siap serta *sadar* mengambil serta melewati jalan penderitaan itu. Meski ditangan seorang *politikus* sikap seperti ini hanya akan dianggap _absurd_ atau bak pahlawan yang tengah mimpi di siang bolong! Untuk mengusung empat pilar pikiran menjadi seorang manusia politik di atas!

Ya, setidaknya pada pagi ini, sampah dalam ingatan di pikiran ini, telah semua dikeluarkan. Dalam sebuah tulisan. Plong sudah, hati ini.

Dan saatnya menjadi manusia biasa kembali. Kerja lagi, dan kerja lagi.

Demikian saja. Selamat pagi semuanya.

AAS, 8 Mei 2023

Karang Menjangan Surabaya

Editor : Redaksi