Catatan Mas AAS
Maturnuwun Gusti
Maturnuwun Gusti.
Penulis sengaja menulis judul dengan kalimat pembuka yang sama: Maturnuwun Gusti.
Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Karena sejatinya tak cukup ucapan maturnuwun ini, disampaikan dari bibir penulis, untuk mengungkapkan rasa bahagia, rasa senang, rasa terharu, akan semua sapaanNya, akan semua berkatNya, dan atas segala macam kenikmatan yang diterima oleh manusia.
Penulis bukan seorang ahli agama, sehingga dalam bentuk nya yang seperti apa, sehingga pagi ini penulis benar-benar dari lubuk *hati* yang terdalam mengucap rasa syukur kepadaNya. Sedikit mengajak pembaca juga turut melakukan hal yang sama seturut dan selaras kenikmatan yang telah di terima.
Mungkin hanya satu yang bisa secara spontan penulis sampaikan yaitu: diberikan materi *ilmu kehidupan* yang sangat begitu berarti bagi penulis untuk melanjutkan perjalanan dalam menjalankan peran dan tugas sebagai *manusia* di alam dunia yang fana ini.
Karena sejatinya tanpa petunjukNya: baik dalam bentuk informasi di firman kitab suci, juga kejadian di alam, dan lakon hidup sehari-hari yang mampu mengantarkan sang jiwa ini semakin, dan semakin _tresno_ sekali *Marang Gusti* dengan pemahaman yang bersifat individual dan privat sekali!
Saat menerima pelajaran privat Beliau, dalam satu hari saat berkegiatan di UB juga Malang selama satu hari full tanpa jeda kemarin, karena barusan saja masuk rumah di Rungkut Surabaya tadi tepat saat adzan Subuh berkumandang.
Subhanallah. Demi apa coba semua itu dilakukan? Jawaban *klise* mungkin demi untuk memantapkan dan memantapkan diri!
Tapi biar ada persepektif dan cerita yang runtut atas kejadian apa saja yang dialami penulis, dan dianggap sebagai sebuah sapaan dari semesta, tiap-tiap kejadiannya.
Baiklah melalui aksara sederhana ini meski tulisan terasa gado-gado isinya karena di tulis oleh penulis pada posisi kedua mata ini masih terasa _mbliyut_ kurang bobok soalnya!
Perihal ada kurang konsisten soal koherensi dan kohesivitas kalimat dan paragraf di dalam tulisan ini saat paparkan kejadian yang dialami kemarin mohon dimaklumi saja, maafkan saja sang *OJOL* ojek online yang tengah belajar menulis ini!
Kemarin tiba di kampus UB, tepat pukul 06:30 pagi langsung parkir *gerobak* di depan kopi tani. Tapi apa gerangan yang terjadi. Markas rutin saat cangkruk di UB itu pun tutup. Dan tidak tahu dari mana datangnya sing Mbau Rekso Fakultas Pertanian UB (Prof MP), sudah berada di depan penulis. Dan lalu diajak lah penulis ke kantornya yang mewah juga megah di sebuah *gedung* yang tinggi! Apa yang dibicarakan di kantornya kepada penulis, lebih tepatnya kami berdua berdiskusi guyon maton parikeno _ngerasani_ sing gawe Urip, dalam perspektif seorang leader, dan ilmu sosial. Tahu sendiri *DEKAN* FP UB ini adalah sosok ilmuwan muda yang *Gentur* tirakat perihal memamah ilmu pengetahuannya secara komplit: teori dan praktik, beliau jalani semua! Benar-benar seorang akademis yang bukan kaleng-kaleng menurut hemat penulis.
Sekira setengah jam berlalu, obrolan itu pun selesai. Apa kesimpulannya? Ya menguatkan kembali kepada kami berdua untuk terus *menanam* kebajikan di sawah dan ladang di alam semesta ini. Tak perlu _riweh serta rempong_ pikirkan kita dapat apa. Dan penulis cuman Mbatin saja, "prof MP enak, gak usah mikirin dapat apa, lha wong jelas-jelas sudah dapat kursi dan posisi Dekan begitu!" Glodak, langsung penulis melipir perlahan saja ke luar ruangan. Sebelum *di sawat sandal*
Sambi tertawa kecil menyatu dengan alam di UB yang banyak rumput menghijau dan pepohonan yang mulai memberikan oksigen di waktu pagi. Penulis melanjutkan bertemu dengan kolega di FTP UB, di bengkel KWU bertemu dengan Dr. DP. Dan *kitab teles* spontan mewarnai obrolan kami berdua di ruang kantor yang masih sepi itu, maklum masih jam 7 pagi, para karyawan masih dalam mode otw menuju kantor di UB. Namanya saja membahas kitab teles _panguripan_ tentu saja sub pokok bahasan beraneka macam yang kami bincangkan secara mengalir mulai dari: manajemen organisasi, manajemen individu, bahkan tak pelak juga membahas manuskrip yang terindeks di Scopus baik untuk artikel Q1 hingga Q4 tak luput dari obrolan gayeng tersebut, tak lupa segelas kopi tersedia di atas meja, plus *ubo rampe* liyane sing jangkep: udud plus camilan.
Dan sekira dua jam kami berdua berbicara ngalor-ngidul. Lalu kemudian penulis pamit mau ke Fakultas Ekonomi UB. Biasa menjalankan peran sebagai mahasiswa S3 akhir, follow up ke bagian ujian: kapan UAD nya!
"Dereng pak Andi, masih di koordinasikan waktunya yang pas dengan Tim Promotor dan Tim Penguji," begitu kata mbak Ririt di bagian daftar ujian fakultas!
Sabar begitu penulis menghibur diri sendiri. Sambil kembali membaca mantra berupa kalimat yang ada dalam firman Al-Qur'an yang menjelaskan manfaat dan benefitnya manusia yang *sabar*. Untuk menguatkan diri menghadapi kenyataan hidup sebagai mahasiswa doktoral di semester akhir, UAD belum jelas kapan dan pastinya diadakan. "Sabar mas bro," berkata kepada diri sendiri, menghibur diri sendiri, biar tidak pusing dan stres sambil berharap-harap cemas mikir kan bayar SPP nya bagaimana kalau molor UAD nya dari jadwal yang direncanakan yaitu pada bulan Juli 2023 ini! Tapi penulis masih memiliki *keyakinan* yang amat besar, target itu terpenuhi!
Dan waktu pun berjalan, sampai siang, urusan sekolah, beritanya belum pasti perihal UAD. Sabar, dan nikmati hidup saja di UB menjelang sore kemarin, pikiran penulis.
Dan _bolo blangkrak'an_ seniman terkenal dari UB, Malang, dan juga terkenal di Indonesia yaitu kakak Redy. Menelpon penulis. "Kakak, AAS, bisakah kakak meluncur ke Vokasi UB di Dieng," ujarnya!
"Ada apa kakak Redy, ke Dieng," apa mau *pijat*," glodak, gurau penulis.
"Bukan kakak AAS, kakak bisa bantu, kita adakan podkes nih! Kakak bisa jadi Narsum atau jadi hostnya nanti, tinggal pilih!"
"Oh, begitu, siap kakak Redy," sebentar lagi otw. Di saat itu penulis sedang menghadap kepada Gusti, untuk melapor kan semua kejadian yang telah penulis alami dan terjadi seharian ini, dan mohon petunjuk Beliau harus bagaimana! Dan akhirnya _krenteg_ itu ada, datangi saja undangan ke Vokasi, dan lihat apa yang *bakalan* terjadi selanjutnya! Dan krenteg, suara dari _telenge ati_ itu pun diikuti oleh penulis.
Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Di dunia ini tidak ada yang *kebetulan*. Singkat kata tibalah penulis di Dieng, di kampus 2 Vokasi UB. Bertemu lah penulis dengan kakak Redy, Prof HT, juga mitra podkes penulis yaitu mas Khoirul, mahasiswa doktoral dari Indonesia yang kuliah di China. Dan ternyata topik podkes kita adalah: "pernak-pernik kuliah di luar negeri". Tepat wis.
Dan podkes itu dimulai, kurang lebih dalam waktu 15-20 menit, penulis berperan sebagai host dan mas Khorul sebagai Narsum, berlangsung gayeng dan ramai. Tinggal nanti *pembaca* bisa menonton tayangan ulang via YouTube. Setelah di edit oleh kakak R dan tim nya!
Sehabis acara di podkes, penulis pun pamit ke tuan rumah. Yaitu pejabat wakil dekan 2 Vokasi UB, Prof HT. "Prof HT, saya pamit dahulu njih, tugas sudah saya laksanakan, tinggal bayarannya saya tunggu ya, ajur Mina hahaha!"
Dan Prof HT, hanya bisa ngekek tertawa terbahak saja. Dan sore itu begitu indah suasana di alam Dieng Malang, bisa jadi karena kami semua yang di situ, isinya tertawa terus, sehingga bisa mempengaruhi alam semesta juga turut bahagia merasakan hal yang sama!
Dan cerita pun berlanjut, menuju ke puncaknya. Dan penulis masih mengikuti jalan dan *alur* nya semesta saja. Tanpa mau bertanya apalagi *berani* menginterupsi, apa maksud semua ini, bisa kualat.
Penulis pun berjalan menuju parkiran di kampus Vokasi 2, setelah penulis duduk di kursi sopir siap hidupkan *mesin* dan injak gas untuk melanjutkan perjalanan kembali pulang ke Surabaya setelah beraktivitas seharian di UB. Tetiba saja ada pesan masuk ke hape penulis!
Si pengirim pesan tertulis inisial teman SMP! "Sopo Iki," pikirku!
"Andi, aku di UB lho, di FEB ada acara AFEBI di situ," isi pesan nya begitu.
"Lho si pejabat wakil dekan 1 sebuah PTN di Solo itu, mrene ning UB Malang," batin si penulis.
"Lho awakmu ning UB ta," jawab penulis!
Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
"Iyo Andi! Aku ono acara ning Grand Mercure. Kita ketemuan yuk, Andi!"
"Waduh bahaya ini, lakon lawas bisa kejadian kembali, ampun ibu," jawabku ke konco lawas yang sekarang sudah menjadi pejabat kampus tersebut!
Dan akhirnya penulis pun menjawab," baik Bu Wadek, wait ya, 10 menit aku sampai lokasi!
Dan singkat kata, penulis pun akhirnya sampai di Grand Mercure, dan bertemu kembali anak SMP yang dahulu *tampak* unyu-unyu tersebut dan kini sudah berubah menjadi Associate Profesor yang smart dan semakin ...tak berani penulis untuk mengisi titik-titik nya, hahaha.
Dan tidak perlu penulis cerita kan panjang dan lebarnya saat bertemu konco lawas di SMPN I Boyolali tersebut. Namun yang menjadi berita selanjutnya yang membuat *penulis* seakan mau sujud ke tanah adalah ada kabar melalu wa dari bagian ujian, bahwa jadwal resmi UAD penulis sudah turun, dikabari saat pada waktu petang, sesaat penulis tengah bertemu dengan Bu Associate Profesor Dwi Prasetyani rekan penulis tersebut!
Subhanallah Alhamdulillah Allahu Akbar. Rasa lelah, rasa lapar, seketika hilang berganti rasa kenyang, rasa syukur, dan rasa bahagia.
Mimpi itu sebentar lagi menemukan jalannya akan mewujud menjadi kenyataan.
Dan bismillah semoga Allah meridhoi kelak kepada penulis, bisa melaksanakan UAD (Ujian Akhir Disertasi) dengan lancar dan di ganjar LULUS sesuai jadwal yang sudah disepakati.
Dan seterusnya penulis akan melanjutkan langkah *kedua kaki* ini untuk menebar banyak manfaat dan *kebajikan* di alam semesta ini, melalui jalur profesi penulis yang sekarang: sebagai seorang pendidik di sebuah kampus tercinta tempat penulis mengabdi di ITB YADIKA PASURUAN dan juga sebagai seorang entrepreneur, jalankan lapak usaha nasi goreng Mbah Joyo, dan menulis buat banyak buku untuk generasi muda di negeri ini tentunya, amin yra
AAS, 07 Juli 2023
Taman Bungkul Surabaya
Editor : Nasirudin