Catatan Mas AAS

Sugeng Kondur Bapak Rektor: Dr Siswidiyanto

Reporter : -
Sugeng Kondur Bapak Rektor: Dr Siswidiyanto
Mas AAS Dengan Rektor ITB Yadika Pasuruan: Bapak Dr. Siswidiyanto, MS.

Jujur saat berita itu datang. Di sampaikan oleh Prof Saifie di WhatsApp grup kampus ITB Yadika Pasuruan, atas meninggalnya Rektor ITB Yadika Pasuruan: Bapak Dr. Siswidiyanto, MS.

Kemarin pada hari Rabu 20 September 2023, seakan penulis mencoba menolak kabar itu. Justeru ingatan indah lah yang mengemuka di pikiran adalah sebuah pesan yang penulis terima dari beliau saat itu, "Pak Andi, barusan saya telah kirim sebuah tulisan sekapur sirih untuk bukunya njih yang berjudul: Urip Iku Urup," ujar pak Rektor kepada penulis beberapa waktu yang lalu!

Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Dan beliau mengkonfirmasi pasti akan hadir pada saat acara bedah buku di adakan nantinya oleh penerbit Intrans Malang. Dan saatnya tiba acara bedah buku, beliau pun hadir, juga sebagai salah satu pemateri pembedah buku untuk mengupas perihal isi buku dan hal Ikhwal penulis, sebuah momen yang tentu sangat susah dilupakan oleh penulis. Buku perdana penulis dibedah secara live oleh Rektor, dimana penulis mengabdi di kampus tersebut.

Ada semacam hidup yang sedikit terjeda untuk beberapa waktu, saat penulis mengetahui kabar pak Rektor kondur. Membaca berita lelayu atas meninggalnya pak Sis, Rektor kampus ITB Yadika Pasuruan, dimana penulis mengabdi. Dan baru ada keberanian untuk menulis perihal memoar penulis kepada bapak Rektor tercinta, usai dua hari selepas beliau kondur. Saat di hari H, tak cukup ada keberanian bagi jari jemari ini untuk mengenang beliau lewat sebuah tulisan.

Siang ini, keinginan itu, tak bisa ditahan-tahan lagi!

Pak Dr. Siswidiyanto, layaknya seorang bapak bagi penulis. Dan perasaan dekat itu sudah kadung menyusup melekat secara lembut dalam benak untuk waktu yang lama. Saat penulis mengenal, bergaul, serta bercengkerama dengan beliau ketika di kampus ITB Yadika Pasuruan.

Sejak bertemu pertama dan menjabat tangan beliau untuk pertama kalinya. Hati ini sudah sreg dengan vibrasi beliau. Mungkin kami berdua satu frekuensi, itu yakin penulis. Jadi adanya hanya rasa senang saja saat berjumpa beliau.

Pak Sis adalah Rektor pertama dan statusnya masih mengemban amanah pada periode pertamanya beliau, saat beliau kemarin kondur, di kampus dimana penulis mengabdi di situ. Semenjak keputusan merger, dimana dua kampus yang sebelumnya berdiri yaitu: STIMIK dan STIE Yadika, dilebur menjadi satu menjadi sebuah institut yaitu ITB Yadika Pasuruan.

"Pak Andi, bagaimana kuliah S3 nya di Pascasarjana FE UB Malang, apakah sudah selesai? Begitu tanya pak Rektor suatu ketika kepada penulis."

"Pangestu pak Rektor, sekedap malih, dan mau memberi kabar mawon, bileh wulan ngajeng, insyaallah mau melaksanakan UAD (ujian akhir Disertasi), ujar penulis pada suatu ketika, saat bertemu dengan beliau saat rehat sehabis mengajar di kampus ITB."

Dan di hari H ujian, pak Rektor pun datang akhirnya ke Pascasarjana FEB UB Malang, gedung F lantai 5 saat penulis melaksanakan ujian akhir Disertasi pada saat itu.

Dan perasaan penulis saat itu senangnya minta ampun. Bak anak kecil yang dibelikan mainan kesukaannya oleh kedua orang tuanya. "Pak Rektor, datang rek ke UAD gue, gaya anak Jaksel dilakukan oleh penulis saat itu dalam aksi penulis yang rada narsis, saat sampaikan informasi itu ke kawan dan kolega penulis yang hadir pas ujian, dan pak Rektor hanya senyam-senyum melihat aksinya penulis yang rada heboh!

Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

"Maturnuwun sangat pak Sis, njih, atas kedatangan bapak Rektor ke UAD saya, saya benar-benar merasa tersanjung," ujar penulis.

"Saya juga senang bisa hadir di acara ujian pak Andi," begitu yang disampaikan pak Rektor kepada penulis.

Dan singkat kata UAD berjalan dengan lancar kemudian dinyatakan lulus, dan berita itu spontan juga penulis kabarkan kepada bapak Rektor, dan beliau mengucapkan selamat.

Dan satu dua hari ini penulis harus menerima kenyataan bahwa beliau sudah tidak ada lagi, menemani penulis bercengkerama banyak hal di kampus: seputar bagaimana memajukan kampus ITB Yadika Pasuruan tercinta, dan selepas lulus dari pendidikan doktor, apa saja yang mesti harus dikerjakan. Dan yang bikin penulis speechless, bahwa permintaan bapak Rektor untuk dahar makan nasi goreng Mbah Joyo, yang dimasak oleh kedua tangan penulis belum sempat terwujud.

"Andi, minta maaf njih pak Rektor."

Kepergian pak Sis, benar-benar mengingatkan penulis. Bahwa hidup ini sangat sebentar. Oleh karenanya secepatnya untuk mencintai diri sendiri lalu segera mewujudkan semua harapan bajik yang hendak kita kerjakan selagi di dunia ini. Menunggu besok, Minggu, bulan, atau malah tahun depan, kita tidak bakalan pernah tahu apa yang bakalan terjadi.

Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Do the best, dalam mengerjakan amanah dalam profesi kita masing-masing adalah niscaya. Tak bisa ditawar-tawar lagi.

Sebagai penutup sebuah memoar penulis kepada bapak Rektor. Ke depan penulis sangat yakin, kampus ITB Yadika Pasuruan akan semakin maju dan berkembang, seturut misi serta visi dari bapak Rektor, Dr. Siswidiyanto, M.S.

Alfatihah kagem bapak Rektor selalu, penulis lantunkan doa ke langit saat siang ini di bumi pahlawan Surabaya.

Semoga Allah SWT selalu menyayangi bapak Sis, aamiin yra.

Sugeng Kondur bapak Rektor


AAS, 22 September 2023
Kota pahlawan Surabaya

Editor : Yuris. T. Hidayat