Catatan Mas AAS

Kangen Mbok Darmi

Reporter : -
Kangen Mbok Darmi
ruang terbuka hijau

Menyempatkan diri berada dalam ruang terbuka. Hadir sepenuhnya di situ, melihat sekeliling ada pohon-pohon besar, burung gereja, burung kutilang, bergerak aktif mencari tempat singgah sekadar mengisi rasa lapar di temboloknya, dan sesekali ada orang lewat berkendara dengan mobil juga motornya.

Dan penulis cukup duduk berdua dengan Mbok Darmi sang penjaga warkop, di pinggir fasilitas umum perumahan di mana penulis tinggal. Di daerah Rungkut Asri Barat, Surabaya.

Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Mbak Darmi yang sudah separuh baya usianya tak pernah lelah apalagi menyerah tetap menggantang asanya. Ia benar-benar menikmati hidupnya. Celetukan sederhana dari bibirnya yang selalu mengundang penulis kagum adalah," Mas Andi, sing di buka warung e, di dep dagangan e, ngono iku lho Simbok wis seneng banget," ujarnya pada suatu ketika. Dan penulis siang ini, rindu nuansa itu hadir kembali.

Guyon maton parikeno membersamai Mbok Darmi dalam jeda waktu yang sejenak. Sudah lebih dari cukup menangguk rasa tenteram dalam jiwa!

Meski saat senja sudah datang berganti malam, kota metropolitan Surabaya, seketika berubah nuansanya. Mulai dari yang ajib-ajib serta syar'i pun lengkap di buka semua lapaknya, upps.

"Jolali, kopine Mbok," tegas ku!

Dahulu terbiasa duduk di kedai dan kafe bermerek juga dengan produk bermerek tentunya: macam Starbuck, Kopi Kenangan, dan semacamnya. Guna menyerap energi dan vibrasi sekeliling. Karena getaran adalah selalu ada dan natural, merasakannya adalah sebuah kenikmatan.

Tak jarang dalam momen yang berbeda, menjadi pendengar, penyimak secara antusias, sebuah kisah serta resah, dan sedikit sebuah harap dari orang semacam Mbok Darmi. Mampu memutus ruang ego di dalam diri cukup signifikan. Meski tidak harus terhanyut dalam perbincangan yang bernuansa getaran dan vibrasi negatif: macam kekurangan, kekuatiran, ketakutan akan hari esok dan semacamnya.

Bahwa ada roda pedati kehidupan yang selalu berjalan ritmis dalam kehidupan setiap manusia. Dapat menjadi pemantik sebuah manifestasi akan hidup dibuat, dirancang, dan kemudian dieksekusi.

Ketekunan Mbok Darmi selaras juga dengan ketekunan sang owner yaitu principal dari produk-produk yang sudah punya brand di atas, macam Starbucks dan kopi kenangan mungkin. Keduanya selalu merawat rasa spiritual dalam semangat menggunakan logikanya agar bisa berpikir logis, bagaimana lapak ini tetap jalan, tetap hidup, dan tetap bisa membayar para karyawan nya!

Mbok Darmi hanya berharap besok bisa kulakan kopi ke pasar Soponyono di Rungkut saja, itu harapan besarnya.

Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Dan kumandang suara adzan dhuhur, sepertinya akan datang sebentar lagi. Dan burung-burung itu sudah kembali ke sarang untuk rehat sejenak sepertinya, seyampang temboloknya sudah terisi, dan rasa laparnya sedikit sudah hilang.

Hidup kadang harus seimbang juga! Ada kalanya menyempatkan duduk di sebuah cafe sebuah hotel berbintang lima bersama kolega: berdiskusi menggagas fenomena disruption perekonomian terakhir. Namun di ujung lorong yang sepi, serta diiringi angin sepoi yang datang secara lembut tengah menerpa tubuh pada siang ini, kudu juga dilakukan sambil mendengar suara-suara dari orang-orang macam Mbok Darmi di atas.

Agar ilmu, pengetahuan, informasi, jejaring yang dimiliki. Menjadi sebuah tools untuk berbuat sesuatu. Setidaknya bisa bermanfaat untuk diri sendiri, agar menjadi manusia yang mandiri, independen, tidak ter-kooptasi pikiran dan kehendak orang lain!

Syukur bisa memberi dampak positif bagi orang lain, atau komunitas lain!

Begitu saja...,"Piro kabeh Mbok Darmi: tahu loro, waici telu, karo kopi siji!

Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

"Wolongewu mas Andi!"

"Iki Mbok Darmi duite, kembaliannya ambil saja Mbok."

"Lah kakean Iki mas Andi."

"Gak popo Mbok!"


AAS, 23 September 2023
Fasum perumahan Rungkut Asri Barat Surabaya

Editor : Yuris. T. Hidayat