Virus Polio Kembali Muncul, Jawa Timur Telah Menetapkan Status Kejadian Luar Biasa Akibat Polio

Reporter : -
Virus Polio Kembali Muncul, Jawa Timur Telah Menetapkan Status Kejadian Luar Biasa Akibat Polio
imunisasi Polio Di Kabupaten sidoarjo Mulai 15 Januari 2024

Madura, JatimUPdate.id,- Kasus polio kembali muncul di jawa timur, Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), Jawa Tengah dan Jawa Timur telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) akibat polio sejak 29 Desember 2023 lalu. Hal ini menandakan bahwa kondisi Indonesia terkait polio kembali "gawat darurat".

Laporan Kemenkes RI, seorang anak laki-laki berusia 1 tahun (MAF) di Pamekasan, Jawa Timur mengalami kasus lumpuh layu akut. MAF mengalami lumpuh pada 22 November 2023 dengan riwayat imunisasi lengkap, tapi hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia mengalami malnutrisi.

Baca Juga: Harga Cabe Rawit Merah di Kota Blitar Hari Ini Merangkak Naik, Selisih Rp2 Ribu dari Kemarin

Berdasarkan hasil pemeriksaan Laboratorium Rujukan Polio Nasional BBLK Surabaya dan hasil sekuensing dari Laboratorium Bio Farma Bandung pada 20 dan 22 Desember 2023, NH dan MAF positif virus Polio Tipe 2.

Kemudian kasus lumpuh layu akut dialami anak laki-laki berusia 3 tahun 1 bulan (MAM) yang berdomisili di Sampang, Madura, Jawa Timur. MAM mengalami lumpuh pada 6 Desember 2023 dengan riwayat OPV empat kali dan polio suntik (IPV) satu kali. Hasil pemeriksaan pun menunjukkan bahwa MAM positif virus Polio Tipe 2.

Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI, dr. Maxi Rein Rondonuwu, ketiga anak tersebut sudah dirawat di rumah masing-masing dengan kondisi membaik. Namun, ketiganya mengalami cacat permanen akibat virus Polio Tipe dua.

Maxi mengatakan, kelumpuhan permanen bisa terjadi karena virus Polio menyerang sistem saraf sehingga otot anggota gerak tubuh lumpuh. Dengan demikian, ketiga pasien anak memerlukan rehabilitasi lebih lanjut.

"Virus ini bisa sembuh sendiri, tapi cacatnya cacat permanen," kata dr. Maxi.

Tidak hanya ketiga kasus tersebut, Kemenkes RI juga menemukan sembilan kasus polio pada anak di Sampang berdasarkan surveilans AFP terhadap 30 anak. Pengamatan itu dilakukan setelah penemuan kasus MAM.

Namun, Kemenkes RI mengatakan bahwa sembilan kasus di Jawa Timur tersebut belum mengalami gejala. Guna mencegah potensi lumpuh layu akut, sembilan kasus tersebut diberikan imunisasi tambahan.

"Di Sampang sudah keluar hasil dari 30 anak, yang sudah keluar hasilnya 22 sampel, sudah terdeteksi sembilan positif. Sekalipun mereka belum ada gejala, itu coba diintervensi dengan imunisasi tambahan," kata dr. Maxi.

Selain di Sampang, daerah lain yang mencatat temuan kasus lumpuh layu akut, seperti Pamekasan dan Klaten juga dilakukan surveilans serupa. Namun, belum ada hasil surveilans yang dilaporkan.

Menurut dr. Maxi Rein Rondonuwu, memperoleh Sertifikat Bebas Polio bukan berarti Indonesia langsung bebas dari risiko penularan polio.

Maxi mengatakan bahwa tidak hanya Indonesia, hingga saat ini masih ada negara endemis dan negara lainnya yang melaporkan adanya kasus polio baru. Ia menyebut, kasus ini didorong oleh beberapa faktor.

Baca Juga: Permintaan Sapi Kurban Naik, PPSDS Jatim Minta Dinas Peternakan Dievaluasi 

"Bebas polio sekali lagi bukan berarti bebas risiko penularan polio," tegas dr. Maxi dalam konferensi pers daring, Jumat (12/1/2024).

"Seperti yang saya katakan tadi, yang kita beri OPV (imunisasi polio tetes) yang tipe 2 itu bisa masuk pencernaan. Karena itu dia cuma virus yang dilemahkan, dia keluar lagi, dia bisa mutasi beberapa kali, dan itu bisa menyerang anak-anak yang tidak diimunisasi polio," imbuhnya.

Masih terkait munculnya kasus polio di masa kini, dr. Maxi menyoroti kondisi Indonesia yang masih memiliki lingkungan tercemar mengandung virus polio dan perilaku masyarakat RI yang masih buang air besar (BAB) sembarangan.

"Polio ditularkan pada lingkungan yang tercemar, terutama kalau tidak menggunakan air yang bersih dan masih memanfaatkan air di belakang rumah," jelas dr. Maxi.

"Sekalipun sudah ada punya toilet, tapi buangnya banyak ke sungai, apalagi kalau yang dilakukan itu buang air besar sembarangan. Saya kira itu di Indonesia masih banyak dilakukan. Virus itu dapat bertahan hidup selama berapa waktu di tanah dan air," lanjutnya.

"Saya mohon bantuannya dan dukungan seluruh OPD maupun peran Ibu-ibu PKK baik desa, kecamatan, kabupaten untuk bergerak bersama demi masa depan anak-anak agar terbebas dari penyakit polio," tutupnya.

Baca Juga: Kampung Kreasi 2024: Mendorong Ekosistem Halal di Jawa Timur

Pekan imunisasi Polio

Upaya pencegahan penyebaran virus polio terus dilakukan oleh pemerintah daerah di jawa timur. Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Fenny Apridawati bahwa Sub-PIN Polio merupakan upaya dalam mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB) dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I misalnya tuberkulosis, difteri, pertusis, polio, campak, rubella).

Di Kabupaten sidoarjo pekan sub imunisasi dilaksanakan 2 putaran yang pertama pada tanggal 15-21 Januari 2024 dan kedua pada 19-25 Februari 2024 berjarak minimal 1 bulan setiap putaran," paparnya.

Fenny juga menjabarkan sasaran anak yang akan mendapatkan imunisasi polio di tahun 2024 ini adalah sebanyak 292.041 anak yang tersebar di sekolah, pusksesmas, posyandu, dan PAUD.

"Dari jumlah sasaran tersebut, kami menggerakkan 483 bidan, 489 perawat, dan 12.633 kader kesehatan yang ada di Kabupaten Sidoarjo dan jumlah pos imunisasi adalah sebanyak 3.988 pos. Dengan harapan cakupan akan mencapai 95 persen atau lebih dan hanya 2 putaran saja," jelasnya.

Satu dekade lalu, Indonesia ditetapkan sebagai salah satu dari 11 negara South East Asia Regional Office (SEARO) yang berhasil menerima Sertifikat Bebas Polio dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). (NT)

Editor : Nasirudin