Catatan Mas AAS

Debat Capres Pamungkas, Indonesia Memilih Pemimpin!

Reporter : -
Debat Capres Pamungkas, Indonesia Memilih Pemimpin!
Mas AAS

Maaf, minta tolong, terima kasih. Ini adalah tiga kata agung yang mesti setiap orang diuji untuk melakukannya dengan sadar dan mudah.

Bak semudah menghirup nafas yang tak sempat kita bayar oksigen nya kepada alam raya!

Baca Juga: Momong Kahanan!

Seorang leader menjadi pemimpin di level apapun organisasinya. Ketiga hal di atas sebuah keterampilan yang mesti diasah layaknya mengasah kemampuan dan keahlian lainnya.

Berbicara dan menulis barangkali.

Jarak dan status yang kerap disandang seseorang. Agak berat mengatakan tiga kata agung tadi menjadi baju seseorang dalam berkomunikasi. Ada keengganan. Apalagi kepada lawan. Lawan debat misalnya.

Seorang publik speaker yang excellent di podium debat. Kerap melupakan ketiga kata agung tersebut. Karena boleh jadi beban psikis yang menghimpit dalam dada untuk mengendalikan suasana dalam debat sudah menjadi PR yang tidak ringan.

Apalagi ada kehendak tampil bagus dan jual diri dalam menarik suara pemilih. Dalam contoh tulisan ini, debat pamungkas di acara debat capres ke-5 tadi: Indonesia memilih pemimpin.

Sepertinya setiap die hard setiap Paslon Capres dan para netizen rada kesulitan untuk dapat membuat meme spontan! Dan berharap karyanya viral di platform media sosial. Karena semua calon presiden yang tengah berdebat: sedang menjadi seorang negarawan beneran! Bukan casting belaka. Ini relatif pendapat penulis. Penonton lainnya boleh jadi berbeda pendapatnya!

Sebagai anak bangsa tentu debat terakhir barusan. Membuat angin segar: bahwa negeri ini sedang baik-baik saja. Dan berharap regenerasi kepemimpinan yang beberapa hari ke depan dilakukan. Berjalan dengan lancar!

Bahwa tidak ada kesempurnaan absolut di kolong langit ini. Adalah sebuah fakta. Bahwa para capres sedang menjadi dirinya sendiri tanpa berlindung dalam keinginan nya yang besar untuk menjadi seorang RI satu juga sebuah fakta tontonan yang bisa menjadi tuntunan malam barusan.

Meski keinginan mencubit sebagai sebuah bumbu dalam sebuah acara debat itu masih terlihat tipis-tipis. Tapi wajar saja. Ada anggapan ini bukan debat namun semacam prasmanan sambil bercanda dengan cengkok guyon maton parikeno ada yang berpendapat demikian ya sah-sah saja!

Baca Juga: Merah Putih Negeri ku

Karena penonton acara debat di warkop macam penulis. Yang belum sempat pulang ke rumah, karena masih memahat aksara ini.

Tidak akan terlena oleh sebuah kata-kata yang ditata dengan runtut lalu melalui mulut disampaikan langgam nya dengan apik. Bak sebuah ungkapan sastra: puisi dan prosa indahnya, sekali lagi bukan itu keinginan penulis. Namun bahwa pikiran yang digemakan dalam ruang debat tadi, dilaksanakan oleh capres terpilih nantinya: Paslon 1,2, atau 3.

Karena sebagai sesama anak bangsa. Kita sedang memiliki sebuah alasan yang sama. Bahwa Indonesia emas di tahun 2045 bebarengan negeri berusia satu abad, adalah juga fakta beneran!

Jadi mari kita berjibaku bekerja bersama. Sukses kan mimpi besar sebagai sebuah BANGSA YANG BESAR di masa depan. Siapa lagi yang akan menghidupkan cita-cita tersebut, kalau bukan kita sendiri!

Sepertinya rangkaian acara debat capres sudah berakhir. Lazimnya hari-hari ke depan menjadi momen Minggu tenang.

Baca Juga: Jalani Saja, Klangenan Hidup Yang Disenangi

Sebelum hajatan akbar di negeri tercinta dilaksanakan. Empat belas February. Hari kasih sayang.

Kiranya spirit kasih dan sayang di hari pencoblosan nanti, mampu melahirkan pemimpin yang benar-benar bersedia mencintai dengan segenap jiwanya kepada negeri ini. Guna membawa bangsa ini semakin maju, jaya, dan lestari.

Siapapun saja pemimpin yang terpilih nantinya. Dipilih oleh pemilih dan tentu saja semesta pun mengamininya!

Sekian. Sepertinya istirahat malam ini akan nyenyak tidurnya.


AAS, 4 Februari 2024
Warkop Langganan Surabaya

Editor : Nasirudin