Oleh: Hadipras
JatimUPdate.id - Dalam lanskap sosiologis dan psikologi sosial, kehadiran individu dengan perilaku destruktif bukanlah fenomena baru.
Namun, di era di mana informasi terkoneksi secara real-time, fenomena ini terasa semakin menyesakkan. Kita seolah disuguhi parade perilaku tanpa moralitas setiap hari di layar gawai.
Memahami pengelompokan manusia dalam konteks ini menjadi sangat krusial, karena perilaku individu hampir selalu merupakan cerminan dari bagaimana mereka berinteraksi dengan struktur masyarakat di sekelilingnya.
Baca juga: Jurus MBG Ala Prabowo, Mampukah Taklukkan Lawan di Pilpres dan Dongkrak Suara Pileg 2029?
Jika kita merujuk pada spektrum psikologi sosial, manusia tersebar dalam beberapa kategori yang kontras.
Di satu kutub, kita mengenal kelompok Altruis atau Agen Perubahan. Mereka adalah individu dengan empati kognitif tinggi yang memposisikan tanggung jawab sosial di atas kepentingan pribadi.
Mereka berfungsi sebagai perekat sosial yang seringkali menjadi pelopor gerakan kemanusiaan.
Di bawahnya, terdapat Konformis Positif, kelompok terbesar yang menjaga stabilitas dunia dengan kepatuhan mereka terhadap norma. Mereka adalah warga negara yang taat, penjaga tradisi, dan sosok yang memastikan harmoni tetap terjaga melalui keteraturan hidup.
Namun, di tengah-tengah spektrum ini, terdapat kelompok yang seringkali menjadi penentu arah namun melalui jalan diam: The Silent Majority atau kaum Bystander.
Secara psikologis, kelompok ini didominasi oleh rasa takut atau ketidakpedulian. Mereka mungkin tidak berbuat jahat, namun membiarkan ketidakadilan terjadi di depan mata selama kepentingan pribadi mereka tidak terusik.
Dalam sosiologi, inilah yang disebut sebagai efek penonton, di mana kejahatan tumbuh subur bukan hanya karena banyaknya orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.
Masuk ke zona yang lebih gelap, kita menjumpai kelompok Oportunis dan Manipulatif. Di sinilah karakter Machiavellian mulai bermain, di mana sesama manusia hanya dianggap sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Kelompok ini seringkali menduduki posisi kekuasaan, menggunakan sistem untuk keuntungan kelompok kecilnya meski harus melompati pagar etika.
Puncaknya adalah kelompok Devian dan Destruktif, mereka yang menderita narsisme patologis dan kekurangan rasa bersalah. Mereka adalah penghancur struktur sosial yang tindakannya menciptakan trauma kolektif dalam masyarakat.
Menariknya, situasi politik yang kita rasakan "tidak nyaman" saat ini—dengan segala skandal korupsi dan ketimpangan ekonomi—sebenarnya digerakkan oleh lapisan yang disebut High-Functioning Destructive.
Ini adalah kelompok yang berbahaya karena mereka tidak gila; mereka berintelektual tinggi dan sangat paham aturan hukum, namun secara sadar memilih untuk melanggarnya demi ego.
Baca juga: Indonesia di Persimpangan Sistem Pemilu?
Dalam spektrum intelektual yang destruktif ini, terdapat gradasi moral yang mengerikan. Mulai dari para Pelanggar Terukur yang masih melakukan rasionalisasi atas kesalahan mereka karena merasa "terpaksa", hingga ke tingkat Narsistik Megalomania yang memanipulasi opini publik agar kebohongannya terlihat seperti kepahlawanan.
Lebih dalam lagi, kita menemukan para Manipulator Ganas yang melihat hukum layaknya papan catur tanpa melibatkan moralitas.
Hingga akhirnya, kita sampai pada dasar spektrum manusia: Psikopat Sosial Tanpa Malu. Secara psikologis, ini adalah manifestasi Dark Triad yang telah mengkristal. Mereka memiliki pengerasan moral yang luar biasa.
Meski kebohongannya telah dibongkar dengan bukti konkret di depan wajah, mereka tetap mampu menatap mata publik tanpa berkedip, tersenyum, dan terus memutarbalikkan fakta seolah tidak terjadi apa-apa. Bagi mereka, rasa malu telah mati; kebohongan hanyalah alat komunikasi, bukan beban nurani.
Mengapa fenomena "tidak tahu malu" ini semakin merajalela? Secara sosiologis, hal ini diperparah oleh ekosistem yang korup di mana kebohongan justru dianggap sebagai strategi politik yang cerdik. Dalam psikologi politik, ini disebut sebagai Seleksi Negatif, sebuah kondisi di mana mereka yang paling tidak punya ragu moral-lah yang justru bertahan dan naik ke permukaan.
Budaya politik yang hanya memuja kemenangan suara memberikan karpet merah bagi individu dengan skor psikopati sosial tertinggi untuk memimpin.
Kelompok destruktif ini juga lihai memanfaatkan teknologi untuk membangun Echo Chamber dan pasukan buzzer. Mereka menciptakan sekat informasi sehingga saat kebohongan mereka terungkap, pasukan ini akan menyerang balik pengungkap kebenaran.
Dukungan buta dari basis massa inilah yang membuat pelaku merasa aman secara sosial, sehingga rasa malu tidak pernah muncul.
Pada akhirnya, fenomena ini mengingatkan kita pada hukum Gresham dalam politik: sebagaimana uang palsu dapat mengusir uang asli dari peredaran, politikus yang korup dan manipulatif akan mengusir mereka yang jujur.
Orang-orang "sangat baik" seringkali memilih mundur karena tidak sanggup bertarung menggunakan aturan moral melawan mereka yang menghalalkan segala cara.
Wawasan ini mengajak kita semua untuk berefleksi dengan jujur. Di tengah kepungan kelompok oportunis dan destruktif, di manakah posisi kita?
Apakah kita akan tetap menjadi bagian dari kelompok Konformis yang hanya mengikuti arus, atau menjadi bagian dari Mayoritas Diam yang nyaman hidup dalam ilusi harapan?
Dengan mengenal anatomi moral ini, untuk iseng, cobalah menilai para penguasa di pusat dan daerah, termasuk kelompok mana?
Masa depan tatanan sosial kita tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin, tetapi oleh sejauh mana kita berani mengenali dan menolak normalisasi atas hilangnya rasa malu dalam ruang publik. Dan kesempatan itu ada di setiap TPS di setiap Pemilu. (*)
Editor : Redaksi