Bondowoso, JatimUPdate.id, – Peluang dibukanya kembali jalur kereta api (KA) menuju Kabupaten Bondowoso semakin menguat.
Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya mulai melakukan Survei Identifikasi Desain (SID) pada jalur nonaktif Kalisat–Bondowoso–Panarukan, Jawa Timur, Selasa (27/1/2026).
Baca juga: "Telasan" dan Masjid Tempat Singgah Pemudik
Jalur KA Kalisat (Jember)–Bondowoso–Panarukan (Situbondo) yang berhenti beroperasi sejak 2004 itu dinilai memiliki potensi besar untuk direaktivasi, seiring tingginya minat masyarakat terhadap moda transportasi kereta api sebagai sarana mobilitas dan logistik.
Dukungan atas kembali beroperasinya rel kereta api jalur Kalisat-Bondowoso-Situbondo-Panarukan sehingga membuat angkutan massal Kereta Api bisa melayani penumpang jalur itu ternyata mendapat dukungan berbagai pihak atas rencana Kementrian Perhubungan itu.
Dukungan itu muncul dari Civitas Akademiki Universitas Jember, Pemerintah Bondowoso, Tenaga Pendamping Profesional dan sejumlah kades di ruas jalur kereta tersebut menyusul sejumlah aspek baik nilai ekonomi, serta nilai historis akan keberadaan rel kereta api yang telah beroperasi sejak era Hindia Belanda itu.
Kepala BTP Kelas I Surabaya, Denny Michels Adlan, mengatakan SID merupakan tahapan awal untuk memetakan kondisi eksisting jalur sekaligus mengidentifikasi potensi hambatan apabila jalur tersebut kembali diaktifkan.
“Survei ini bertujuan mengumpulkan gambaran kondisi eksisting jalur nonaktif Kalisat–Bondowoso–Panarukan, mulai dari trase rel, jembatan, stasiun, hingga lahan serta titik-titik yang mengalami kerusakan atau perubahan fungsi,” ujar Denny.
Lebih jauh dia menjelaskan, survei yang dilakukan selama sekitar satu pekan tersebut juga menghimpun data teknis dasar, seperti panjang jalur, kondisi struktur, serta potensi kendala yang mungkin muncul dalam proses reaktivasi.
“Data ini akan menjadi referensi awal sebelum dilakukan survei lanjutan yang lebih komprehensif dan detail pada tahap perencanaan berikutnya,” terangnya.
Dalam pelaksanaannya, tim BTP Surabaya melakukan pengambilan dokumentasi visual serta pemetaan menggunakan Global Positioning System (GPS) guna memastikan seluruh kondisi jalur terdokumentasi secara akurat.
“Kami melakukan pengambilan gambar dan plotting dengan GPS agar seluruh kondisi jalur dapat terpetakan dengan baik,” jelasnya.
Berdasarkan hasil survei awal, sejumlah potensi hambatan mulai teridentifikasi. Di antaranya, kondisi beberapa stasiun yang telah beralih fungsi serta jembatan yang memerlukan perhatian khusus.
“Beberapa stasiun sudah tidak lagi berfungsi sebagai fasilitas perkeretaapian. Sementara jembatan, meskipun masih ada yang terlihat baik, tetap harus dianalisis ulang apakah masih layak digunakan, perlu diperbaiki, atau justru harus dibangun ulang,” ungkap Denny.
Selain itu, sejumlah titik jalur KA saat ini juga tidak lagi steril karena berdekatan dengan permukiman warga. Meski trase jalur relatif masih mudah dikenali, BTP Surabaya menilai perlu adanya koordinasi lintas pihak di daerah.
“Penertiban jalur serta penyediaan akses alternatif bagi masyarakat harus disiapkan secara matang, terutama di titik jembatan KA yang kini digunakan warga sebagai jalur penyeberangan,” tambahnya.
Dukungan Para Pihak Atas Reaktivasi Rel
Bapperida Bondowoso
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Bondowoso, Anisatul Hamidah, menyambut positif langkah yang dilakukan BTP Surabaya melalui Survei Identifikasi Desain (SID) tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi. Langkah SID untuk jalur Kalisat–Bondowoso–Panarukan ini menjadi sinyal positif bagi peningkatan konektivitas wilayah di Jawa Timur,” ujar Anisatul Hamidah kepada JatimUpdate.id via layanan whatshap, Jumat pagi (30/1/2026).
Menurutnya, apabila jalur KA tersebut kembali terhubung dan beroperasi, dampaknya akan signifikan bagi pengembangan daerah.
“Potensi ekonomi akan tumbuh semakin baik. Jumlah wisatawan berpeluang meningkat, sementara produk pertanian, perkebunan, peternakan, serta potensi unggulan Bondowoso lainnya akan memiliki nilai tambah, sehingga berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
LP2M Universitas Jember
Pernyataan dukungan juga tersampaikan oleh Ketua Lembaga Penelitian, Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Jember, Prof Yuli Pitono saat didampingi Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, Dr Budhi Santoso saat menerima Peneliti Senior Sygma Research and Consulting yang juga TAPM Kabupaten Gresik, Yuristiarso Hidayat saat menyerahkan Buku 10 Tahun Penerangan Koperasi 1930-1940 karya RM Margono Djojohadikusumo, akhir pekan lalu.
Baca juga: Jelang Lebaran, 288 Aparat Ponpes Al-Ishlah Bondowoso Terima BHR dan Paket Kurma
"Saya sangat mendukung sekali dengan rencana Pemerintah dalam hal ini Kemenhub untuk melakukan secara bertahap reaktivasi rel KA Kalisat-Bondowoso-Panarukan, karena ada nilai ilmiah, historis dan sisi ekonomis yang bersifat kesejarahan terkait angkutan agrobisnis di era Hindia Belanda," kata Yuli Pitono.
Yuli Pitono juga menambahkan bahwa peran vital rel KA Kalisat- Panarukan ini luar biasa karena di era Hindia Belanda itu merupakan urat nadi perekonomian Kawasan Tapal Kuda mulai Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso dan Situbondo dengan pintu ekonominya di Pelabuhan Panarukan yang kala itu telah jadi bandar besar dengan kapasitas perdagangan nusantara serta luar negeri.
"Publik pasti ingkat dengan proyek jalan prestisius Anyer-Panarukan era Gubernur Jendral Deandels yang panjangnya sekitar 1.000 km ujungnya Panarukan dimana disana ada Pelabuhan Besar. Jalan raya ini untuk perkuatan sektor perhubungan lainnya yang telah dibangun dengan berbagai jalur rel Kereta Api," tegas Yuli Pitono.
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Jember
Menambah keterangan Yuli Pitono, Wakil Dekan Fisip Universitas Jember Budhi Santoso menjelaskan di era Hindia Belanda, sektor perkeretaapian menjadi sarana transportasi utama.
Wilayah Tapal Kuda Jatim, kata Budhi, hampir semua wilayahnya dihubungkan secara terkoneksi dengan jalur Rel KA.
"Publik era kekinian tentu tidak banyak tahu bahwa selain rel KA eksisting Probolinggo-Klakah-Jember ini ada rel KA lainnya yang tidak berfungsi yaitu jalur Klakah-Lumajang-Yosowilangun-Ambulu-Jember. Artinya jalur Kereta Api juga menyasar wilayah selatan Jatim yang era Hindia Belanda merupakan lumbung pertanian dengan komoditas, padi, tembakau, jagung, kopi, Kelapa, buah-buahan. Ini termasuk komoditas rempah-rempah yang kala itu berharga mahal di pasar eropa," ungkap Budhi.
Jadi ungkap Budhi, jangan kaget di buku 10 Tahun Koperasi 1930-1940 ada gambar di Desa Rowokangkung Kabupaten Lumajang telah ada Koperasi Lumbung Rukun Tani yang telah diabadikan oleh RM Margono Djojohadikusumo telah beroperasi dengan baik.
"Jadi sudah sangat betul upaya Bupati Lumajang, Bu Indah Amperawati untuk akan mengembalikan kejayaan Lumajang sebagai sentra dan lumbung pangan Nasional tentunya linier dengan Program Ketahanan Pangan Desa, Swasembada Pangan Nasional," tegas Budhi.
Kades Sukorejo, Kec. Sukowono, Jember
Rudianto, Kades Sukorejo, Kec. Sukowono, Kab. Jember hingga kini masih menunjukkan kekagumannya tentang kiprah dan kinerja koperasi di wilayahnya pada era Hindia Belanda dan itu berhubungan dengan jalur rel KA Kalisat-Sukowono-Bondowoso-Panarukan.
Baca juga: KH Thoha Yusuf Dorong Gerakan Seribu Santri KMI, Ponpes Al-Ishlah Bondowoso Siapkan Kader Dai
Kekaguman itu terjadi setelah tim Peneliti Sygma Research and Consulting, Yuristiarso Hidayat didampingi Tim TA PM kabupaten Jember, Dodik dan Dapit menyerahkan buku 10 Tahun Koperasi 1930-1940 karya RM Margono Djojohadikusumo.
"Buku 10 Tahun Koperasi karya Kakek Pak Presiden Prabowo Subianto yaitu RM Margono ini sangat menginspirasi kami warga Desa Sukorejo mengingat di buku itu ada sejumlah foto yang menggambarkan aktivitas koperasi Sinar Jaya di Stasiun Sukosari, -dimana bekas stasiun tidak berfungsi itu masuk wilayah Desa Sukorejo,- dulunya sudah ada aktivitas ekspor kubis ke Singapura. Kebenaran ini juga ditegaskan Bu Aminah cucu pimpinan koperasi Sinar Jaya yang bersaksi kepada kami," kata Rudianto.
Lebih jauh, Rudianto sangat mendukung bila jalur kereta api yang melintasi wilayahnya itu bisa dihidupkan kembali.
"Upaya reaktivasi Rel KA ini akan kami dukung penuh karena ada nilai historisnya bagi kawasan Sukowono terkait keberadaan Koperasi Sinar Jaya yang berkegiatan di Jember dan Bondowoso itu dan didokumentasikan secara khusus oleh Bapak RM Margono itu," ungkap Rudianto.
Mantan Mahasiswa FKIP Univ. Jember
Mantan Mahasiswa FKIP Univ. Jember Angkatan 1993 yang kini menjabat Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Pemkab Gresik Johar Gunawan memberikan kesaksiannya secara khusus kepada Redaksi JatimUPdate.id.
"Kereta Api Jember-Panarukan ini memiliki memori bagi kami mahasiswa FKIP Jember 1990 an, karena beberapa kali kami menggunakan rangkaian KA itu dari Jember-Situbondo saat ada acara. Peristiwa itu berlangsung dari 1994-1995. Jadi bila pemerintah pusat akan meng-reaktivasi jalur KA yang telah berhenti beroperasi itu, kami mewakili alumni FKIP Universitas Jember angkatan 1993 sangat mendukung penuh. Ini akan jadi peristiwa menarik bahkan bisa untuk angkutan Reuni FKIP Unej," kata Johar Gunawan yang juga menempuh S2-nya di Universitas Jember itu.
Johar Gunawan mengenang peristiwa dirinya bersama rekan-rekan mahasiswa FKIP Unej itu menaiki rangkaian KA pada 1994 yang bersama-sama petani dan pedagang yang membawa barang dagangannya.
"Suasananya sangat meriah banget, menyenangkan kalau mengingat masa-masa itu," ungkapnya.
Redaksi JatimUPdate.id menghimpun sejumlah dara menyebutkan bahwa jalur KA lintas Surabaya Kota–Kalisat–Bondowoso–Panarukan dibangun oleh Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda Staatsspoorwegen pada 1897. Segmen Kalisat–Bondowoso–Panarukan kemudian berhenti beroperasi pada 2004.
Pada 2022, jalur ini telah melalui studi kelayakan yang menunjukkan tingginya minat masyarakat di wilayah Jember, Bondowoso, hingga Situbondo untuk kembali menggunakan layanan kereta api.
Sementara pada 2023, BTP Surabaya bersama Komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) juga melakukan upaya pelestarian perkeretaapian dengan menyelamatkan dan memindahkan alat peraga sinyal tebeng tipe Krian dari Stasiun Prajekan ke Stasiun Krian, Sidoarjo. (ries/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat