Bondowoso, JatimUPdate.id – Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso, KH Thoha Yusuf Zakariya, mendorong pengelolaan zakat secara produktif agar tidak hanya habis untuk kebutuhan sesaat, tetapi mampu mengangkat kemandirian ekonomi masyarakat.
Baca juga: Siapa Sebenarnya yang [disebut] Disabilitas?
Gagasan itu disampaikan saat penyaluran ribuan zakat mal di Masjid Kembar Ponpes Al-Ishlah, Desa Dadapan, Kecamatan Grujugan, Minggu (15/3/2026).
Menurut KH Thoha, zakat harus diarahkan pada program pemberdayaan, sehingga penerima (mustahik) berpeluang berkembang menjadi pemberi zakat (muzakki).
“Harapannya, mereka yang hari ini menerima zakat, ke depan bisa menjadi orang yang mengeluarkan zakat,” ujarnya.
Dari Bantuan ke Kemandirian
Selama ini, zakat lebih banyak disalurkan bersifat konsumtif. Namun, ke depan, pola tersebut perlu diimbangi dengan pendekatan produktif. Salah satunya, pemberian bantuan ternak kepada penerima zakat.
Baca juga: Jelang Puncak Mudik 2026, Dishub Bondowoso Cek Bus dan Tes Urine Sopir, 48 Armada Siap
“Contohnya, beberapa ekor ayam yang diberikan bisa berkembang biak. Hasilnya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga dan modal usaha,” jelasnya.
KH Thoha menambahkan, skema sederhana ini bisa berkembang dalam beberapa siklus, bahkan hingga ratusan ekor, dan berpotensi meningkatkan penghasilan mustahik secara berkelanjutan.
“Dari ayam bisa berkembang ke kambing, lalu ke sapi. Prosesnya tidak instan, tapi sangat mungkin terjadi jika dikelola dengan baik,” katanya.
Tekan Kemiskinan Secara Bertahap
Dengan zakat produktif, bantuan tak lagi berhenti sebagai solusi jangka pendek, tapi menjadi modal ekonomi berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan mampu menekan angka kemiskinan sekaligus membangun kemandirian umat.
“Kalau zakat hanya untuk konsumsi, akan habis. Tapi kalau dikelola produktif, hasilnya bisa terus berkembang,” tegas KH Thoha. (ries/mmt)
Editor : Miftahul Rachman