Baca juga: Kantor Berita Yonhap Beritakan Kapal Tanker Milik Korsel Diperbolehkan Melintasi Selat Hormuz
Jakarta, JatimUPdate.id — Dua kapal tanker milik Indonesia yang sempat tertahan di Selat Hormuz akhirnya dikabarkan telah mendapat izin dari pemerintah Iran untuk melanjutkan pelayaran keluar dari perairan strategis tersebut.
Sementara itu, di dalam negeri, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan percepatan pelaksanaan proyek hilirisasi dengan nilai investasi mencapai Rp239 triliun sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Vahd Nabyl A Mulachela, menyampaikan perkembangan positif terkait negosiasi dengan pihak Iran.
Sejak awal, Kementerian Luar Negeri bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran aktif berkomunikasi dengan otoritas Iran untuk mengupayakan kelancaran kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang sempat tertahan.
“Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran,” kata Vahd dalam pernyataannya di Jakarta pada Jumat, (27/3/2026), yang dikutip dari Antara.
Meskipun lampu hijau sudah diberikan, waktu pasti kapal-kapal tersebut dapat meninggalkan Selat Hormuz belum ditentukan.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran utama yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, sehingga kerap menjadi titik sensitif geopolitik. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebelumnya menegaskan bahwa meski dua kapal tanker masih tertahan, hal tersebut tidak mengancam ketahanan energi nasional.
Pemerintah telah menyiapkan alternatif pasokan energi dari negara lain untuk menjaga stabilitas kebutuhan dalam negeri.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI, Santo Darmosumarto, juga menegaskan bahwa komunikasi dengan Iran terus diperkuat guna memastikan keselamatan dan keamanan kapal-kapal Indonesia.
Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa kapal dari negara “sahabat” seperti Indonesia, China, Rusia, India, Pakistan, Irak, dan Malaysia diizinkan melintas.
Namun, kapal dari negara-negara seperti Amerika Serikat dan Israel tetap dilarang. Berdasarkan data MarineTraffic antara 20-22 Maret 2026, terdapat sekitar 1.900 kapal yang tidak bisa bergerak di sekitar Selat Hormuz, menurut laporan Anadolu Agency, menandakan ketegangan yang masih berlangsung di kawasan tersebut.
Baca juga: Perang Salib Amerika
Percepatan Program Hilirisasi Energi
Di dalam negeri, Presiden Prabowo Subianto memberi arahan khusus terkait percepatan program hilirisasi sumber daya alam untuk memperkuat ketahanan energi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Hal ini diungkapkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia usai rapat terbatas dengan Presiden di Hambalang, Bogor, pada Rabu (25/3/2026).
Menurut Bahlil, pemerintah menyiapkan tambahan 13 proyek hilirisasi baru dengan total investasi sekitar Rp239 triliun yang tengah dalam tahap finalisasi.
Proyek-proyek ini merupakan pelengkap dari 20 proyek yang sudah berjalan, sebagian bahkan sudah memasuki tahap groundbreaking.
“Kita tambah lagi ada 13 item hilirisasi yang total investasinya kurang lebih sekitar Rp239 triliun, dan akan kita bahas finalisasi,” kata Bahlil.
Proyek-proyek ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan dan mendorong nilai tambah industri dalam negeri.
Baca juga: Minyak, Oligarki, dan Perang yang Dijual sebagai Pasar
Selain proyek hilirisasi, Presiden Prabowo juga menginstruksikan optimalisasi seluruh potensi energi domestik, termasuk bioetanol, biodiesel, dan percepatan transisi ke energi baru terbarukan (EBT).
“Bapak Presiden memerintahkan untuk mengoptimalkan seluruh potensi-potensi energi yang ada di kita, baik itu etanol, biodiesel dari CPO, termasuk mendorong agar transisi energi lewat energi baru terbarukan juga bisa kita lakukan,” jelas Bahlil.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mencapai swasembada energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Izin melintas yang diberikan Iran kepada dua kapal tanker Indonesia di Selat Hormuz menandai perkembangan penting dalam menjaga kelancaran pasokan energi nasional.
Sementara itu, percepatan proyek hilirisasi dan pengembangan energi terbarukan di dalam negeri menunjukkan komitmen pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Kedua isu ini saling terkait dalam upaya menjaga stabilitas dan kedaulatan energi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global. (dek/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat