Neraca Perdagangan Jatim Defisit US$1,24 Miliar di Awal 2026, Impor Melonjak Lampaui Ekspor

Reporter : Imam Hambali
Ilustrasi dan Grafik

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Kinerja perdagangan luar negeri Jawa Timur pada triwulan pertama 2026 mengalami tekanan cukup dalam.

Baca juga: Ansor Jatim Desak BUMD Bermasalah Dievaluasi, Berbasis Kinerja Bukan Pertimbangan Politik 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat neraca perdagangan periode Januari–Maret 2026 defisit hingga US$1,24 miliar, akibat nilai impor yang melampaui ekspor.

Sepanjang periode tersebut, total impor Jawa Timur mencapai US$7,32 miliar, lebih tinggi dibandingkan ekspor yang hanya sebesar US$6,07 miliar.

Defisit terjadi baik pada sektor migas maupun nonmigas, dengan rincian defisit migas sebesar US$849,84 juta dan nonmigas US$394,30 juta.

Dari sisi ekspor, kinerja Jawa Timur tercatat mengalami kontraksi tipis. Nilai ekspor turun 1,00 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Penurunan ini dipicu melemahnya ekspor nonmigas sebesar 0,75 persen serta anjloknya ekspor migas hingga 10,96 persen.

Baca juga: Dosen UMM Dorong UMKM Perempuan Jatim Naik Kelas Lewat Inovasi Pemasaran Digital

Meski demikian, sejumlah komoditas masih mencatatkan kinerja positif. Ekspor lemak dan minyak hewani/nabati tumbuh signifikan sebesar 17,64 persen dan menjadi salah satu penopang utama.

Sebaliknya, komoditas perhiasan/permata mengalami penurunan terdalam hingga 11,60 persen, disusul produk kayu yang juga melemah.

Secara sektoral, ekspor Jawa Timur masih didominasi industri pengolahan yang menyumbang 93,96 persen dari total ekspor nonmigas dengan nilai mencapai US$5,71 miliar.

Sementara itu, sektor pertanian dan pertambangan justru mengalami kontraksi masing-masing sebesar 33,35 persen dan 24,96 persen.

Baca juga: Dari Daerah ke Provinsi, Raka-Raki Jatim 2026 Siap Lahirkan Wajah Baru Pariwisata

Di sisi lain, lonjakan impor menjadi faktor utama pelebaran defisit. Nilai impor tercatat tumbuh 4,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya, didorong kenaikan signifikan impor nonmigas sebesar 12,79 persen. Komoditas perhiasan/permata menjadi salah satu penyumbang utama dengan lonjakan hingga 232,70 persen.

Tiongkok masih menjadi mitra dagang utama Jawa Timur. Untuk ekspor nonmigas, negara tersebut berkontribusi sebesar 16,48 persen. Sementara dari sisi impor, Tiongkok mendominasi hingga 36,27 persen.

Kondisi ini mencerminkan tingginya ketergantungan Jawa Timur terhadap bahan baku dan barang modal impor, di tengah tekanan permintaan global. Ke depan, penguatan industri berbasis ekspor serta diversifikasi pasar dinilai penting untuk menahan laju defisit perdagangan.(ih/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru