Oleh Aris Effendi
Jurnalis JatimUPdate.id Bondowoso-Situbondo, Pemerhati-Pemberdaya Desa Dan Sosial Budaya
Baca juga: Bondowoso Verifikasi Data Kemiskinan, Pemkab Pastikan Bansos Tak Salah Sasaran
Bondowoso, JatimUPdate.id, – Hentakan Tari Remo pernah begitu akrab di tengah masyarakat Bondowoso. Namun seiring waktu, jejaknya perlahan memudar. Nama-nama penari yang dahulu hidup di panggung rakyat mulai tenggelam dalam ingatan generasi baru.
Kini, jejak yang nyaris hilang itu coba dihidupkan kembali melalui Tari Remo Sutina.
Lewat Dinas Pendidikan Bondowoso, upaya pelestarian dilakukan secara terstruktur, mulai dari pelatihan guru, workshop kesenian, hingga membawa tarian tersebut masuk ke lingkungan sekolah dan ruang ekspresi publik.
Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Taufan Restuanto, mengatakan Tari Remo Sutina bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan bagian dari identitas budaya daerah yang harus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
“Kalau terlambat satu langkah saja, bisa jadi kesenian ini tinggal nama,” ujarnya kepada JatimUpdate.id, Kamis (7/5/2026).
Jejak Remo yang Hampir Hilang
Bagi masyarakat Bondowoso generasi lama, nama Sutina bukan sosok asing. Ada yang menyebut ia berasal dari Tegalampel, ada pula yang meyakini berasal dari Pakuwesi.
Di masa lalu, Sutina dikenal sebagai penari pancer yang hidup berpindah-pindah panggung hingga akhirnya merantau ke Bali demi menyambung hidup setelah masa kejayaannya meredup.
Namun jauh sebelum nama Sutina dikenal, Bondowoso pernah memiliki sosok penari ikonik lain bernama Bhuna.
Berbeda dengan Sutina, Bhuna adalah penari laki-laki bertubuh besar dengan gaya pertunjukan yang dekat dengan kesenian Sandur dalam tradisi Madura. Akan tetapi, ketika Bhuna wafat, gerak, irama, dan jejak keseniannya ikut hilang bersama waktu.
“Dari situ kami belajar bahwa budaya bisa benar-benar hilang kalau tidak segera diwariskan,” kata Taufan.
Kekhawatiran itulah yang kemudian mendorong lahirnya gerakan penyelamatan Tari Remo Sutina di Bondowoso.
Belajar dari Maestro hingga Masuk Sekolah
Langkah awal dimulai dari ruang-ruang diskusi kecil antara Dinas Pendidikan dan komunitas guru seni yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Upaya itu kemudian mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bondowoso.
Baca juga: Difasilitasi Pemkab, Ratusan Koper Jemaah Haji Bondowoso Mulai Dikirim ke Surabaya
Pelestarian dilakukan secara bertahap dan sistematis. Para guru seni dikirim untuk belajar langsung kepada Sugeng, sosok yang disebut sebagai saksi hidup sekaligus orang yang pernah mendokumentasikan gerakan asli Tari Remo Sutina.
Ilmu yang diperoleh kemudian ditularkan kembali melalui workshop kesenian yang melibatkan guru-guru dari berbagai sekolah.
Tak berhenti di situ, Tari Remo Sutina juga mulai diperkenalkan kepada siswa melalui kegiatan sekolah hingga kompetisi antar-SMP dalam Pekan Pendidikan Berkah 2026.
Awalnya, penampilan itu hanya dirancang sebagai flashmob sederhana. Namun antusiasme para pelajar berkembang di luar perkiraan.
“Mereka tampil totalitas dengan kostum dan riasan lengkap. Dari situ kami melihat anak-anak sebenarnya punya semangat besar untuk belajar budaya daerah,” ujar Taufan.
Kini, ratusan pelajar dan puluhan guru di Bondowoso mulai menguasai gerakan Tari Remo Sutina.
Penampilan kolosal ratusan siswa saat peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi penanda bahwa tarian tersebut perlahan kembali hidup di tengah generasi muda.
Penampilan itu bukan sekadar hiburan seremonial. Di balik gerakan yang kompak dan selendang merah yang berayun serempak, tersimpan pesan tentang perjuangan menjaga identitas daerah di tengah arus modernisasi.
Baca juga: Karya Cerita Siswa FLS2N Bondowoso Akan Dibukukan, Kadisdik Tekankan Orisinalitas
Budaya yang Tak Boleh Putus
Di sisi lain, ancaman hilangnya budaya lokal masih terasa nyata.
Taufan mencontohkan kesenian Ludruk Janger di Tasnan, Desa Taman, yang kini hanya menyisakan satu pelaku senior bernama Mbah Mad. Faktor usia dan kondisi kesehatan membuat estafet pengetahuan kesenian itu nyaris terputus.
“Kondisi seperti ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak bisa ditunda,” katanya.
Ia menegaskan, fokus pada Remo Sutina bukan berarti mengabaikan kesenian khas Bondowoso lainnya seperti Topeng Konah, Ojung, maupun Singo Ulung. Namun pemerintah memilih memulai dari satu titik yang dinilai paling siap dibangkitkan kembali secara sistematis.
“Mulai dari belajar ke maestro, workshop, sampai masuk ke sekolah. Itu yang sedang kita bangun,” imbuhnya.
Melalui integrasi pendidikan dan ruang ekspresi publik, Dinas Pendidikan Bondowoso berharap Tari Remo Sutina tidak sekadar bertahan, tetapi kembali berdenyut sebagai warisan budaya yang hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebab budaya, pada akhirnya, bukan benda mati yang dipajang di museum. Ia hanya akan tetap hidup ketika terus diajarkan, ditampilkan, dan diwariskan di tengah masyarakatnya sendiri.
Editor : Redaksi