Jakarta, JatimUPdate.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menawarkan Indonesia sebagai lokasi pembangunan fasilitas penyimpanan cadangan minyak (storage) untuk kawasan ASEAN.
Baca juga: Menghitung Harga Kejujuran BBM di Tangki Kita
Gagasan itu disampaikan saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto menghadiri KTT ASEAN ke-48 di Cebu, Filipina, pekan lalu.
Dikutip Redaksi JatimUPdate.id dari Bisnis.com pada Selasa (12/05/2026) menyebutkan bahwa menurut Bahlil, pembahasan dalam forum tersebut mencakup penguatan infrastruktur energi di Asia Tenggara, termasuk pembangunan storage minyak bersama untuk menopang kebutuhan energi kawasan.
Indonesia pun disebut siap mengambil peran strategis dalam proyek tersebut.
“Nah ini adalah ide yang bagus, kita membangun storage di mana saja, tapi kemarin saya tawarkan untuk Indonesia,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/5/2026), airnya dikutip dari Bisnis.com.
Ketua Umum Partai Golkar itu menjelaskan, fasilitas penyimpanan minyak yang direncanakan bakal memiliki kapasitas besar karena ditujukan untuk menyuplai kebutuhan energi negara-negara ASEAN.
Sejumlah negara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Filipina disebut telah diajak berdiskusi terkait rencana kerja sama tersebut.
Baca juga: Subsidi Energi Triliunan Rupiah, Mengapa BBM Masih Langka?
Bahlil menilai pembangunan storage minyak ASEAN menjadi langkah strategis, terutama karena Indonesia saat ini juga tengah mempersiapkan pembangunan storage cadangan minyak nasional.
Ia mengungkapkan studi kelayakan atau feasibility study (FS) proyek tersebut sedang berjalan.
“Kita rencana akan bangun kawasan itu di Sumatera. Kita akan bikin kawasan ekonomi khusus yang pada akhirnya kemudian itu menjadi cadangan penyangga nasional kita,” jelasnya.
Rencana pembangunan storage minyak nasional itu akan ditempatkan di kawasan ekonomi khusus (KEK) di wilayah Sumatera.
Pemerintah berharap proyek tersebut tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai hub energi di kawasan Asia Tenggara.
Selain membahas storage minyak, KTT ASEAN juga menyoroti optimalisasi pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) guna menjaga ketahanan pasokan energi kawasan.
Dalam forum itu, Indonesia turut memaparkan target pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 Gigawatt serta implementasi program biodiesel 50 persen atau B50.
Bahlil menegaskan, pengembangan energi terbarukan menjadi bagian penting dalam transisi energi nasional sekaligus upaya menjaga keamanan energi jangka panjang di tengah meningkatnya kebutuhan energi kawasan ASEAN.(Bisnis.com/ih/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat