Oleh : Wahyu Isroni
Baca juga: “Strategi Bisnis dan Ekologis Teknik Konstruksi Perkapalan UMG di Era Hilirisasi”
Mahasiswa PhD di Universiti Malaya, Faculty Sciece, Institude Biological Sciences, Malaysia dan Research fellow di Pusat Studi Pesisir Dan Kelautan Universitas Brawijaya
Malang, JatimUPdate.id - Mari kita mulai tulisan opini kali ini dengan capaian provinsi jawa timur yang resmi menyandang predikat sebagai provinsi dengan mangrove terluas di pulau jawa dengan 30.839,3 hektar.
Angka itu setara dengan 48.38�ri total mangrove di seluruh pulau jawa. Bahkan dalam empat tahun terakhir luasa tersebut melonjak 3.618 hektar atau sekitar (13,29%) dibandingkan di tahun 2021.
Pada periode itu pemerintah provinsi jawa timur sangat sibuk menanam dengan total 2.221,48 hektar bibit baru berhasil ditancapkan di pesisir jawa timur di periode 2022-2024.
Selanjutnya mari kita lihat secara lebih dalam. Luas mangrove yang menjadi terbesar dan terus bertambah, tapi mengapa fakta di lapangan justru menunjukkan hal yang sebaliknya?
Yang dimana siput siput atau gastropoda yang menjadi salah satu penanda kesehatan ekosistem pesisir/indikator biologi justru semakin berkurang baik dari segi keanekaragaman spesies maupun dari segi ukuran?
Luas tidak selalu berbanding lurus dengan sehat. Sebab angka itu juga menyembuyikan kabar yang cukup memprihatinkan, sebab dalam kurun 36 tahun terakhir (1985-2021) jawa timur telah kehilangan 30.229 hektar atau rata rata 841 hektar per tahun, yang sama artinya dengan satu lapangan sepakbola musnah setiap hari selama hampir 4 dekade.
Deforestasi di pulau Madura Jawa Timur dari 15.118 hektar mangrove yang tersebar di 4 kabupaten pada tahun 2023 kini terisa kurang lebih 10.000 hektar, bahkan 41,8% diataranya masuk kedalam katagori rusak.
Di surabaya kawasan mangrove menyusut dari 3300 hektar pada tahun 1978 kini menjadi 1.500-2000 hektar saat ini.
Lalu apa yang menjadi permasalahan utama, tentu saja alih fungsi lahan yang sangat tinggi di kawasan pantai utara jawa timur yang sedikitnya 18.882 hektar lahan telah berubah menjadi kawasan industri dan pertambakan dan lain sebagainya.
Lalu apa hubungannya dengan siput siput kecil atau gastropoda yang menjadi fokus penelitian selama 2024 di Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, Surabaya Dan Lamongan.
Riset saya pada tahun 2024 di sepanjang pesisir Probolinggo hingga lamongan menguak fakta tentang hancurnya arsitektur alam ini.
Bagi makhluk pesisir, hutan mangrove adalah struktur rumah susun yang sangat dibutuhkan untuk daerah asuhan ikan, tempat berlindung dari predator hingga tempat berlindung dari pasang surut air laut.
Sebagai contoh siput lumpur (Cerithidea cingulata) menguasai 27% populasi karena mereka bisa hidup di dasar lumpur yang kaya akan bahan organik.
Baca juga: Jajaki Kolaborasi Konkret, ITICM dan Pakar Logistik Siap Kawal Lulusan 'Bondo Experience'
Naik lebih atas ada siput bakau (Littoraria melanostama) yang memilih tinggal di dedaunan (51,1%). Sementara si siput batang (Neritina violacea) setia menempel pada batang mangrove (37,1%).
Ketika 1 pohon mangrove dibabat maka satu lantai rumah susun ini runtuh, dan seluruh rantai makanan pesisir seketika goyah.
Ketika lahan mangrove dibabat untuk kawasan industri yang hilang bukan hanya pohon mangrove yang hilang melainkan rumah bagi satu kelompok gastropoda. Dan ketikan satu kelompok lenyap, seluruh rantai makanan di pesisir juga ikut goyah.
Indeks keanekaragaman dari penelitian ini hanya berkisar 1,028 hingga 1,912 masuk katagori sedang, bahkan rendah. Di Kedung Pandan Sidoarjo indeks keanekaragaman nyaris menyentuh level terendah (1,028±0,127).
Bandingakan dengan wilayah mangrove yang sehat yang untuk indeks keaneragamannya bisa menembus angka > 3. Kita sedang kehilangan kekayaan hayati di depan mata.
Dengan kata lain program rehabilitasi mangrove harus lebih memperhatikan zonasi alam karena didalam penelitian ini juga membuktikan bahwa jenis avicennia alba, Bruguiera Gymnorrhiza dan sonneratia alba memliki nilai kemerataan spesies yang tinggi.
Sehingga menanam seragam hanya untuk satu spesies Rhizophora mucronata demi mementingkan kuantitas adalah hal yang kurang tepat. Karena semua jenis sama pentingnya
Karena itu ada beberapa hal yang mendasar yang perlu lebih diperhatikan dalam pengelolaan wilayah pesisir khususnya daerah mangrove, pertama rehabilitasi mangrove harus berbasis kelas vegetasi dominan dan zonasi bukan asalm menanam.
Lalu tambahkan parameter yang mendukung seperti sedimen, salinitas dan pemetaan zonasi alami dalam setiap rencana tata ruang wilayah pesisir. Karena setiap zona adalah rumah bagi gastropoda yang berbeda.
Baca juga: SD Al Muslim Lepas Angkatan XXXII, Kepala Sekolah Pesankan Pentingnya Ibadah dan Belajar
Kedua jadikan parameter biologi serta keanekaragamann spesies menjadi parameter utama selain parameter fisika dan kimia yang telah sering digunakan dalam dokumen perizinan yang menyangkut wilayah pesisir.
Siput siput kecil (gastropoda) adalah alat ukur kesehatan lingkungan yang murah meriah dan jika mereka hilang kita semua yang akan menanggung akibatnya.
Luasa mangrove 30.839 hektar adalah potensi yang harus terus dikembangkan di jawa timur tapi itu semua bukan jaminan.
Tanpa perbaikan kualitas dan penghentian alih fungsi lahan yang jelas berdasarkan aturan yang jelas nagka angka itu hanya akan menjadi hiasan bagi ekosistem pesisir kita dan bagi gastropoda yang tak pernah salah pilih rumah.
• Catatan Opini ini ditulis berdasarkan jurnal imilah penulis Drivers of Gastropoda Diversity inFragmented Mangrove Ecosystem.
https://aloki.hu/pdf/2403_62456264.pdf
• Data luas mangrove dari peta mangrove nasional 2024 kementrian lingkungan hidup dan kehutanan.
• Data degradasi dari walhi jawa timur
Editor : Redaksi