Mengkritisi Aktivitas Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi

KDM Jelmaan Umar bin Khattab Masa Kini

Reporter : -
KDM Jelmaan Umar bin Khattab Masa Kini
Akun Medsos Dedi Mulyadi, Kang Dedi Mulyadi @DediMulyadi71, youtube channel : Kang Dedi Mulyadi

 

Oleh: Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo, Jurnalis JatimUPdate.id

Baca Juga: Sempro dan Megengan: Menjaga Nalar dan Batin di Tengah Formalisme Kampus

 

Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id : Di tengah krisis keteladanan dalam kepemimpinan nasional, sosok Kang Dedi Mulyadi (KDM) muncul sebagai oase yang menyegarkan.

Kang Dedi Mulyadi bukan pemimpin yang lahir dari laboratorium kekuasaan, melainkan dari rahim budaya, spiritualitas, dan kepedulian sosial.

Banyak yang menjulukinya sebagai jelmaan Khalifah Umar bin Khattab masa kini.

Analogi ini lahir bukan karena romantisme semata, tetapi karena nilai-nilai kepemimpinan KDM yang bersenyawa dengan semangat keadilan, kesederhanaan, dan keberpihakan pada rakyat kecil.

KDM tidak berdiri di menara gading kekuasaan. Ia menyusuri jalan-jalan sempit, bertemu petani, menyalami tukang becak, mendengarkan keluh kesah ibu rumah tangga.

Ia menyapa rakyat dengan bahasa mereka, hadir bukan untuk diistimewakan, tapi untuk melayani. Seperti Umar yang memikul gandum untuk rakyatnya, KDM hadir dengan tindakan nyata—bukan slogan, bukan pencitraan.

Politik baginya bukan tentang kekuasaan, tapi tentang cinta dan tanggung jawab kepada sesama manusia.

Yang membuat KDM berbeda adalah keberaniannya merawat warisan leluhur.

Kang Dedi memuliakan budaya,menegakkan nilai-nilai lokal, dan menjadikannya fondasi peradaban.

Ia tak segan mempertahankan tradisi leluhur seperti ritual adat, penghormatan terhadap pohon tua, dan mitos lokal yang dianggap sarat makna kehidupan.

Sayangnya, langkah ini justru membuatnya diserang dengan tudingan musyrik oleh sebagian kelompok yang miskin pemahaman kultural.

Namun KDM tidak goyah. Ia paham, membela tradisi bukanlah bentuk kemurtadan, tapi justru kesalehan dalam wajah kebudayaan.

Sering kali, ia mengutip pemikiran Cak Nur—Dr. Nurcholish Madjid—tentang pentingnya integrasi antara keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan.

Bagi KDM, menjadi muslim Indonesia bukan berarti menanggalkan budaya, melainkan mengolahnya agar selaras dengan nilai-nilai Islam yang universal. Ia meyakini bahwa agama dan budaya bukan musuh, tetapi sahabat dalam membentuk masyarakat yang beradab.

Dalam kiprahnya sebagai Bupati Purwakarta, KDM menerapkan gagasan-gagasan besar itu dalam tindakan nyata: pendidikan berbasis karakter lokal, pembangunan yang menghormati lingkungan, pelayanan publik yang cepat dan ramah, serta program pelestarian adat dan budaya.

Ia membuktikan bahwa pembangunan tidak harus meminggirkan nilai-nilai. Justru, nilai-nilai itu menjadi nyawa dari pembangunan itu sendiri.

KDM bukan hanya pemimpin administratif, ia adalah narator peradaban.

Baca Juga: UB-UNESCO Perkuat Diplomasi Budaya Melalui 'Wayang BerKarakter Brawijayan'

Ia mengajarkan bahwa Indonesia bukan sekadar negara hukum atau sistem birokrasi, tapi rumah besar yang dibangun dari cinta, gotong royong, dan keberagaman.

Dalam video-videonya yang viral di media sosial, ia tampil sebagai pemimpin yang empatik, berani, dan autentik. Ia tidak mengatur jarak dengan rakyat, tapi mencairkan sekat dengan ketulusan.

Di era ketika politik identitas kerap memecah belah, KDM justru menawarkan narasi persatuan. Ia melampaui sekat agama, suku, dan kelas sosial.

Ia melihat manusia sebagai manusia, bukan sebagai angka pemilih atau alat kampanye. Ia hadir sebagai pemimpin yang membela semua, tanpa kecuali. Ia mengangkat marwah Islam sebagai agama rahmat, bukan dogma kekuasaan yang menakutkan.

Indonesia hari ini sangat membutuhkan pemimpin seperti KDM. Pemimpin yang tidak tergoda pada glamor kekuasaan, tapi berakar kuat pada nilai-nilai luhur bangsa.

Pemimpin yang tidak terjebak dalam rutinitas birokrasi, tapi menjadikan jabatan sebagai ladang pengabdian. KDM adalah simbol bahwa harapan belum mati, bahwa politik belum sepenuhnya dirusak oleh pragmatisme.

Keberanian KDM untuk berbeda adalah kekuatannya. Ia tak malu dianggap nyeleneh selama itu berpihak pada rakyat dan kebenaran. Ia tidak larut dalam pencitraan, karena yang ia bangun bukan imej, tetapi makna.

Di saat banyak tokoh menghapus identitas budaya demi tampil modern, KDM justru membuktikan bahwa menjadi modern tidak harus kehilangan akar.

Bahkan dalam cara berpakaian, berbicara, hingga menyusun kebijakan, KDM konsisten menghadirkan wajah asli Indonesia: ramah, bersahaja, dan penuh makna.

Ia menghidupkan kembali semangat Bhineka Tunggal Ika dalam praktik, bukan sekadar slogan. Ia mengajarkan bahwa kekuatan Indonesia bukan pada keseragaman, melainkan pada keragaman yang disatukan oleh cinta tanah air.

Baca Juga: Komunitas Dharma Bhakti Patanjala: Solusi Alamiah Murah untuk Menyerap dan Menjaga Karbon

Pemimpin seperti KDM adalah anomali di tengah arus politik yang penuh transaksi. Ia hadir dengan integritas, bersih dari korupsi, dan hidup sederhana. Ia membuktikan bahwa kehormatan tidak terletak pada kekayaan, tetapi pada ketulusan.

Di rumahnya yang biasa, dengan gaya hidup yang bersahaja, ia menunjukkan bahwa pemimpin tidak harus bermewah-mewah untuk berwibawa.

Indonesia ke depan harus memberikan ruang lebih besar untuk pemimpin seperti KDM.

Ia bukan sekadar alternatif, tapi kebutuhan. Karena bangsa ini tak hanya butuh pembangunan fisik, tapi juga pembangunan jiwa. Kita perlu pemimpin yang mampu membangkitkan kepercayaan rakyat, menyatukan yang tercerai, dan menyembuhkan luka kebangsaan yang semakin dalam.

KDM membawa harapan bahwa politik bisa menjadi jalan suci, bukan jalan licik. Ia mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan alat balas dendam atau memperkaya diri.

Kang Dedi Mulyadi mengubah cara pandang kita tentang pemimpin: dari simbol kekuasaan menjadi simbol pelayanan.

Maka, jika kita ingin melihat Indonesia yang adil, beradab, dan kuat dalam identitas, maka figur seperti KDM patut didukung untuk memimpin di level yang lebih tinggi.

Karena dalam dirinya, nilai-nilai luhur bangsa tidak hanya hidup, tapi juga bergerak, berbicara, dan membela.

KDM adalah wajah masa depan Indonesia yang kita rindukan. Seorang pemimpin yang tidak hanya bicara, tapi bertindak.

Tidak hanya mengajar, tapi memberi teladan. Dan yang terpenting, ia tidak hanya hidup untuk dirinya, tapi mengabdikan hidupnya untuk Indonesia. (pm/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat