Catatan Mas AAS

Berorganisasi Itu Pengorbanan Dan Keikhlasan

Reporter : -
Berorganisasi Itu Pengorbanan Dan Keikhlasan

TUGAS penulis adalah menulis. Tugas pembaca adalah membaca. Terus tugas aktivis adalah melakukan keduanya kalau bisa, disitulah diharapkan ia menjadi suluh peradaban. Kata-kata siapa itu mas AAS? Ya, kata-kata saya, yang saya peroleh dari Prof Siti Zuhroh juga kang Andang Bachtiar! Kesimpulan yang saya peroleh saat berjumpa dua tokoh hebat di negeri ini, dengan dua kepakaran yang berbeda!

Tepat pukul 21:17 WIB aku tiba di rumah istana ku di Rungkut. Usai bebersih diri mandi air panas yang sudah disiapkan istri tercinta. Lalu aku leyeh-leyeh di kursi kelangenan yang berada di ruang belajar, sebuah kursi jati tua yang sangat bahuela usianya. Tapi tempat ternyaman di rumah, adalah duduk di kursi itu, sambil mengendapkan semua yang aku alami seharian tadi. Sambil aku dengarkan lagu-lagunya kang Katon untuk membuatku rilex sejenak. Sebelum lanjut buat satu tulisan, sebelum aku berangkat tidur istirahat malam ini!

Baca Juga: Jawa Timur Deklarasikan Gerakan Bersih Narkoba, Mendes PDT Ajak Awasi Desa Dari Peredaran Narkoba

Berorganisasi adalah pengorbanan juga kerja-kerja penuh keikhlasan. Satu statement yang disampaikan oleh Prof. Siti Zuhro saat ketemu beliau sore tadi. Sebelum beliau mengisi acara diskusi bertajuk "Politik Kebangsaan". Pernyataan itu langsung membuatku kayak kena uppercut tak bisa membalas, karena aku memang meniatkan untuk duduk menyimak dan lebih banyak diam. Tapi aktif menulis di kepala, saat ada waktu longgar nanti aku pindah menulis di hape.

Meski aku juga menyimak paparan materi lengkap beliau. Namun sejatinya inti atau sebuah insight itu justeru aku dapatkan ya saat berbincang dengan beliau di lantai 1 ruang tamu itu! Aku dapat spirit eureka nya! Kalau pas paparan materi, justeru yang aku rasakan, diriku tidak merasa hadir sepenuhnya. Bisa jadi tepat pada pukul 19:00 WIB aku harus tiba di Darmawangsa menghadiri acara seorang kawan. Yang juga sedang menggelar acara yang sama-sama hebatnya.

Acara diskusi bersama Prof. Siti Zuhro dimulai sekira pukul 16:37 WIB. Hampir satu jam materi dipaparkan secara runtut, sebelum break sholat magrib. Tidak tahu, kalau tema politik, pasti audiens antusias sekali, bisa jadi menyangkut harkat juga martabat, kali ya, apalagi satu dua tahun ke depan memang tahun-tahun politik. Dan ujung obrolan dari diskusi tema beginian, sudah bisa aku tebak akan berbicara figur, kelompok, juga partai. Tapi itu bukan poin menariknya.

Sayang aku harus pamit usai magrib, langsung cus ke acaranya kawan. Sejujurnya aku ingin tahu sekali analisis perihal itu dari Prof Siti Zuhro, dan juga pemikiran para tokoh di Jawa Timur! Apa kita sekadar rebutan dukungan untuk memunculkan sosok. Tentu berharap pikiran-pikiran lain yang lebih menarik aku bisa dapatkan. Sayang aku tak bisa bertanya juga menyimak diskusinya lebih lanjut!

"Kang Yakin, sepurane, aku pamit sik yo. Kate ning acarane Redy ning Darmawangsa," kataku!

"Tidak bisa nanti ta, mas, AAS?"

"Sepurane kang. Kadung janjian!"

Karena jiwaku sudah meronta minta asupan makanan yang bergizi juga. Selain akal juga pikiranku yang sudah begitu kenyang mengunyah informasi dan pengetahuan yang tadi sudah disampaikan oleh Prof. Siti Zuhro.
Di kepalaku sudah tergambar sosok kang Andang Bachtiar. Aku akan bertemu beliau sebentar lagi di Darmawangsa dalam acara "Cerdas Merdeka". Berupa konser musik dan diskusi peradaban nusantara.

Baca Juga: Menjahit Teori dan Realitas: Sebuah Refleksi Pendidikan Kewirausahaan

Kang Andang Bachtiar terkenal sebagai ahli geologi merdeka. Dan beliau kalau tidak salah pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (2000-2005). Sudah membetot perhatianku, tidak saja karena memang beliau pakar soal geologi, tapi justeru ketertarikan ku pada beliau adalah, karena gandrung juga soal budaya dan kabudayan. Maka tak sabar aku ingin berjumpa dengannya!

"Redy, aku otw ke Darmawangsa saiki!"

"Ok, tak tunggu kakak AAS, jawab si Redy!

Aku tahu acaranya Redy disekitaran depan RSUD. Menilik dari share gmap yang ia berikan kepadaku beberapa saat sebelumnya! Benar saja dengan menunggang kuda terbang ku, tak sampai 15 menit, aku sudah tiba di lokasi.

Pukul 19:00 WIB, aku tiba di Darmawangsa. Dan spektakuler yang aku alami. Aku bisa bertemu sama kang Andang, dan bisa melihat langsung beliau menyanyi ditemani istrinya juga grup musiknya. Plus suguhan tarian tradisional yang dikemas dalam acara pitulasan yang disaksikan juga diramaikan oleh warga di daerah Darmawangsa! Istimewa.

Baca Juga: Zulhas Jadi Keynote Speaker, LHKP PWM Jatim Tegaskan Politik Kebangsaan sebagai Kontrol Demokrasi

Di Graha aku belajar bagaimana sebuah negara itu hadir adalah perwujudan dari sebuah kontestasi bagaimana politik dimainkan dan di atas semua itu, pemimpin yang otentik dan memiliki ruh kepedulian terhadap negeri ini, di atas kepeduliannya dengan kelompoknya, partainya, agamanya. Itu benar-benar doa setiap anak bangsa di negeri ini, agar pemimpin seperti itu yang nantinya terpilih, pada pilpres mendatang!

Di Darmawangsa. Aku belajar bagaimana berjuang mengisi, serta berkontribusi terbaik kepada ibu pertiwi, melalui passion kita, kerja kita, kecerdasan kita, di atas semua itu. Pikiran, tubuh, dan jiwa ini, sepenuhnya kita dedikasikan untuk negeri ini, tanpa sempat bertanya, kamu agamanya apa, kamu dari partai apa, kamu suku apa, kamu anak mana, dlsb.

Benar-benar malam yang super duper luar biasa. Yang aku alami malam ini. Itulah cerita yang bisa aku bagikan malam ini kepada Anda.

Selamat malam, selamat istirahat teruntuk Anda semuanya...

Editor : Redaksi