Catatan Mas AAS
Berfikir Terbuka Memberi Kesempatan
SUATU ketika aku dimarahi sama yunior ku di UB Coffee. Tepatnya di briefing, tentang sebuah persoalan yang menjadi keahlian yunior ku tersebut.
Kita janjian tepat pukul satu siang, di tempat itu. Aku sudah datang 10 menit sebelum janji bertemu. Dan yunior ku yang seorang Doktor itu, katagori orang yang menghargai waktu juga, jam satu kurang 3 menit ia pun tiba!
Baca Juga: Presiden Prabowo Beri Penghargaan Qori Terbaik MTQ Nasional
Aku langsung kasih salam komando dan salam korps organisasi. Dan aku persilakan duduk. "Selamat pagi senior!" Senang Anda bisa datang tepat waktu. Meski ia yunior, karena saya menghargai dan mengapresiasi kepakaran nya dalam bidang sesuatu, sering aku memanggilnya my senior. Dan, hal yang seperti itu aku anggap hal yang lumrah dan biasa saja. Kadang aku memposisikan diri sebagai senior di sisi lain sebaliknya aku berposisi sebagai yunior dari yunior ku!
Sikap yang demikian biasa aku berlakukan kepada yunior. Dan biasanya kita bisa ngekek bareng tanpa ada sekat, dan hijab. Dan dari situ perpindahan ilmu pun bisa terjadi dengan lancar, tukar menukar pendapat berlangsung dengan cair. Hal demikian bisa membuatku bisa berpikir terbuka dengan masif, dan sistemik. Saat aku dimarahin tepatnya dikasih masukan tentang sesuatu hal oleh yunior ku, sikap yang aku lakukan adalah antusias, "Siap salah senior.Mohon Ampun !" Dan spontan posisiku seperti kayak terdakwa di ruang pengadilan!
Ndelalah nya, si yunior ku juga mampu tampil sepenuhnya menjadi seorang hakim yang ganas tanpa ampun juga kompromi. Sambil ia duduk njegegang plus ngudud sambil mulutnya mulai berkhotbah dari mulai Sabang hingga Merauke, ia bercoleteh. Karena ada pasal : bahwa pasal satu berbunyi sebagai senior selalu benar. Nah, yunior ku benar-benar gunakan pasal itu untuk menekuk ku tanpa ampun di pertemuan itu, untung ada saksinya. Kalau hanya berdua, bisa jadi aku tidak tahu siapa yang akan aku lukup pada siang itu! Dan mengenang kejadian itu aku selalu tersenyum dengan bahagia. Saat pagi ini aku sedang ditempat yang sama!
Baca Juga: Disorot Prabowo, Pemkot Malang Siap Tertibkan Baliho Demi Estetika Kota
Tidak jarang ego kita itu susah sekali kita kendalikan. Apalagi kadung banyak aksesoris dan status kita sandang. Jadi susah untuk berpikir dengan terbuka, mengedepan ajian mentang-mentang kita, mentang-mentang senior, pintar, kaya, memiliki jabatan, terkenal, dlsb. Dan ujung dari tidak mau berpikir terbuka ini adalah merundung nya keadaan yang kita alami pada level selanjutnya.
Nah, bersama yunior, dan kadang aku panggil my senior itu. Aku belajar berpikir terbuka. Siap dimarahi dan bisa juga memarahi, siap salah juga siap benar. Dan di atas semua itu siap dipimpin juga memimpin dan tentunya bertanggung jawab!
Baca Juga: Belajar Ulang Menjadi Ilmuwan: Catatan Seorang Doktor dari Sebuah Percakapan Menjelang Dies Natalis
Aku kadang kalau lagi ingat saat dimarahi, atau diajari, oleh yunior ku. Pingin ngedumel saja setelahnya. Hancik! Tapi, aku senang dan bahagia, kalau sedang kumpul sama yunior ku itu, setidaknya aku jadi termotivasi menjalani lakon hidup!
Selamat pagi semuanya, itulah kisah ku, mana kisah mu!
Editor : Redaksi