Masjid Serambi Ilmu, Taman Literasi dan Akar Budaya

avatar Yuris. T. Hidayat
  • URL berhasil dicopy

Oleh : Nonot Soekrasmono

Aktivis Ingkungan, Budayawan dan Seniman

Sidoarjo, JatimUPdate.id - Masjid lebih dari sekadar tumpukan batu bata yang membentuk mihrab dan kubah. Sejak zaman Rasulullah saw., masjid telah berdiri sebagai pusat peradaban, jantung pendidikan, dan ruang sosial yang inklusif. Di Indonesia, peran ini berevolusi menjadi ruang literasi yang sarat kearifan lokal; tempat di mana ayat-ayat suci bertemu dengan kehalusan budaya Nusantara.

Memasuki masjid tradisional, kita disambut oleh atap tumpang berjenjang, tiang kayu jati yang kokoh, dan bedug yang bertalu—sebuah simbol akulturasi yang harmonis antara ajaran Islam dan tradisi lokal. Di serambi-serambi inilah budaya literasi bermula. Literasi di masjid tidak sekadar mengeja huruf, melainkan mengkaji makna kehidupan, mempelajari sejarah peradaban, dan menyelami tafsir keagamaan yang mendalam melalui majelis ilmu.

Pojok-pojok baca yang kini lazim ditemui menjadi jembatan ilmu, menyediakan khazanah kitab kuning hingga buku-buku umum bagi jamaah. Namun, membaca di masjid adalah bentuk iktikaf intelektual, sebuah tindakan yang mencerminkan takzim kepada ilmu namun tetap sarat dengan adab. Suara tidak dikeraskan agar tidak mengganggu jamaah yang sedang salat, kebersihan tetap terjaga, dan niat senantiasa diluruskan untuk mencari keridaan Allah. Di sudut lain, halaqah Al-Qur'an melantunkan ayat suci dengan irama yang khas, mengajarkan budaya lisan dan hafalan yang terjaga selama berabad-abad.

Masjid juga menjadi institusi sosial budaya tempat nilai-nilai luhur diwariskan. Ia adalah ruang untuk berdiskusi tentang persoalan umat, pengelola zakat, dan pusat pemberdayaan masyarakat yang dijalankan dengan tata krama. Di era modern, masjid yang literat juga memfasilitasi media digital dan ekosistem pembelajaran inklusif bagi segala usia. Di sini, literasi dan budaya menyatu: jamaah membaca buku sambil meresapi keindahan arsitektur, mendengar taklim sambil menghormati tradisi lokal, dan beribadah sambil merawat persaudaraan. Dengan menjadikan masjid sebagai ruang literasi, kita tidak sekadar membangun fisik, tetapi membangun peradaban yang dibimbing oleh akhlakul karimah

Masjid adalah jantung peradaban yang berdenyut melalui ilmu dan doa. Dengan mengintegrasikan budaya literasi ke dalam ruang-ruang suci, kita memastikan bahwa akar budaya Nusantara tetap kokoh bersanding dengan syiar Islam yang damai. Menjadikan masjid sebagai tempat 'membaca'—membaca Al-Qur'an, buku, dan zaman—adalah cara terbaik untuk merawat persaudaraan sekaligus mencerdaskan kehidupan umat dalam bingkai adab yang mulia. (*)