In Memoriam Profesor Bustami Rahman (3): Kegelisahan Akan Peradaban

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Prof. Dr. Bustami Rahman, M. Sc. Selamat jalan Pak Bus! Kepergianmu selalu mendulang rindu. Allahumaghfirlahu warhamhu wa’aafihi Wa’fu’anhu. Kami Kolega - Yuniormoe akan selalu menjaga warisan intelektual, berupaya tanpa henti melaksanakan Wasiatmoe
Prof. Dr. Bustami Rahman, M. Sc. Selamat jalan Pak Bus! Kepergianmu selalu mendulang rindu. Allahumaghfirlahu warhamhu wa’aafihi Wa’fu’anhu. Kami Kolega - Yuniormoe akan selalu menjaga warisan intelektual, berupaya tanpa henti melaksanakan Wasiatmoe

 

Oleh: Himawan Bayu Patriadi, PhD.,

Dosen Hubungan Internasional, Fisipol
Universitas Jember.

 

TegalBoto, Jember, JatimUPdate.id - Label akademisi-intelektual tersemat pada Pak Bustami Rahman. Ia pantas menyandangnya. Dari segi kapasitas dan moralitasnya, Pak Bus memang memenuhi kriteria.

Daya nalar dan logikanya yang kuat selalu bergayut dalam analisanya yang tajam, jernih, otentik, dan akademis.

Ia pemikir, tapi bukan pertapa. Baginya, ruang publik meski berisik tetaplah asyik. Gagasannya melintasi bidang ilmu dan isu publik.

Sosok sosiolog-nya telah mengasah sensitivitasnya terhadap perkembangan sosial-politik. Tak pelak, letupan pikiran Pak Bus sering menghangatkan perbincangan, dan sering maujud dalam tulisan.

Saya beruntung sering terlibat perbincangan dengannya. Akhir 1997, tak lama setelah pulang dari studi Master (MA) di Australia; saya kembali diajak Pak Bus berbincang. Kala itu, kondisi sosial-politik lagi terguncang. Krisis moneter telah memicu krisis mutidimensi, seperti depresiasi rupiah, kebangkrutan perbankan, PHK massal, dan tingkat kemiskinan tinggi. Intervensi International Monetary Fund (IMF) juga tak menyelesaikan persoalan negeri.

Bahkan, dalih IMF untuk pengetatan ekonomi, dengan menghapus subsisi BBM, justru memicu protes yang luas.

Tak pelak, kepercayaan terhadap pemerintah merosot tajam. Sampai awal Maret 1998, perbincangan dengan Pak Bus laiknya updating day-to-day situation. Tapi, diskusinya selalu menggelitik, karena ada saja yang bisa dipetik.

Dengan perspektif sosiologis-nya yang kaya, Pak Bus bak samsak tinju yang kenyal dalam menerima setiap pukulan argumen politik saya.

Memasuki Maret 1998, tema perbincangan dengan Pak Bus bergeser. Semula, sekedar updating the events dengan mencermati dinamikanya.

Setelahnya, kami mulai menganalisa spekulasi tentang ‘kemungkinan perubahan’ (possibility of change). Pergeseran ini dipicu oleh kondisi sosial politik yang berubah cepat. Pelantikan kembali Soeharto sebagai Presiden tanggal 11 Maret, meski didukung seluruh (5) fraksi di MPR, tak menyelesaikan sengkarut ekonomi-politik Indonesia yang nyaris bangkrut.

Pelantikan ini justru menyulut protes yang lebih luas, terutama dari kalangan mahasiswa. Legitimasi pemerintah-pun menyentuh titik nadir. Syahdan, tragedi Trisaksi 12 Mei terjadi, di mana beberapa mahasiswa pendemo ditembak mati.

Peristiwa ini menjadi triggering factor bagi gerakan reformasi. Tak pelak, fokus diskusi dengan Pak Bus bergeser lagi; dengan mulai mengupas ‘perubahan yang tak terhindari’ (an inevitable change).

Mencermati situasi situasi sosial-politik kritis di atas, Pak Bus, sekali lagi, menunjukkan kapasitas intelektualnya. Latar belakang sosiolog-nya, khususnya penguasaannya atas sosiologi perubahan, selalu hadir.

“Mencermati kondisi saat ini, sangat sulit Soeharto untuk tetap bertahan. Pergantian rejim nampaknya tak terhindarkan”, cetusnya suatu saat.

Ungkapan yang lahir dari sosoknya sebagai seorang pemikir ini, mengingatkan pada postulat Oliver W. Home, Jr., bahwa: “The thinker [always] controls the future”. Jadi, keruntuhan Orde Baru, sejak awal Pak Bus sudah mempekirakannya.

Sayangnya, di tingkat institusi; belum ada sikap pasti. Kala universitas terkemuka, seperti UI, ITB, dan UGM, telah lantang menyuarakan reformasi; Universitas Jember (UNEJ) masih terbalut gamang, walau desakan mahasiswa semakin garang.

Maklum, situasi politik saat itu memang tak menentu. Forum terbatas sempat digelar UNEJ untuk menentukan sikap tegas. Kebetulan, Pak Bus dan saya termasuk yang diundang.

Setelah diskusi panjang, kebuntuan akhirnya dipecahkan oleh Pak Akhmad Khusyairi (Prof. Dr., MA.), dengan mengatakan: “Sudahlah, ikut saja langkah universitas-universitas besar, seperti UI, ITB, dan UGM; insya Allah UNEJ tak akan mengalami apa-apa.

Pemerintah akan berpikir dua kali untuk menghadapi gerakan, apalagi universitas-universitas terkemuka terlibat di dalamnya”. Entah bagaimana proses selanjutnya di tingkat elit universitas, UNEJ akhirnya menggelar panggung Reformasi di depan boulevard kampus. Setelah dibuka oleh Rektor, Pak Kabul Santoso (Prof. Dr. MS.); Pak Bus tampil ke panggung memberikan orasi.

“Mencermati kondisi terkini, Soeharto harus lengser; dan pemerintahan transisi perlu segera dibentuk!”, tegasnya; sambil mengepalkan tangan kanan. Orasi yang berapi-api ini, sekali lagi, mencerminkan sosoknya sebagai akademisi-aktivis.

Pasca reformasi, interaksi dengan Pak Bus tak berhenti. Dalam setiap perbincangan sosok akademisnya tak pernah terdisrupsi. Ia tak sekedar faham teori, tapi telah mengendapkannya.

Argumennya tak sekedar bersandar pada commonsense, tapi punya referensi teori. Walhasil, setiap perbincangan menjadi diskusi akademis. Alkisah, saya sempat memandang ‘Reformasi’ sebagai bentuk euphemisme, karena yang sebenarnya terjadi adalah revolusi.

Argumennya, Reformasi telah mencabut total semua elemen Orde Baru, baik kebijakan, rejim, maupun pemimpinnya. “Benar”, Pak Bus menimpali. Seperti biasa, Pak Bus tak pernah menihilkan lawan bicaranya. Tapi, kemudian ia mengajak merenungkan penjelasan teoritisnya.

“Pandangan teoritis Lewis [Alfred] Coser nampaknya lebih relevan”, tambahnya. Sebagai tokoh kunci 'functional conflict theory', sosiolog Amerika ini melihat perubahan politik, termasuk revolusi, sebagai proses yang inheren dalam suatu sistem, dan secara fungsional penting bagi sustainabilitas sistem itu sendiri.

Jadi, berbeda dengan teori Marxian, yang melihat konflik kelas berbasis ekonomi akan menghantar pada perubahan politik yang destruktif; bagi Coser perubahan politik justru diperlukan guna re-definisi norma, revitalisasi struktural, dan menjaga adaptibilitas sistem. Saya-pun mafhum.

Meski Reformasi telah meruntuhkan bangunan orde Baru, proses yang mengikutinya secara empiris memang lebih mecerminkan pembaharuan. Apalagi, Indonesia sebagai sosok negara tetap eksis; tidak lenyap (withering away) seperti postulat kaum Marxist.

Namun, berbagai konflik pasca-Reformasi mengubah orientasi renungan Pak Bus. Maraknya kekerasan politik dalam pemilu 1999 dan meluasnya konflik horizontal, seperti terjadi di Sanggau Ledau dan Maluku, telah mengundang ketertarikannya terhadap isu peradaban.

“Perjalanan peradaban politik kita ini patah-patah, alias fragmented”, tegasnya; kala menyodorkan renungannya kepada saya. Ia merujuk pada fakta sejarah, bahwa peradaban demokrasi yang tersemai tahun 1950-an tak sempat mekar karena terpangkas, bahkan mati terlindas, oleh otoritarianisme demokrasi Terpimpin dan orde Baru. Setelah itu, orde Reformasi berhasrat menanamnya kembali. Walhasil, peradaban politik kita tak berkembang secara kumulatif. Argumennya ini reasonable. Pasalnya, pernyataan almarhum Arief Budiman (Prof., MA., PhD.) mengkonfirmasi renungan peradaban Pak Bus tersebut.

Tahun 2000, dalam majalah Tempo, Arief Budiman menegaskan: “Kita tengah belajar berdemokrasi lagi dari aksara yang paling pertama!”.

Pemikiran Pak Bus tentang peradaban nampaknya serius. Pasalnya, atensinya terhadap isu ini terus berlanjut. Bahkan, pidato pengukuhan Profesornya (2009); berjudul “Menegakkan Peradaban Bangsa”.

Pada 25 Oktober 2019, salah satu percikan renungannya tentang isu peradaban sempat ia unggah dalam WAG dosen, FISIP AKADEMIKA, dengan tajuk “ISLAM dan PERADABAN”. Tiga hari kemudian, saya meresponnya dalam format dialog, dengan memakai inisial nama Pak Bustami Rahman (BR) dan nama saya sendiri (HBP). Berikut ini adalah nukilannya …

BR: Muhammad Abduh, seorang sosiolog dan filosof muslim asal Mesir (1849-1905) suatu ketika melakukan perjalanan atas undangan akademisi Eropa untuk keliling ke beberapa kampus. Dalam pidatonya, beliau mengatakan ujaran yang terkenal: "Tuan-tuan, di Mesir banyak sekali muslim, tetapi saya tidak lihat Islam di sana. Di sini [Eropa] sulit saya menemukan muslim, tetapi saya lihat Islam ada di mana-mana". Benarkah asumsi [ini]? Belum satupun pengamat berhasil menjawabnya sampai saat ini. Asumsi [ini] tetap masih menjadi hipotesis yang terpendam.

HBP: Salah satu sebabnya, mungkin, ungkapan Abduh adalah representasi dari 'empiricism', yang lebih menceminkan 'opinion' daripada 'reason'.

Sementara pertanyaan Pak Bustami lebih merepresentasikan 'rationalism', yang mencari 'reason' daripada sekedar 'opinion'. Dalam konteks ini, apa yang dilakukan Abduh nampaknya berbeda dengan Alexis de Tocqueville, sosiolog Perancis, yang memang deliberately melakukan riset lapangan di Amerika (1831-1835): 'Mengapa demokrasi di Amerika bisa 'well-taken root'? Dan, temuannya adalah bahwa institusi lokal yang kuat dan berbagai bentuk political associations, among others, telah membuat demokrasi di America bekerja dengan baik' (Tocqueville, 2000).

Kembali ke isu 'islami', pengalaman saya pribadi tinggal 6 tahun di masyarakat 'Barat' cenderung selaras dengan kesan Abduh tersebut di atas.

Dulu, saat (almarhum) Prof. Kabul Santoso (Mantan Rektor Universitas Jember) baru saja balik dari Australia pernah nanya saya: 'Mengapa di Australia kebanyakan gereja relatif sedikit jamaahnya, kalau-pun ada jamaahnya mayoritas adalah orang tua. Namun, menariknya, dengan relatif sepinya jamaah di berbagi gereja, peradaban masyarakatnya 'baik' ('islami' meminjam istilah Abduh). Saya berasumsi: 'Mungkin nilai-nilai agama sudah ber-metamorfosa menjadi nilai-nilai sosial, sehingga sedikitnya jamaah gereja 'tidak' bisa lagi menjadi parameter maju/tidaknya sebuah peradaban._

BR: Pertanyaan penting pertama adalah benarkah asumsi itu? Jawabannya ya tetap asumsi juga. Jika bukan nilai Islam yang menjadi faktor pengaruhnya, maka sudah barang tentu nilai sebelum Islam-lah yang menjadi faktor determinan bagi Mesir, dan nilai itu adalah nilai peradaban sebelum Islam masuk ke Mesir. Adapun bagi Eropa, tentu lebih kecil nilai Islam memiliki pengaruh terhadap peradaban Eropa. Yang menjadi faktor determinannya adalah nilai peradaban Eropa tua yang telah hidup ratusan, bahkan ribuan, tahun sebelum agama Kristen menyebar di Eropa. Jadi, nilai agama Kristiani-pun tidak menjadi faktor determinan bagi masyarakat Eropa.

HBP: Asumsi Pak Bustami logis. Namun mungkin terdapat asumsi/penjelasan yang lain. Peradaban pada esensinya merupakan 'shared way of life'. Jadi, sangat mungkin agama, termasuk Islam, bukan satu-satunya determinan peradaban. Memang, menurut Max Weber (1864-1920), agama kadang merupakan 'part of an irresistible drive' dari sebuah perubahan sosial (Weber, 1978). Namun, secara empiris, prosesnya tidak selalu 'taken for granted', karena juga melibatkan unsur/kontribusi peran 'kreatifitas' manusia. Dengan kata lain, terdapat 'otonomi' berfikir manusia dalam setiap proses pembangunan peradaban.

Weber sendiri mengindikasikan bahwa perubahan dan pembangunan sebuah peradaban pada dasarnya "is an idea".

Menurutnya, 'rationalization' (dengan mengasumsikan ada otonomi peran manusia melalui daya fikirnya) telah mengubah dunia menjadi 'modern'. Dan, dikatakannya pula bahwa proses 'rationalization' melanda berbagai berbagai bidang, baik ekonomi, hukum, politik, termasuk agama. Salah satu contohnya, Protestant ethics dalam Calvinism, yang mendorong lahirnya Kapitalisme modern, pada dasarnya juga merupakan bentuk 'the rationalization of religion', dimana dalam prosesnya melibatkan "religious teachings and belief" dan "human ideas and practices" sekaligus.

Menariknya, Muhammad Abduh mempunyai pandangan yang relatif sama dengan Weber. Menurut Abduh, dua harta terbesar yang dianugerahkan kepada manusia dalam beragama adalah 'kebebasan berkehendak' dan 'kemandirian berfikir'. Dan, kedua unsur ini yang telah membuat majunya peradaban Barat (Gelvin, 2008). Dari pendapat Abduh tersebut, maka manusia dalam beragama masih mempunyai 'otonomi' untuk berfikir, yang mana ini selaras dengan konsep/teori 'rationalization'-nya Weber (Jika merunut sejarah hidup keduanya, menarik pula untuk mendiskusikan apakah Abduh yang 'Weber-ian' atau justru Weber yang 'Abduh-ian'?)

Dengan penjelasan di atas, saya ingin berargumen bahwa nilai agama bukanlah determinan tunggal yang membuat 'majunya' peradaban Barat dan 'terbelakangnya' peradaban Mesir; tapi maju/tidaknya peradaban tersebut mungkin juga dipengaruhi pula oleh 'kualitas imaginasi' manusia/masyarakat-nya tentang hidup dan kehidupannya dalam menghadapi tantangan di setiap penggal jaman. Dalam konteks ini, umat Islam menghadapi tantangan serius. Masih menurut Abduh, umat Islam menderita karena ketidaktahuan tentang agama mereka sendiri (Kugelgen, 2011).

Baginya, umat Islam tidak bisa hanya mengandalkan interpretasi teks agama abad pertengahan; tetapi mereka perlu juga menggunakan "reason" untuk mengikuti perkembangan zaman. Jika kita setuju dengan argumen tersebut maka untuk membangun peradaban Islam nampaknya menuntut kita untuk berfikir keras bagaimana mentransformasi (meminjam istilah almarhum KH. Hasyim Muzadi, Mantan Ketua Umum PBNU) 'kesalehan pribadi' kita sebagai muslim menjadi 'kesalehan sosial'.

BR: You got the point! Ajak Bayu mengajar di Sosiologi, ya! [selorohnya].

Dialog di atas adalah perbincangan saya dengan Pak Bus yang terakhir. Tapi, kenangan terhadapnya tak akan berakhir. Sosoknya yang ‘komplit’ akan tetap menginspirasi.

Ungkapan seorang kolega Dosen tentang Pak Bustami Rahman nampak tak berlebihan, kala ia mengatakan bahwa “[almarhum] Pak Bus … tak ubahnya [seperti] oase yang mengobati dahaga siapapun guna mendapatkan spirit, totalitas, sportifitas, nyali, dan kejujuran. Beliau [memang] telah almarhum, namun sebagai [sosok] nilai tetap bisa diretas”.

Selamat jalan Pak Bus! Kepergianmu akan selalu mendulang rindu. Allahumaghfirlahu warhamhu wa’aafihi Wa’fu’anhu … (Tamat). (red)