Pintu Surga Yang Terbuka Dari Rumah
Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP
Alumni Universitas Jember
Surabaya, JatimUPdate.id -
Sang Sufi Di Tengah Keluarga
Ada ironi yang menggelitik dalam sejarah panjang peradaban Islam. Selama berabad-abad, umat Islam kerap memandang jalan menuju Allah, yang dalam bahasa populer disebut sulūk atau tarekat sebagai jalan yang hanya bisa ditempuh dengan meninggalkan hiruk-pikuk dunia, mengasingkan diri ke gua-gua, atau duduk bersila di sudut-sudut masjid yang sunyi.
Citra seorang sufi adalah sosok kuyu dengan jubah lusuh, tenggelam dalam wirid hingga lupa dunia.
Padahal, jika kita membuka lembaran-lembaran klasik khazanah tasawuf, kita akan menemukan potret yang sama sekali berbeda. Al-Ghazālī, sang Hujjatul Islam, menulis Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn yang tebalnya bagaikan ensiklopedia—bukan di tengah kesendirian, melainkan di sela-sela mengurus anak dan istri.
Junaid al-Baghdādī, pemuka sufi terkemuka, justru dikenal sebagai suami yang romantis dan ayah yang penyayang. Bahkan Syaikh Dliyauddin Ahmad Al-Kamasykhanāwi dalam magnum opus-nya, Jami' al-Ushul fi al-Auliya', dengan gamblang menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat para wali (kekasih Allah) justru adalah kemampuan mereka membangun harmoni dengan sesama makhluk, termasuk keluarga.
Di sinilah kita menemukan sebuah pintu menuju surga yang mungkin selama ini luput dari perhatian—pintu yang bernama Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah. Sebuah pintu yang tidak terletak di puncak gunung atau di kedalaman gua, melainkan tepat di ruang tengah rumah kita sendiri.
Membuka Lembaran Jami' Al Ushul Fi Al-Auliya
Sebelum kita menyelami lebih dalam, mari sejenak berkenalan dengan sebuah kitab yang menjadi rujukan utama kita kali ini. Jami' al-Ushul fi al-Auliya' karya Syaikh Dliyauddin Ahmad Al-Kamasykhanāwi adalah salah satu khazanah berharga dalam dunia tasawuf.
Kitab ini tidak sekadar berbicara tentang teori-teori spiritual yang abstrak, melainkan menjabarkan secara sistematis tentang sifat-sifat para kekasih Allah—dari cara mereka beribadah hingga cara mereka berinteraksi dengan sesama.
Al-Kamasykhanāwi hidup di masa ketika dunia Islam dihadapkan pada tantangan modernitas yang mulai menggerogoti sendi-sendi spiritualitas.
Di tengah kegemerlapan dunia yang semakin memikat, ia menuliskan risalah ini sebagai pengingat bahwa jalan menuju Allah tidak pernah tunggal. Ada jalan melalui uzlah (pengasingan diri), dan ada pula jalan melalui ikhtilāṭ (pergaulan sosial). Keduanya memiliki penganjur dan kedudukannya masing-masing.
Yang menarik, dalam bab-bab tentang adab dan mu‘āmalah (interaksi sosial), Al-Kamasykhanāwi menyisipkan pesan penting bahwa seorang salik (penempuh jalan spiritual) diuji keimanannya tidak hanya di sajadah, tetapi juga di dapur, di ruang keluarga, dan di tempat tidurnya. Di sinilah konsep sakinah, mawaddah, wa rahmah menemukan pijakan sufistiknya.
Kata sakinah sendiri memiliki akar yang dalam dalam tradisi spiritual Islam. Ia berasal dari kata sakana—diam, tenang, tidak bergerak. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: "Dialah yang telah menurunkan ketenangan (sakinah) ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan mereka." (QS. Al-Fath: 4). Sakinah, dengan demikian, bukan sekadar ketenangan psikologis biasa. Ia adalah nafḥah (hembusan) Ilahi yang turun ke dalam hati, sebagaimana para malaikat turun membawa kedamaian.
Al-Kamasykhanāwi dalam kitabnya menjelaskan bahwa sakinah yang sejati tidak mungkin hadir tanpa adanya ikatan vertikal yang kuat dengan Allah.
Rumah tangga yang sakinah, dalam pandangannya, adalah rumah tangga yang setiap anggotanya merasa bahwa ada "Yang Maha Hadir" di antara mereka. Bukan sekadar hadir dalam wujud patung atau sesajen, melainkan hadir dalam kesadaran bahwa setiap hembusan napas, setiap ucapan, dan setiap tindakan diawasi oleh-Nya. Kesadaran inilah yang kemudian menciptakan atmosfer spiritual yang oleh Al-Ghazālī disebut sebagai uns (keintiman dengan Tuhan).
Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Al-Ghazālī mengisahkan bahwa para sahabat Nabi—generasi terbaik umat ini—justru meraih kemuliaan mereka bukan dengan mengisolasi diri, melainkan dengan berdagang di pasar, berkeluarga, berpolitik, bahkan berperang, namun hati mereka tetap terpaut pada Allah. Mereka adalah orang-orang yang "tangan mereka di dunia, hati mereka di akhirat."
Sakinah, dalam konteks ini, adalah kemampuan untuk hadir secara utuh dalam realitas duniawi namun tidak tenggelam di dalamnya.
Mawaddah-Cinta Yang Mendidik Jiwa
Jika sakinah adalah fondasi, maka mawaddah adalah dinding-dinding kokoh yang membangun rumah spiritual. Kata mawaddah dalam Al-Qur'an disebutkan dalam konteks pernikahan: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah)." (QS. Ar-Rum: 21).
Dalam tradisi tasawuf, mawaddah tidak dipahami sebagai cinta biologis semata. Ia adalah cinta yang telah melewati proses penyucian.
Ibn 'Aṭā'illah al-Iskandarī dalam kitabnya yang monumental, Al-Ḥikam, memberikan peringatan yang sangat tajam: "Boleh jadi engkau mencintai sesuatu, padahal ia menjadi sebab kebinasaanmu."
Peringatan ini menjadi penting dalam membaca konsep mawaddah. Cinta dalam rumah tangga, jika tidak dibingkai dengan kesadaran spiritual, bisa berubah menjadi racun yang mematikan.
Cinta yang berlebihan kepada pasangan bisa menjerumuskan pada sikap posesif, cemburu buta, bahkan kekerasan. Sebaliknya, cinta yang kurang bisa menyebabkan keretakan dan kehancuran.
Al-Kamasykhanāwi dalam Jami' al-Ushul mengajarkan bahwa para wali memiliki kemampuan untuk mentransformasi cinta horizontal menjadi cinta vertikal. Mereka mencintai pasangan mereka bukan semata karena paras rupawan atau harta melimpah, melainkan karena melihat dalam diri pasangan itu cahaya keimanan.
Mereka mencintai karena Allah—al-ḥubb fī Allāh. Inilah tingkatan cinta tertinggi yang diajarkan Rasulullah: cinta karena Allah, marah karena Allah, memberi karena Allah, dan menolak karena Allah.
Seorang sufi besar, Dzun Nun al-Mishri, pernah ditanya tentang hakikat cinta. Ia menjawab dengan sebuah syair yang indah:
”Jika aku mencintai-Nya, aku tidak peduli dengan selain-Nya. Cinta kepada-Nya telah memenuhi relung hatiku. Namun bagaimana aku bisa mencintai selain-Nya, Sedangkan segala keindahan yang kulihat pada makhluk adalah pancaran dari keindahan-Nya?"
Dalam konteks rumah tangga, cinta kepada pasangan dengan demikian bukanlah pengalihan cinta dari Allah, melainkan perpanjangan dari cinta itu sendiri.
Kita mencintai pasangan karena ia adalah ciptaan Allah. Kita mencintai kelembutannya karena ia mencerminkan sifat Al-Lathīf (Maha Lembut). Kita mencintai kedermawanannya karena ia meneladani Al-Karīm (Maha Mulia).
Dengan cara inilah, setiap momen cinta dalam rumah tangga menjadi ibadah yang mendekatkan kita kepada-Nya.
Al-Qusyairī dalam Al-Risālah al-Qusyairiyyah—kitab klasik yang menjadi rujukan utama dunia tasawuf—menjelaskan bahwa cinta kepada makhluk yang dibingkai dengan kesadaran tauhid justru akan mengantarkan pada cinta kepada Khaliq. Sebab, siapa yang mencintai lukisan seorang pelukis, tentu ia akan semakin mencintai pelukisnya.
Demikian pula, siapa yang mencintai keindahan makhluk, ia akan semakin terdorong untuk mencintai Pencipta keindahan itu sendiri.
Rahmah-Kasih Sayang Yang Melampaui Batas
Puncak dari trilogi spiritual ini adalah rahmah—kasih sayang yang universal. Dalam struktur bahasa Arab, rahmah memiliki akar kata yang sama dengan rahim (rahim ibu).
Ada kelembutan, perlindungan, dan pemberian tanpa pamrih di dalamnya. Ketika Al-Qur'an menyebut Allah dengan Al-Raḥmān dan Al-Raḥīm, Ia sedang memperkenalkan diri-Nya sebagai sumber segala kasih sayang.
Al-Kamasykhanāwi dalam Jami' al-Ushul menegaskan bahwa para wali—kekasih Allah—adalah mereka yang hatinya dipenuhi rahmah kepada seluruh makhluk.
Bukan hanya kepada sesama muslim, bahkan kepada yang membenci mereka sekalipun. Mereka adalah manifestasi dari firman Allah: "Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya': 107).
Dalam konteks rumah tangga, rahmah berarti kasih sayang yang melampaui batas-batas kalkulasi untung-rugi. Ia adalah kemampuan untuk tetap memberikan cinta ketika pasangan melakukan kesalahan. Ia adalah kelembutan untuk memaafkan ketika hati terasa perih. Ia adalah ketulusan untuk terus berbuat baik meski balasan yang diterima tidak sebanding.
Al-Ghazālī dalam Iḥyā’ menceritakan sebuah kisah inspiratif tentang seorang suami yang setiap kali pulang ke rumah selalu tersenyum kepada istrinya, meskipun seharian ia dihadapkan pada masalah berat di tempat kerja.
Ketika ditanya mengapa ia mampu melakukan itu, ia menjawab: "Aku sedang meneladani Rasulullah yang selalu tersenyum kepada keluarganya. Dan aku ingin senyumku ini menjadi sedekah yang memberatkan timbangan amalku kelak."
Subhanallah. Sebuah senyuman sederhana kepada pasangan, jika diniatkan karena Allah, bisa menjadi amal yang mendatangkan surga. Inilah esensi rahmah dalam rumah tangga—menjadikan setiap interaksi, sekecil apa pun, sebagai ladang menuai pahala.
Al-Suhrawardī dalam ‘Awārif al-Ma‘ārif—kitab rujukan utama tarekat—menjelaskan bahwa orang-orang yang mencapai maqam rahmah akan merasakan kelezatan spiritual yang luar biasa ketika berbuat baik kepada orang lain.
Mereka tidak merasa lelah melayani keluarga, karena pelayanan itu sendiri adalah ibadah yang menyenangkan hati. Mereka tidak mengeluh ketika harus mengalah, karena mengalah demi keluarga adalah jalan untuk meraih kemenangan sejati di sisi Allah.
Tiga Pintu Menuju Surga
Al-Kamasykhanāwi dalam karyanya mengajukan sebuah tesis menarik: bahwa sakinah, mawaddah, wa rahmah adalah tiga pintu gerbang menuju surga yang terbuka lebar di tengah keluarga.
Mengapa disebut pintu? Karena ketiganya adalah jalan masuk menuju pengalaman spiritual yang mendalam, yang pada akhirnya mengantarkan pada perjumpaan dengan-Nya.
Pertama, sakinah adalah pintu pensucian jiwa (tazkiyah).
Dalam rumah tangga, kita diuji dengan berbagai karakter dan kebiasaan pasangan yang mungkin berbeda dari kita. Di sinilah kita belajar sabar, belajar menerima, belajar mengendalikan amarah. Setiap kali kita mampu menahan diri demi keutuhan rumah tangga, saat itulah kita sedang membersihkan jiwa dari karat-karat egoisme. Al-Ghazālī menyebut bahwa rumah tangga adalah madrasah (sekolah) paling efektif untuk melatih dua pilar utama spiritualitas: sabar dan syukur. Sabar saat menghadapi ujian, syukur saat menerima nikmat.
Kedua, mawaddah adalah pintu pengenalan (ma‘rifah).
Melalui cinta kepada pasangan, kita belajar memahami hakikat cinta Ilahi yang lebih agung. Sebagaimana kita rela berkorban untuk orang yang kita cintai, demikian pula kita dituntut untuk rela berkorban demi cinta kepada Allah. Sebagaimana kita merasa bahagia saat bersama orang yang dicintai, demikian pula kita dilatih untuk merasakan kebahagiaan saat berdua dengan-Nya dalam kesunyian malam. Ibn 'Aṭā'illah berkata: "Tanda matinya hati adalah tidak adanya kesedihan karena kehilangan ketaatan dan tidak adanya penyesalan karena melakukan kesalahan." Rumah tangga yang dipenuhi mawaddah akan melahirkan kesadaran seperti ini.
Ketiga, rahmah adalah pintu penyempurnaan akhlak.
Rahmah mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang tidak hanya baik secara ritual, tetapi juga indah secara moral. Ia mengantarkan kita pada derajat iḥsān—beribadah seolah-olah kita melihat Allah, dan jika tidak mampu melihat-Nya, maka kita yakin bahwa Dia melihat kita.
Rumah tangga yang dipenuhi rahmah akan menjadi tempat yang paling nyaman untuk bertumbuh secara spiritual, karena di dalamnya tidak ada penghakiman, yang ada adalah penerimaan; tidak ada kekerasan, yang ada adalah kelembutan; tidak ada kebencian, yang ada adalah cinta.
Surga Sejati Yang Bisa Dirasakan Sekarang
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang surga adalah bahwa ia hanya bisa dinikmati setelah kematian. Padahal, dalam tradisi tasawuf, surga tidak hanya berbicara tentang tempat di masa depan, tetapi juga tentang pengalaman spiritual (dzauq) yang bisa dirasakan di dunia.
Al-Ghazālī dalam Kīmiyā al-Sa‘ādah (Kimia Kebahagiaan) menjelaskan bahwa surga memiliki tingkatan-tingkatan. Ada surga yang bersifat fisik, dengan bidadari, sungai susu, dan istana-istana megah. Namun ada juga surga yang bersifat spiritual, yaitu ma'rifatullah—pengenalan mendalam tentang Allah. Inilah surga tertinggi yang dialami para nabi dan wali.
Dalam konteks rumah tangga, sakinah adalah pengalaman surga di dunia. Ia adalah ketenangan yang membuat hati merasa cukup meski secara materi pas-pasan. Ia adalah kedamaian yang membuat rumah sederhana terasa lebih indah dari istana megah. Ia adalah kebahagiaan yang tidak bergantung pada validasi orang lain.
Demikian pula mawaddah adalah pengalaman surga. Ketika kita mencintai pasangan dengan tulus karena Allah, kita akan merasakan kelezatan yang tidak bisa digantikan oleh kesenangan duniawi apa pun. Cinta jenis ini adalah cerminan dari cinta Ilahi, yang membuat hati terasa lapang dan ringan.
Dan rahmah adalah pengalaman surga yang paling agung. Ketika kita mampu mengasihi dengan tulus tanpa pamrih, kita sedang merasakan sedikit dari sifat Al-Raḥmān. Inilah pengalaman spiritual yang membuat seorang salibis Eropa, setelah membaca kisah para sufi, berkata: "Orang-orang ini telah menemukan surga di dalam hati mereka, sehingga mereka tidak perlu mencarinya di tempat lain."
Membangun Rumah Yang Menjadi Pintu Surga
Lalu, bagaimana cara praktis membangun rumah tangga yang menjadi pintu surga? Al-Kamasykhanāwi dalam Jami' al-Ushul memberikan beberapa panduan spiritual yang bisa kita terapkan.
Pertama, hadirkan Allah dalam setiap momen. Biasakan untuk memulai setiap aktivitas rumah tangga dengan basmalah. Makan bersama dengan basmalah, keluar rumah dengan basmalah, bahkan bercinta dengan pasangan pun dianjurkan untuk didahului doa. Dengan cara ini, setiap momen menjadi saksi ibadah kita kepada Allah.
Kedua, jadikan rumah sebagai masjid kecil. Al-Qur'an menyebut rumah sebagai sakan—tempat tinggal yang menenangkan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda: "Janganlah kalian jadikan rumah kalian sebagai kuburan." Maksudnya, jangan biarkan rumah sunyi dari ibadah. Perbanyaklah shalat sunnah, tilawah Al-Qur'an, dan dzikir bersama di rumah.
Ketiga, tanamkan kesadaran bahwa melayani keluarga adalah ibadah. Ketika seorang suami mencari nafkah untuk keluarganya, itu adalah sedekah. Ketika seorang istri memasak untuk suami dan anak-anaknya, itu adalah jihad di jalan Allah. Ketika kita membersihkan rumah, mencuci pakaian, atau mengurus anak, semua bisa menjadi amal saleh jika diniatkan karena Allah.
Keempat, jaga lisan dan perilaku. Al-Qusyairī dalam Al-Risālah mengingatkan bahwa seorang sufi adalah mereka yang lisannya selalu basah dengan dzikir, namun juga pandai menjaga lisan dari menyakiti orang lain. Di rumah tangga, kita harus ekstra hati-hati dengan ucapan. Sebab, luka fisik bisa sembuh, tapi luka hati akibat ucapan kasar bisa membekas seumur hidup.
Kelima, biasakan meminta maaf dan memberi maaf. Tidak ada rumah tangga yang sempurna. Konflik pasti terjadi. Yang membedakan adalah bagaimana kita mengelolanya. Dalam tasawuf, meminta maaf adalah latihan untuk merendahkan ego (tawāḍu‘), sementara memberi maaf adalah latihan untuk memancarkan rahmah. Keduanya adalah jalan pintas menuju surga.
Pulang Ke Rumah, Pulang Ke Surga
Di penghujung abad ke-20, seorang sufi kontemporer asal Turki, Syaikh Muhammad Fatih, pernah berpesan kepada para muridnya: "Jika kalian ingin merasakan sedikit saja dari keindahan surga, pulanglah ke rumah dan lihatlah wajah pasangan kalian dengan penuh cinta.
Jika kalian ingin merasakan sedikit saja dari ketenangan surga, duduklah bersama anak-anak kalian dan bacakan untuk mereka ayat-ayat Al-Qur'an. Jika kalian ingin merasakan sedikit saja dari kedamaian surga, maafkanlah kesalahan pasangan kalian sebelum kalian tidur."
Pesan ini menggema dalam lembaran-lembaran Jami' al-Ushul fi al-Auliya' yang kita baca. Bahwa para wali tidak selalu berada di puncak gunung. Mereka juga ada di dapur, mencuci piring. Mereka juga ada di kamar tidur, membacakan doa untuk pasangan.
Mereka juga ada di ruang keluarga, tertawa bersama anak-anak. Mereka adalah orang-orang yang memahami bahwa jalan menuju surga tidak selalu harus ditempuh dengan meninggalkan dunia, tetapi dengan menyelami dunia tanpa tenggelam di dalamnya.
Sakinah, mawaddah, wa rahmah bukan sekadar konsep romantis dalam Al-Qur'an. Ia adalah jalan spiritual yang nyata. Ia adalah tangga menuju Allah yang terbentang dari ruang tamu hingga dapur. Ia adalah pintu surga yang tidak terkunci—menunggu untuk kita buka setiap hari, dengan senyuman, dengan kelembutan, dengan cinta, dan dengan kasih sayang.
Maka, mari pulang ke rumah. Karena di sanalah surga sejati sedang menanti. Seperti kata penyair sufi, Jalaluddin Rumi:
"Surga tidak berada di awan atau di bintang.
Surga berada di jantung yang bersih,
Di rumah yang dipenuhi cinta,
Di senyuman pasangan yang tulus,
Dan di maaf yang tulus di akhir malam."
Wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb.
Editor : Redaksi