Lebaran Lebih Awal di Al-Ishlah Bondowoso, KH Thoha Tekankan Kedewasaan Sikapi Perbedaan
Bondowoso, JatimUPdate.id – Di tengah perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri, lebih dari 1.000 jemaah memadati lapangan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ishlah Bondowoso untuk melaksanakan Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah, Jumat (20/3/2026).
Salat Id yang digelar lebih awal dari keputusan pemerintah itu dimulai pukul 06.15 WIB dan berlangsung khidmat.
Sejak pagi, jemaah berdatangan dari berbagai penjuru, mulai dari masyarakat sekitar, wali santri, hingga luar daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, dan wilayah Tapal Kuda.
Dalam pelaksanaannya, Gus Zaky Zeynel Abidin bertindak sebagai imam, sementara khutbah disampaikan oleh Gus Ahmad Muhajir Kamil.
Dalam khutbahnya, Gus Ahmad Muhajir Kamil mengingatkan agar nilai-nilai Ramadan tidak berhenti setelah hari raya.
“Ramadan telah melatih kita menahan diri, memperbanyak ibadah, dan peduli kepada sesama. Nilai-nilai itu harus tetap hidup dalam keseharian,” pesannya di hadapan jemaah.
Perbedaan Tak Perlu Dipertentangkan
Sementara itu, Pimpinan Ponpes Al-Ishlah Bondowoso, KH Thoha Yusuf Zakariya, menekankan pentingnya menyikapi perbedaan penentuan awal Syawal dengan sikap dewasa dan saling menghormati.
“Tidak usah merasa paling benar atau paling tahu. Semua memiliki dasar dan alasan masing-masing,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perbedaan dalam penafsiran hadis Nabi Muhammad SAW terkait rukyatul hilal merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam.
Menurutnya, hadis tentang penentuan awal Ramadan dan Idulfitri bersifat global, sehingga membuka ruang perbedaan dalam praktiknya di berbagai wilayah.
“Perbedaan ini seharusnya menjadi ruang memperkaya wawasan, bukan justru memicu perpecahan,” tegasnya.
Sebelumnya, KH Thoha juga menjelaskan bahwa penetapan Ramadan dan Idulfitri di Ponpes Al-Ishlah didasarkan pada dalil Al-Qur’an dan hadis, melalui metode rukyatul hilal yang dipadukan dengan acuan kalender Ummul Qura Arab Saudi.
Jaga Ukhuwah, Hindari Ego
Lebih jauh, KH Thoha mengingatkan bahwa menjaga ukhuwah jauh lebih penting daripada memperdebatkan perbedaan.
Ia menyinggung sikap ego sebagai salah satu penyebab retaknya hubungan sosial, seperti merasa paling benar atau meremehkan pihak lain.
“Yang paling penting hari ini adalah menjaga ukhuwah kita sampai kita menghadap Allah SWT,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa permusuhan dapat menghalangi turunnya rahmat Allah dalam kehidupan.
Empat Pilar Kehidupan Harmonis
Dalam pesannya, KH Thoha merumuskan empat nilai utama yang harus dijaga dalam kehidupan sosial:
• Ta’aruf (saling mengenal)
• Ta’awun (saling menolong)
• Takaful (saling peduli)
• Tasamuh (toleransi)
Selain itu, ia mengajak jemaah untuk menghidupkan budaya saporaan atau saling memaafkan, terutama di momentum Idulfitri.
“Jangan saling mencela, yang penting saling menyapa. Kita tidak tahu apakah ini Idulfitri terakhir bagi kita,” pesannya.
Refleksi Hidup: Disabari, Disyukuri, Disenyumi, Dicintai
Di akhir penyampaiannya, KH Thoha membagikan pesan reflektif sederhana tentang cara menjalani hidup dengan penuh syukur.
“Disabari, disyukuri, disenyumi, dan dicintai. Apa pun kondisinya, itu adalah pemberian Allah,” ucapnya.
Salat Idulfitri ditutup dengan suasana hangat. Jemaah saling bersalaman, berpelukan, dan bermaafan—menegaskan bahwa di atas segala perbedaan, kebersamaan tetap menjadi nilai utama yang dijaga. (ries/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat