Pembelajaran dari Benturan Doktrin Militer dalam Perang Teluk 2026

Dari "Potong Kepala" Ke Perang Tak Berujung

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi Perang Iran versus AS-Israel
Ilustrasi Perang Iran versus AS-Israel

 

Oleh Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto

 

Jakarta, JatimUPdate.id -

Pengantar: Dua Cara Melumpuhkan Musuh

Dalam strategi militer modern, terdapat dua metode yang kontras guna melumpuhkan lawan. Pertama, menghancurkan kepimpinanan politik, membunuh figur kunci pengambil keputusan, dan/atau luluh lantakan pusat kendali. Kedua, menyebarkan kekuatan sehingga tak bisa dipatahkan sekaligus. Kedua metode, terlihat berlawan.

Kontras, tapi dapat dilaksanakan secara bersamaaan. Ini disebut pula antinomi: tarik menarik juga tolak menolak.

Metode pertama dikenal decapitation doctrine. Juga populer disebut “doktrin potong kepala” sebagai strategi menyerang untuk melumpuhkan musuh dengan menargetkan pucuk pimpinan. Entah pemimpin tertinggi negara, misalnya, atau komandan militer, ataupun pusat komando strategis dan lainnya. Niscaya serangan dilakukan secara cepat dan presisi, dan biasanya dilakukan melalui drone, serangan udara, atau operasi pasukan khusus.

Tujuan serangan ini menciptakan kekosongan kekuasaan, memicu kepanikan, lalu meruntuhkan sistem dan struktur dari atas hingga bawah dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Pada banyak kasus, pendekatan ini relatif efektif, bahkan menjadi andalan dalam berbagai operasi militer modern. Contoh, “pembunuhan” Moamar Gaddafi di Libya dan Saddam Husein di Irak. Atau, persekusi terhadap Bashar al-Assad di Syria. Juga penangkapan Nicolas Maduro di Venezuela pada 3 Januari. Pun pada tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei dan pemuka militer dan intelejen Iran lainnya. Itulah praktik operasional doktrin potong kepala di atas. 

Tapi di sisi lain, muncul metode kedua: Mosaic Defense Doctrine . Doktrin ini, alih-alih bergantung pada satu pusat kekuasaan, strategi ini justru memecah kekuatan militer menjadi unit-unit kecil otonom, tersebar, dan ia mampu bertindak independen. Setiap unit memiliki daya tempur, kemampuan intelijen, dan punya komando sendiri. Ini distribusi kekuasaan yang tersentralisasi. Doktrin ini kokoh jika modal sosial dalam organisasi itu utuh dan mendalam. Ikatan utamanya adalah nilai-nilai yang diwujudkan dalam komitmen dan dilaksanakan dengan jujur tapi konsisten menjaga jejaring dengan akuntabilitas kepemimpinan yang luhur dan bertanggung jawab. 

Tujuan metode kedua bukan kemenangan cepat, melainkan daya tahan ekstrem. Ia memastikan bahwa perang tetap berlangsung bahkan ketika pusat komando dihancurkan. Dengan kata lain, tatkala “kepala” dipotong, tubuh masih bergerak dan terus melawan. Ini yang terjadi pada Iran saat Ali Khamenei terbunuh dan dalam hitungan beberapa saat Iran malah menyerang dengan sengit namun penuh perhitungan sehingga Tel Aviv berantakan.

Lalu Mojtaba Khamenei dengan tenang mengatakan, “kami akan berperang sampai dengan personil terakhir tewas.” Alih-alih cemas atas serangan rudal AS dan Israel, rakyat Iran justru merespon dengan penuh semangat dan patriotik.

Jurus “Potong Kepala” Gagal Melumpuhkan

Perang di Teluk antara Iran versus Amerika Serikat (AS)-Israel sejak awal 2026 menjadi realitas skenario atas benturan operasional dari dua doktrin itu.

Serangan awal yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran dirancang sebagai operasi presisi tinggi: cepat, akurat, dan menentukan. Secara taktis, operasi itu sangat berhasil. Tapi secara strategis, hasilnya justru berbalik arah. AS salah perhitungan.

Kenapa demikian?

Alih-alih menciptakan kekosongan kekuasaan dan kepanikan, kematian Ali Khamenei malah menjadi katalis perlawanan.

Respons militer Iran berlangsung cepat dan terkoordinasi. AS-Israel sendiri kaget. Di satu sisi, Iran berkabung atas tewasnya pemimpinnya. Di sisi lain serangan balasan dilancarkan secara masif lagi bertubi-tubi. Namun efek psikologisnya meluas. Bukan demoralisasi, melainkan mobilisasi nasional karena muncul common enemy (musuh bersama). Mereka yang awalnya berteriak HAM dan demokrasi mendapatkan bukti menyesakkan dada, AS dan Israel adalah pembunuh yang tidak berperikemanusiaan.

Simbol-simbol perlawanan tumbuh serta marak berkembang. Narasi balas dendam menguat. Rakyat tidak tercerai-berai, justru menyatu dalam semangat kolektif. Di sinilah, asumsi dasar decapitation strike mulai retak: “sistem akan runtuh ketika pemimpinnya dihilangkan”.

Ternyata Iran bukanlah Libya, bukan juga Syria, tak pula Venezuela. Iran membuktikan bahwa mereka bangsa yang memiliki sejarah panjang dalam peperangan.

Bangsa Arya ini menunjukkan bahwa peradaban mereka tidak luluh lantak karena sanksi dan embargo ekonomi serta serangan militer yang mematikan tokoh-tokoh kunci pemerintahan dan peperangan.

Di sini Iran mengirim pesan mengejutkan ke publik global bahwa kepemimpinan dalam sistem politik dan ekonomi mereka tidak disandarkan dan didasarkan pada materialisme.

Khomeini, Ali Khamenei, dan Mojtaba Khamenei adalah pemimpin Iran yang rujukan utamanya pada ketangguhan dan keteguhan menegakkan kebaikan dan kebenaran berdasarkan ajaran Islam.

Rujukan sistem ini sebenarnya yang hendak dibumi hanguskan AS dan Israel dan ditolak sejumlah tokoh intelektual muslim di Indonesia. Jika AS pada perang Irak berhasil menghapus jejak peradaban negeri 1001 malam, namun dalam memerangi Iran ceritanya menjadi sangat berbeda. Inilah yang kami maksud pada artikel-artikel sebelumnya. Yakni fenomena perang peradaban Barat terhadap Islam.

Mengabaikan Faktor Non Militer: Kekeliruan Perencanaan

Dalam penyerangan AS-Irael ke Iran 28 Februari lalu, keunggulan teknologi dan prediksi intelijen memang tak terbantahkan. Sangat presisi walau sebelumnya tanpa otorisasi Kongres AS.

Namun, perang terkini bukan soal akurasi target. Ada variabel yang kerap diabaikan: kronologi-sejarah, identitas, dan doktrin ideologis suatu bangsa. Mungkin di situ letak kesalahannya.

Iran bukan sekadar organisasi bangsa dan negara kontemporer. Ia adalah peradaban dengan jejak panjang (Bangsa Arya). Memori kolektifnya kuat dengan tradisi perlawanan yang kokoh-mengakar.

Dalam konteks ini, kepemimpinan bukan persoalan individu, melainkan simbol yang diwariskan dan direproduksi secara cepat melalui sistem yang dianut. Mesin sosial politiknya sangat terbiasa dengan tekanan dan kondisi terbatas namun memiliki mitigasi yang cepat dan responsive.

Kekeliruan mendasar intelijen Barat bukan pada eksekusi dan daya serangan, melainkan pada analisis kronologi-historis dan kokohnya identitas agama serta pembacaan atas dampak dari operasi tersebut.

Daya analisis yang cenderung teknokratis kuantitatif memang tidak salah, namun ia gagal memprakirakan bahwa “kematian” seorang pemimpin bisa menjadi energi sosial dan daya militer yang jauh lebih dahsyat, melampau kondisi sebenarnya. Ini yang terjadi di Iran setelah kematian pemimpin tertingginya. Nyaris seperti perang Badar yang terjadi di saat puasa Ramadhan sedang berlangsung. Bayangkan, di saat terik matahari, pasukan sedang berpuasa namun perang harus dijalani. Jika bukan karena semangat keimanan, nyaris rasionalitas tidak mampu menjawab bagaimana perang harus dijalani. Barat memang mengakui, decapitation doctrine efektif terhadap satu objek, pemimpin tertinggi. Namun doktrin ini lemah menghadapi modal sosial yang utuh menyeluruh dan kokoh. Di sini doktrin “potong kepala” tolak menolak dengan doktrin pertahanan dan ketahanan mosaik.

IDUL FITRI 1447H JATIM UPDATE

Doktrin Mosaik: Bukan Kemenangan, Hanya Kendalikan Narasi Perang

Relevansi dan koherensi Mosaic Defense Doctrine pun menjadi nyata. Melalui struktur yang terdesentralisasi memusat, sistem pertahanan tidak bergantung pada satu titik/struktur. Setiap unit menjadi “miniatur negara” yang mampu bertahan, beradaptasi, dan menyerang tanpa perlu komando pusat. Artinya, dinamika terdesentralisasi memusat dan terpusat menyebar terstruktur beroperasi dalam mata rantai unsur-unsur modal sosial politik.

Model seperti ini mungkin tegak jika setiap pimpinan struktur taat pada sistem dan pemimpin. Suatu model organisasi hibrida antara garis lini dan fungsi dengan fokus tercapainya sasaran namun tidak mengabaikan dampak lanjutan sambil memberi penghargaan dan penghormatan kepada semua unit modal sosial politik.

Model seperti ini tidak mungkin dilaksanakan pada bangsa yang surplus penghianat dan penjilat namun defisit negarawan seperti Indonesia.

Akibat pelaksanaan doktrin mosaik ini, musuh dihadapkan pada dilema klasik, kemenangan hanya bisa diraih dengan biaya sangat mahal baik secara militer, ekonomi, maupun politik. Bahkan ketika menang pun, hasilnya adalah pyrrhic victory. Yakni kemenangan yang justru menghancurkan pihak pemenang. Atau, menang tapi luluh-lantak. Ungkapan lainnya, menang jadi debu, kalah jadi abu. Inilah zero sum game negatif, sebagaimana Trump, Hegseth dan Rubio sedang menghadapinya.

Pada gilirannya, suatu peperangan bukan lagi tentang siapa yang menang secara cepat, tetapi siapa yang mampu bertahan lebih lama. Itulah doktrin mosaik yang membidani model perang altrisi alias perang asimetris. Perang yang menguras sumber daya, mengguncang moral prajurit, menggerus logistik serta melemahkan dukungan politik baik domestik maupun dukungan internasional.

Buktinya? Para sekutu Amerika kini malah menjauh tatkala diajak Trump agar ikut membebaskan Selat Hormuz dari blokade rezim Iran. Saat menyahuti penolakan para anggota sekutu, Trump menegaskan, kita tidak butuh bantuan siapapun. Pernyataan ini mengiringi ungkapan Hegseth yang membutuhkan 200 miliar dolar AS untuk membunuh orang jahat.

Penolakan itu dan permintaan dana 200 miliar dolar AS ke Kongres AS itu menunjukkan, peperangan AS terhadap Iran adalah perang yang mahal. Diperkirakan biaya perang perhari 1,8 miliar dolar AS di saat kondisi ekonomi AS masih sibuk mengatasi inflasi, pengagguran, ketimpangan, tuna wismanya warga senior dan kalangan anak-anak dan remaja dengan orang tua Tunggal, dan mahalnya biaya kesehatan.

Dari Perang Kilat ke Perang Berkepanjangan

Harapan akan perang singkat di Teluk ---sesuai rencana Trump--- tampaknya semakin jauh panggang dari api. Indikasi paling jelas terlihat dari perubahan sikap: ketika tawaran dialog muncul dari pihak yang mengawali serta memilih jalur militer, respons Iran tegas: menolak didikte dalam menentukan akhir konflik. Teheran bersedia gencatan senjata dengan syarat keras (1) AS berjanji tidak menyerang lagi. Iran bahkan menyampaikan prasyarat bahwa Iran bersedia menghentikan serangan jika AS dan Israel menghentikan agresi terlebih dahulu; (2) harus ada pengakuan bahwa perang dimulai AS dan Israel; (3) mengganti kerugian atas kerusakan dan korban; (4) mengakui hak-hak Iran sebagai wujud tidak ada lagi agresi ulang. Iran tidak ingin terjebak dalam gencatan senjata. Karena perang adalah konflik sistemik struktual jangka panjang. Alasan ini memberi pemahaman, serangan AS dan Israel kepada Iran adalah soal Iran yang menghambat terwujudnya Israel Raya di Kawasan Teluk, Iran yang independen dalam masalah penggunaan dolar AS, Iran merupakan contoh nyata bagi banyak negara yang ingin terlepas dari cengkeraman penguasa keuangan global (Rothschild dan Rockefeller), dan Iran yang merasa membutuhkan mempersenjatai diri guna mengatasi agresi dan invasi militer dan ekonomi. Alasan ini merupakan pesan tersirat dan terselubung dalam National Defense Strategic of USA 2018 dan 2022. Iran tidak bernarasi, tapi memberi bukti bahwa harga diri bangsa tidak dapat ditindas, diinvasi, diintervensi, diinfiltrasi, diinterferensi, dan diintimidasi oleh kekuatan keuangan dan militer.

Narasi yang sebenarnya indoktrinasi asing tidak mungkin menjadi persepsi jika bangsa dan negara objek itu berdaulat dalam gatra kehidupan bersamaan dengan pemimpin yang akuntabel, jujur, lurus, cerdas, dan arif bijaksana pada rakyat namun tegas pada penindas.

Tentu pemimpin yang tidak mengutamakan kepentingan dirinya dibanding kebutuhan dan aspirasi rakyatnya. Ya, pemimpin yang memahami kapan harus bicara dan bila wajib diam.

Jelas, dalam panggung global berjiwa liberal, kendali narasi perang berperan untuk menunjukkan siapa yang jujur dan mampu menegakkan moralitas global dan kuat memegang komitmen. Bersamaan dengan perang narasi dan sikap partisan media arus utama Barat, dua doktrin yang kita bahas menunjukkan, narasi tidak dimiliki oleh satu pihak. Itu pesan tersirat.

Maka daya tawar Iran sesungguhnya diakui meroket di panggung global, khususnya di mata AS dan sekutunya.

Secara militer, Iran kewalahan walau belum kalah. Namun dalam lingkup non militer, peperangan ini telah dimenangkan Iran. Lagi-lagi kita memperoleh bukti empiris bahwa sikap egosentris mau menang sendiri, tidak jujur, serakah, atau ringkasnya munafik struktural, pasti akan luruh jika lawannya memiliki kesejatian akan hakikat kemanusiaan yang memanusiakan manusia dengan contoh terbukti tangguh menghadapi turbulensi sosial ekonomi politik.

Era Baru Doktrin Militer

Konflik ini memberi pelajaran penting bagi dunia: keunggulan teknologi dan presisi tidak cukup untuk menjamin kemenangan strategis. Katakanlah, jika hal ini disebut perang post-modern, maka ia merupakan orkestrasi antara kekuatan militer, ketangguhan sistem, doktrin, dan kedalaman identitas kolektif. Doktrin “potong kepala” mungkin masih relevan pada momen tertentu, tetapi ia bukan lagi menjadi solusi universal.

Di hadapan sistem memusat terdesentralisasi atau desentralisasi terpusat dan masyarakat yang tangguh-berideologi, strategi potong kepala justru berbalik menjadi bumerang.

Tak pelak, dunia seperti memasuki fase baru: ketika menghancurkan pusat tidak berarti mengakhiri perlawanan -- ia justru memperpanjang tempo peperangan. Ini terbukti dengan syarat-syarat melakukan dialog yang diajukan Iran. Sayangnya, sebelum serangan akhir Februari awal berlangsung, Trump pernah mengutus Steve Witkoff dan Jared Kushner untuk berdialog dengan Iran. Trump berharap, utusannya membuahkan hasil Iran menjadi jinak melalui kesepakatan antar elite politik. Gagalnya negosiasi utusan ini juga menunjukkan, Trump mengandalkan tawar menawar kepentingan secara langsng dan personal tidak didasarkan atas pemahaman siapa yang dihadapi Witkoff dan Kushner.

Penutup: Ilusi Kemenangan

Pada akhirnya, perang terkini memaksa kita mengakui satu hal yang kerap ditolak oleh para perancang strategi: tidak semua sistem bisa dihancurkan dari atas. Atau, dalam bahasa intelektualnya, tidak semua target-persoalan bisa diselesaikan oleh satu teori. Pertimbangan FLUX sebenarnya merekomendasi hal-hal demikian, bahwa kepemimpinan di era FLUX harus berani meninggalkan pola/teori yang dahulu dianggap berhasil menyelesaikan setiap masalah.

Doktrin “potong kepala” lahir dari asumsi tua, bahwa struktur kekuasaan yang vertikal-terpusat akan rapuh ketika pucuknya luruh. Hari ini, perlawanan Iran justru menyuguhkan hal sebaliknya: transformasi kekuatan secara horizontal-menyebar. Setiap kali ditekan dan ditekan, transformasi ini membidani bentuk baru baik tangible ataupun intangible.

Pemimpin mungkin jatuh. Tapi yang bangkit adalah sistem yang lebih cair, lebih liar, lagi sulit dikalahkan.

Dalam hal ini, kemenangan dan kekalahan tidak lagi ditentukan siapa yang paling presisi menembak, tetapi siapa keliru membaca realitas dan di balik realitas. Sebab, kesalahan terbesar dalam pertempuran bukan salah bidik tatkala peluru meleset, melainkan pada asumsi yang lemah sejak dari perencanaan. Juga pada motivasi yang melatar belakanginya, pada nilai-nilai yang membakar semangat, dan pada kesadaran puncak bahwa tidak mungkin kedzaliman selalu berkesinambungan. 

Maka pertanyaan paling jujur kepada para pihak dalam konflik di Teluk Persia, bukan lagi siapa yang akan menang, melainkan apakah kemenangan itu masih ada di pihaknya? Dan apa makna kemenangan itu bagi rakyat? Tegak karena bermartabat, atau memaksa percaya diri agar terlihat tangguh walau sesungguhnya rapuh.

Jika perang terus berlangsung tanpa komando pusat, niscaya berakhirnya samar. Bila tanpa kemampuan untuk melumpuhkan lawan secara maksimal menyeluruh-- yang tersisa hanyalah ilusi kemenangan yang harus dibayar dengan kehancuran fatal lagi nyata. Itulah pyrrhic victory. Bukankah ini sudah terjadi pada ilusi demokrasi liberal?

Di sanalah paradoks terbesar abad ini: semakin canggih sebuah perang dirancang untuk mengakhiri konflik dengan cepat, justru semakin besar peluang menciptakan perang yang tidak pernah benar-benar selesai. Sekali lagi, perang kini bukan lagi tentang menang atau kalah. Tetapi, siapa yang lebih dulu menyadari bahwa kualitas manusia secara utuh yang utama dan permainan lama sudah berubah dengan nilai-nilai hakiki yang tidak pernah punah.

Wait and see.

*##innsy&map##*
*JKT, 200326*