Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 25/03/2026

Revolusi Kendaraan Listrik

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh Abdul Rohman Sukardi 

Pengamat Sosial, Politik dan Hukum

 


Jakarta, JatimUPdate.id - Indonesia sedang berada di persimpangan sejarah energi. 

Pada satu sisi, ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM) terus meningkat. Menggerus devisa dan memperlemah ketahanan ekonomi. 

Pada sisi lain, elektrifikasi transportasi membuka peluang keluar dari jebakan impor energi. 

Pertanyaannya bukan lagi apakah revolusi kendaraan listrik akan terjadi. Melainkan: berapa besar nilai ekonomi yang bisa diselamatkan untuk kemandirian nasional.

Konsumsi BBM sektor transportasi Indonesia diperkirakan 70 miliar liter per tahun. Dengan harga rata-rata sekitar Rp10.000 per liter, nilai ekonomi yang dibakar mencapai Rp700 triliun per tahun. 

Pada harga keekonomian Rp12.000–Rp14.000 per liter, nilainya naik menjadi Rp840–Rp980 triliun. Ini setara sekitar sepertiga APBN—beban ekonomi struktural yang terus berulang.

Karena produksi dalam negeri belum mencukupi, sekitar 40–50% kebutuhan BBM berasal dari impor. Artinya, setiap tahun Rp280–Rp400 triliun mengalir keluar negeri. Ini menekan neraca perdagangan, nilai tukar, dan ketahanan ekonomi.

Dalam konteks ini, revolusi kendaraan listrik menjadi sangat relevan. Pada adopsi 25%, potensi penghematan mencapai Rp175–Rp245 triliun per tahun. Pada 50%, meningkat menjadi Rp350–Rp490 triliun. 

Dalam skenario penuh, penghematan mencapai Rp700–Rp980 triliun per tahun. Ini bukan sekadar efisiensi. Tetapi redistribusi kekayaan nasional yang dapat dialihkan ke investasi, infrastruktur, dan teknologi.

Indonesia juga memiliki keunggulan strategis: cadangan nikel besar sebagai bahan utama baterai. Nilai tambah meningkat tajam sepanjang rantai: dari nikel mentah, ke bahan baterai, ke battery cell, hingga kendaraan listrik—dengan nilai tertinggi di hilir. Artinya, semakin ke hilir, semakin besar nilai yang bisa ditangkap di dalam negeri.

Kebijakan hilirisasi telah menjadi fondasi penting. Namun, Indonesia masih dominan di tahap bahan. Belum sepenuhnya menguasai teknologi inti yang menyimpan nilai terbesar.

Di sisi lain, pasar domestik sangat besar—lebih dari 140 juta kendaraan. Dalam satu dekade, potensi pasar kendaraan listrik bisa mencapai ribuan triliun rupiah. 

Skala ini memungkinkan pembangunan industri berbasis permintaan internal, dimulai dari motor listrik, lalu berkembang ke baterai dan kendaraan.

Namun, penghematan BBM berarti pergeseran ke listrik. Keberhasilan revolusi ini bergantung pada sumber listrik domestik, industri baterai, dan penguasaan teknologi. Tanpa itu, ketergantungan hanya berpindah bentuk.

Pada akhirnya, revolusi kendaraan listrik adalah transformasi struktural. Dari konsumsi energi impor menjadi produksi energi dan teknologi domestik. 

Nilai Rp700–Rp980 triliun per tahun menunjukkan skala peluang yang dipertaruhkan. Jika dimanfaatkan tepat, Indonesia dapat memperkuat kedaulatan ekonomi. 

Jika tidak, hanya akan berpindah dari satu ketergantungan ke yang lain.

Momentum itu sedang berlangsung sekarang.


Jakarta, ARS ([email protected]). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.