catatan tangan kanan _wiedmust-180626_

Dari Bolu Ketan ke Popularitas Politik

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi Bahlil Lahadalia
Ilustrasi Bahlil Lahadalia

Oleh widodo, p.hd,.

pengamat keruwetan sosial

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Tidak ada yang menyangka bahwa di tengah isu perang Iran-Israel, ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, perebutan energi dunia, perlambatan ekonomi global, hingga berbagai persoalan domestik yang menyita perhatian publik, sebuah lagu sederhana justru berhasil mencuri panggung.

Bukan lagu kebangsaan.

Bukan pula lagu kampanye resmi.

Melainkan lagu yang lahir dari kreativitas liar media sosial dan kemudian beredar tanpa diketahui pasti siapa penciptanya.

Namanya sederhana: _MBG Mas Bahlil Ganteng._

Namun dari situlah kita belajar bahwa di era digital, perhatian publik sering bergerak dengan cara yang tidak masuk dalam buku panduan politik mana pun.

Kadang pidato panjang kalah oleh potongan video 30 detik.

Kadang konferensi pers kalah oleh meme.

Dan kadang strategi komunikasi yang dirancang berbulan-bulan harus mengakui keunggulan sebuah lagu yang diciptakan secara spontan oleh warganet.

Politik memang sering kali berjalan dengan logika yang unik.

Kadang sebuah pidato berdurasi satu jam tidak meninggalkan kesan apa-apa. Sebuah seminar dengan puluhan slide presentasi berlalu begitu saja. Bahkan baliho raksasa yang berdiri berbulan-bulan di pinggir jalan sering kali luput dari perhatian.

Namun sebuah lagu sederhana, yang mungkin diciptakan sambil menyeruput kopi atau menunggu nasi goreng matang, tiba-tiba mampu membuat satu nama terus berputar di kepala publik.

Belakangan ini lagu "MBG Mas Bahlil Ganteng" menjadi fenomena tersendiri. Lagu yang awalnya terdengar seperti candaan, bahkan oleh sebagian orang dianggap sebagai olok-olok, justru berhasil membuat nama Bahlil Lahadalia semakin sering diperbincangkan.

Dan yang lebih menarik lagi, orang yang menjadi objek lagu itu ternyata tidak marah.

Tidak baper.

Tidak juga sibuk mencari siapa penciptanya untuk kemudian dikirim surat somasi dengan amplop tebal.

Sebaliknya, dalam perbincangannya bersama Prof. Rhenald Kasali, Bahlil justru menanggapinya dengan santai.

Ia mengaku tidak tersinggung, termasuk pada bagian lirik yang menyinggung warna kulit. Sebagai orang Timur yang tumbuh di Papua, ia menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau semua candaan harus dibawa ke meja hijau, mungkin pengadilan kita akan lebih ramai daripada konser musik.

Dari Bolu Ketan ke Teori Komunikasi

Menariknya, tanpa disadari pencipta lagu itu mungkin sedang mempraktikkan salah satu teori komunikasi yang sudah lama dikenal para akademisi.

Psikolog sosial menyebutnya sebagai Mere Exposure Effect.

Sederhananya begini: semakin sering seseorang melihat atau mendengar sesuatu, semakin akrab ia dengan hal tersebut.

Dalam politik, efek ini bekerja sangat kuat.

Nama yang terus muncul akan lebih mudah diingat.

Wajah yang terus terlihat akan terasa lebih familiar.

Dan lagu yang terus diputar akan membuat publik mengingat tokoh yang disebut di dalamnya.

Mungkin sebagian orang tidak hafal isi pidato seorang menteri.

Tetapi mereka hafal satu bait lagu yang terus berseliweran di media sosial.

Begitulah cara kerja otak manusia.

Kadang ilmiah.

Kadang juga agak lucu.

Ketika Media Sosial Menjadi Panggung Politik Baru

Ahli komunikasi Maxwell McCombs dan Donald Shaw pernah memperkenalkan teori Agenda Setting.

Intinya sederhana.

Media tidak selalu menentukan apa yang harus kita pikirkan.

Tetapi media sangat berpengaruh dalam menentukan apa yang harus kita perhatikan.

Ketika TikTok membahasnya.

Instagram mengulanginya.

YouTube membicarakannya.

Podcast mendiskusikannya.

Grup WhatsApp keluarga ikut mengirimkannya.

Maka perhatian publik secara otomatis tertuju pada satu nama yang sama.

Bahlil.

Apakah semua orang setuju dengannya?

Belum tentu.

Apakah semua orang menyukai kebijakannya?

Belum tentu juga.

Tetapi semua orang sedang membicarakannya.

Dan dalam dunia komunikasi politik, perhatian publik adalah mata uang yang sangat mahal.

Dikenal Belum Tentu Dipilih

Namun ada satu catatan penting.

Popularitas bukan elektabilitas.

Keduanya sering berjalan beriringan, tetapi tidak selalu sampai ke tujuan yang sama.

Sejarah politik Indonesia penuh dengan contoh tentang tokoh yang sangat terkenal tetapi gagal memenangkan kontestasi politik.

Kita pernah menyaksikan bagaimana lagu Mars Perindo begitu sering diputar hingga anak-anak kecil ikut menyanyikannya.

Tetapi keterkenalan sebuah lagu tidak otomatis berubah menjadi suara di kotak pemilu.

Sama seperti banyak orang hafal jingle iklan mi instan _Indomie_

Tetapi ketika belanja, mereka tetap membeli merek lain.

Politik ternyata lebih rumit daripada sekadar lagu yang viral.

Seni Menertawakan Diri Sendiri

Barangkali bagian paling menarik dari seluruh fenomena ini bukanlah lagunya.

Bukan pula jumlah tayangan videonya.

Melainkan respons orang yang menjadi sasaran candaan itu.

Di era ketika banyak tokoh publik begitu mudah tersinggung, mudah melapor, mudah marah, atau mudah merasa diserang, respons santai justru terasa menyegarkan.

Dalam teori komunikasi modern, ini disebut framing.

Peristiwa yang sama bisa menghasilkan persepsi yang berbeda tergantung bagaimana seseorang meresponsnya.

Andaikan Bahlil marah, mungkin publik akan melihat lagu itu sebagai penghinaan.

Tetapi ketika ia tertawa dan menganggapnya biasa, publik justru melihat sisi lain: kemampuan menerima kritik, candaan, dan olok-olok dengan kepala dingin.

Kadang-kadang satu senyuman mampu mengalahkan seribu klarifikasi.

Politik Tidak Harus Selalu Tegang

Indonesia sedang bergerak menuju tahun-tahun politik berikutnya.

Kita tahu apa yang biasanya akan datang.

Baliho.

Slogan.

Janji.

Debat.

Polling.

Lalu perang komentar yang panjangnya kadang lebih panjang daripada jalan yang dijanjikan akan dibangun.

Di tengah semua itu, fenomena seperti lagu MBG memberi pelajaran kecil bahwa politik tidak harus selalu hadir dalam wajah yang tegang.

Politik bisa hadir melalui humor.

Melalui budaya populer.

Melalui lagu sederhana.

Melalui candaan yang membuat orang tersenyum.

Tentu saja, demokrasi tidak boleh berhenti pada viralitas.

Kita tetap membutuhkan gagasan, program, rekam jejak, dan kinerja yang nyata.

Tetapi sesekali, tidak ada salahnya jika ruang politik kita diwarnai sedikit tawa.

Karena rakyat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara.

Rakyat juga menyukai pemimpin yang tidak kehilangan kemampuan untuk menertawakan dirinya sendiri.

Dan mungkin itulah pelajaran paling menarik dari lagu yang berawal dari candaan tentang bolu ketan, lalu berubah menjadi bahan diskusi tentang komunikasi politik, popularitas, dan cara menghadapi kritik dengan santai.

Sebuah lagu sederhana.

Sebuah fenomena digital.

Dan sebuah pengingat bahwa dalam politik modern, yang paling sulit bukanlah menjadi terkenal.

Melainkan tetap tenang ketika sedang terkenal.

Mungkin beberapa tahun dari sekarang publik akan melupakan lagu ini.

Nada dan liriknya perlahan menghilang ditelan tren baru yang terus berganti.

Namun fenomenanya layak diingat.

Karena ia mengajarkan satu pelajaran penting tentang politik modern.

Bahwa perhatian publik adalah komoditas paling mahal di abad digital.

Dan bahwa kemampuan menerima candaan, kritik, bahkan olok-olok dengan senyum yang tenang, terkadang lebih efektif daripada seribu baliho yang berdiri di sepanjang jalan.

Sebab pada akhirnya, politik bukan hanya soal kekuasaan.

Politik juga soal bagaimana seorang pemimpin hadir di tengah masyarakat, menghadapi sorotan, dan tetap mampu tersenyum ketika namanya sedang menjadi bahan lagu.

catatan tangan kanan
_wiedmust-180626_