Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 21/08/2026
Negara-Negara Muslim Pasca Pakta Mekah
Oleh Abdul Rohman Sukardi
Penulis Independen, esais, aktivis reformasi 1998. Menulis tema/isu Sosial, Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.
Jakarta, JatimUPdate.id - Pakta Mekah antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan layak dibaca lebih jauh dari sekadar perjanjian pertahanan tiga negara. Ia berpotensi menjadi titik balik konfigurasi strategis dunia Muslim.
Tiga negara itu memiliki kekuatan yang berbeda tetapi saling melengkapi. Saudi dengan modal, energi dan pengaruh dunia Arab. Turki dengan industri pertahanan, teknologi dan posisi geopolitik Eurasia. Pakistan dengan kekuatan militer, pengalaman strategis dan kemampuan deterrence.
Kesepakatan pertahanan kolektif membuat kekuatan tersebut tidak lagi berdiri sendiri. Melainkan mulai terhubung dalam satu kerangka strategis.
Yang menarik, kekuatan Pakta Mekah justru tidak perlu diperluas menjadi aliansi militer baru. Tiga negara itu dapat berfungsi sebagai hard core. Sementara negara-negara Muslim lainnya tetap berada dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) sebagai strategic partners.
Tidak diperlukan forum atau struktur baru. Yang berubah adalah pembagian kerja dan tingkat koordinasinya.
Efek paling penting dapat terasa di kawasan Teluk. Selama ini negara-negara Teluk memiliki kekuatan ekonomi yang besar, tetapi keamanan strategisnya relatif bergantung pada kekuatan eksternal.
Jika Saudi memiliki alternatif strategis melalui Turki dan Pakistan, ruang gerak negara-negara Teluk untuk membangun otonomi keamanan dan kerja sama regional juga semakin besar. Pakta Mekah, dengan demikian, dapat menjadi katalis bagi soliditas Teluk tanpa harus mengubahnya menjadi blok tertutup.
Di sinilah OKI memperoleh arti strategis baru. OKI tidak perlu menjadi “NATO Islam”.
Ia tetap menjadi payung politik dan diplomatik bagi dunia Muslim. Sementara Pakta Mekah menyediakan salah satu sumber hard power yang kredibel.
Negara-negara anggota dapat berkoordinasi sesuai kapasitas masing-masing. Energi dan modal dari Teluk. Teknologi dan industri dari Turki. Kekuatan strategis dari Pakistan. Diplomasi dan kekuatan ekonomi dari negara-negara Asia.
Indonesia mempunyai posisi unik dalam konfigurasi tersebut. Tidak perlu bergabung dengan Pakta Mekah.
Dengan politik luar negeri bebas aktif, posisi sentral di ASEAN dan keterhubungan dengan Indo-Pasifik, Indonesia justru dapat menjadi strategic partner yang membawa dimensi ekonomi, maritim dan diplomatik yang berbeda. Indonesia dapat menjembatani dunia Muslim dengan ASEAN dan Global South.
Maka kejutan geopolitiknya bukan lahirnya “NATO Islam”. Melainkan munculnya pembagian kerja strategis.
Pakta Mekah sebagai inti keras, OKI sebagai payung politik, dan negara-negara Muslim lainnya sebagai strategic partners.
Jika berkembang konsisten, dunia Muslim tidak perlu menjadi satu negara atau satu blok. Cukup menjadi semakin terhubung dalam keamanan, investasi, energi, teknologi dan diplomasi.
Ketika keterhubungan itu menghasilkan kepentingan bersama, persatuan tidak lagi sekadar slogan. Melainkan mulai menjadi kekuatan strategis yang nyata.
Jakarta, ARS ([email protected]).
Editor : Redaksi