Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 22/09/2026
Film dan Produsen Cinema Digital: Masalah National Pride
Oleh Abdul Rohman Sukardi
Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.
Jakarta, JatimUPdate.id - Indonesia sedang mengalami pertumbuhan industri film. Namun ada persoalan ide yang layak dipertanyakan. Mengapa kekayaan sejarah dan pengalaman nasional kita belum menjadi sumber cerita utama dalam film dan sinema digital Indonesia?
Data 2024 menunjukkan 285 film nasional diproduksi. Secara genre, 49,5 persen adalah drama dan 30,5 persen horor.
Di balik drama, tema yang menonjol adalah percintaan, perceraian, konflik keluarga dan problem rumah tangga. Horor banyak mengangkat pesugihan, balas dendam, kerasukan dan persoalan moral.
Sementara tema sejarah, kepahlawanan, pencapaian nasional dan perjalanan bangsa relatif kecil. Ini bukan soal drama dan horor tidak baik. Persoalannya adalah sumber tema kita belum cukup beragam dan belum cukup menggali “cerita kita”.
Bandingkan dengan negara lain.
Di Amerika Serikat, "national mythology hadir melalui frontier" dan cowboy, Revolusi Amerika, Civil War, Perang Dunia, kepahlawanan militer hingga eksplorasi ruang angkasa. Semuanya diolah menjadi western, war movie, action, biopic dan science fiction.
Di RRC, kerajaan, perang, tokoh pahlawan, revolusi, wuxia dan mitologi Tiongkok menjadi sumber cerita populer. Survei 2024 menunjukkan 35,1 persen penonton menyukai drama sejarah/spionase.
Korea juga mengolah kerajaan, pendudukan Jepang, perjuangan kemerdekaan, perang, pembagian Korea dan industrialisasi menjadi drama, thriller, action dan film sejarah.
Ini menunjukkan bahwa national pride bukan berarti pasar kecil. Sejarah dan identitas nasional justru dapat menjadi bahan entertainment massal ketika dikemas dengan genre yang menarik.
Secara teoritik, film dapat membentuk national imaginary. Ialah cara masyarakat membayangkan siapa “kita”, dari mana kita berasal, siapa yang kita kagumi dan pengalaman apa yang kita anggap penting.
Indonesia memiliki bahan yang luar biasa. Diantaranya kerajaan Nusantara, kekuatan maritim, perlawanan terhadap Portugis dan VOC, Sultan Hasanuddin, Sultan Agung, Diponegoro, Cut Nyak Dhien, Pattimura, Sisingamangaraja, Sultan Nuku, Sumpah Pemuda, revolusi kemerdekaan hingga pencapaian Indonesia modern.
Masalahnya bukan kekurangan cerita. Kita kekurangan keberanian industri untuk mengolahnya.
Di sini *mental inlander* patut dipertanyakan. Apakah sebagian produsen terlalu mudah menganggap referensi asing lebih modern, lebih keren dan lebih menjual. Sementara sejarah sendiri dianggap kuno?
Yang diperlukan adalah penguatan “cerita kita” dalam film nasional. Bukan propaganda, bukan pula keharusan meninggalkan formula pasar.
Sejarah kita dapat menjadi action, thriller, romance, adventure, fantasy atau political drama.
Produsen film dan sinema digital dapat menjadi nasionalis sekaligus pebisnis. Mereka dapat memperkuat nasionalisme melalui film yang menarik tanpa mengorbankan minat pasar.
Tugasnya bukan mengatakan “Indonesia hebat”. Tugasnya membuat penonton merasa: “Cerita kita ternyata juga bisa sehebat itu.”
National pride bukan hanya potensi ekonomi. Ia adalah kesempatan bagi produsen digital untuk menjadi pejuang bangsa melalui cerita.
Menghibur, memenangkan pasar, sekaligus memperkuat keyakinan. Bahwa sejarah, manusia dan masa depan Indonesia layak menjadi pusat cerita.
Jakarta, ARS ([email protected]).
Editor : Redaksi