Catatan Mas AAS

Berkah Bumi Aku Panen Malam Ini

Reporter : -
Berkah Bumi Aku Panen Malam Ini

Melupakan cara menggali bumi dan merawat tanah berarti melupakan diri sendiri."* (Mahatma Gandi)


Membaca buku membuka jendela dunia. Membaca kamu membuka luka di hatiku!

Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Sambil duduk di emper rumah. Mengamati lingkungan sekitar rumah nan hening petang tadi.

Membaca alam sekitar dengan segala tanda dan sapa yang dilakukan alam raya, adalah sebuah _kelangenan_ lawas yang tak pernah lupa aku tinggalkan. Dimana pun saja. Suka saja. Tak lebih daripada itu. Melakukannya bisa membuatku senang, tenang, dan nyaman. Pohon mangga di samping rumah yang semakin tua usianya tak sekalipun ia lupa tuk berbuah. Pohon mangga manalagi begitu nyata, sungguh memuliakan penghuninya.

Tinggal aku meneruskan dan meneladaninya saja. Apabila sudah matang dan tua, layak dimakan. Kan aku bagikan saja, ke siapa? Ya, ke kamu pembaca tulisan ini.

Tidak itu saja, tanaman myana di emper rumah. Malam ini elok nian rupa mu. Kau tumbuh mekar, dengan warna mu seindah pelangi beraneka warna yang datang saat hujan reda di sore hari. Ada titik-titik hijau, merah, hitam, ungu, kuning, dan juga biru. Membuat tercengang yang melihatmu!

Lalu binatang kecil berbulu dan berwajah imut itu. Duduk mesra melingkari kaki penulis, tanda ia ingin berbagi hal yang sama. Bahwa di benak si kucing, petang menuju malam sekarang tampak berbeda. Ia seperti merasakan hal yang sama denganku.

Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Terus aku laksana murid yang baru masuk kelas. Sang guru pun menyampaikan pokok bahasan materi yang akan ia ajarkan kepadaku. Tugasku adalah mencatat saja. Kurang paham tanya.

Tanya kenapa pohon mangga itu selalu berbuah setiap waktu bak tak mengenal musim. Terus tanaman myana itu kenapa daunnya begitu indah dilihat oleh mata. Dan si anabul nakal itu dengan tingkahnya seakan mengamini semuanya! Mereka semua hanya diam, lalu dijawab oleh semesta seketika dengan datangnya berupa semilir angin yang menenangkan raga serta jiwa ini. So sweet. Jangan banyak tanya juga banyak pikir, nikmati saja semuanya.

Sedang penulisnya jadi malu sendiri akan semuanya: karena banyak minta ini, minta itu. Berharap ini, berharap itu. Dan berdoa ini, berdoa itu. Semuanya berujung untuk pemuasan perut dan nafsunya sendiri saja. Aku sadar guruku yang asli itu sebenarnya ya pohon mangga itu, tanaman myana ini, dan si kucing endut manja ini. Mereka semua benar-benar menikmati berkah bumi yang diterimanya malam ini, tanpa protes ini dan itu! Dan aku hanya sebagai alat buat kabarkan sesuatu yang aku lihat ke Anda saja melalui tulisan ini. Aku bahagia telah melakukannya, semoga hal yang sama juga terjadi ketika Anda membaca tulisan ini.

Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Mungkin tulisan ini aku buat, karena tak kuat menunda hasrat kedua jempol ku untuk menulis di atas keypad hp. Bahwa malam ini saat duduk di sini di emper rumah, benar-benar berbeda dari hari-hari kemarin.

Bukankah setiap hari selalu berubah dan berbeda mas AAS? Benar juga sih, acap kali itu jadi fakta dan itu benar adanya. Namun sayang tidak kita nikmati, karena kadung tersita mengejar urusan yang bisa memuaskan hasrat pribadi!

Saat ada perubahan realitas di dalam diri, dalam melihat isi alam dunia, seringnya diikuti perubahan yang sebanding terjadi di luar diri. Kadang menyangkalnya. Tapi sekali lagi aku salah. Ilmu dari *Mbah Kromo* lah yang selalu benar dan abadi selamanya. Percaya itu memang kudu sering dilatih. Lupa tidak latihan jadi tidak bisa mendatangkan rejeki yang berlipat, dan datangnya secara min haisu layah tasib. Dan note nya rejeki itu tidak melulu *kertas* yang bisa kita gunakan buat beli rokok _garpit, bayar kopi, dan tuku sego sadukan sing maknyus di warunge Mbok Darmi Rungkut Lor!_ Tapi saya masih bisa menulis, dan Anda masih bisa membaca tulisan ini, _jarene_ juga rejeki
Demikian.
Sembah nuwun Gusti.

Editor : Redaksi