Anatomi Makar: Era Kerajaan Vs Zaman Sekarang
Catatan Redaksi - Kata "makar" kerap memicu ketegangan publik karena memuat bobot politik yang sangat besar, cap tentang pengkhianatan terhadap kesepakatan bersama.
Namun, jika menengok sejarah Nusantara, makar telah mengalami metamorfosis yang luar biasa. Konteks, target, hingga cara menyikapi pengkhianatan politik bergeser seiring runtuhnya sekat feodalisme menuju era keterbukaan modern.
Pada era kerajaan, makar merupakan pemberontakan fisik yang bersifat personal dan dinastis. Pusat gravitasi kekuasaan seutuhnya bertumpu pada raga sang raja yang dianggap memegang legitimasi absolut.
Ketika Ken Arok menghunjamkan keris ke dada Tunggul Ametung, atau saat Raden Wijaya menggulingkan Jayakatwang, target mereka merupakan nyawa sang penguasa demi merebut takhta.
Namun sistem kekuasaan tidak berubah; yang berganti cuma figur di pucuk pimpinan dan dinasti yang bertugas memungut upeti.
Metode pengambilalihan kekuasaan di zaman dulu pun nyaris selalu berdarah dan bertumpu pada kekuatan fisik terorganisir. Adipati yang tidak puas akan menggalang pasukan setianya.
Mereka melakukan infiltrasi ke dalam istana, atau menusuk dari belakang melalui intrik para selir dan patih.
Sedangkan kesetiaan rakyat jelata sifatnya pasif dan feodal, sebab mereka cuma penonton di ladang pembantaian yang hasilnya ditentukan oleh siapa yang lebih kuat memegang senjata di akhir laga.
Ketika roda zaman berputar ke arah republik modern, anatomi makar ikut berubah total dari personal menjadi institusional.
Target gerakan makar bukan lagi untuk mengakhiri hidup seorang presiden secara fisik.
Namun meruntuhkan sistem pemerintahan yang sah, membubarkan lembaga negara, atau mencabik-cabik kedaulatan wilayah melalui gerakan separatisme.
Kendati begitu konstitusi dan keutuhan negara tidak boleh diganggu gugat demi menjaga fondasi bangsa tetap berdiri kokoh.
Senjata yang digunakan dalam makar modern pun tidak bertumpu pada pedang atau senapan. Melainkan pertempuran narasi, penyebaran hoaks masif, propaganda di media sosial, hingga perang informasi.
Aktor makar zaman sekarang berupaya mendelegitimasi negara dari dalam pikiran warganya sendiri.
Pola ini jauh lebih berbahaya karena tidak menghancurkan benteng fisik istana. Namun mengoyak benteng kepercayaan publik terhadap dasar-dasar bernegara.
Pergeseran di era modern ini, bagaimana negara memperlakukan para pelakunya. Di masa kerajaan, hukuman bagi pembangkang pembersihan etnis dan keturunan secara keji untuk memutus dendam sejarah.
Sekarang, sebagai negara hukum yang demokratis, pelaku makar diseret ke meja hijau, menghukum tindakan kriminalnya berdasarkan undang-undang, tanpa perlu melukai keluarganya atau melanggar hak asasi manusia.
Editor : Redaksi