Catatan Mas AAS
Berfikir Diluar Kebiasaan
Sepertinya menjadi seorang manusia. Yang hanya sekali diberi kehidupan di dunia ini. Layak untuk mau berpikir di luar kebiasaan. Itu dilakukan sebagai sebuah alat untuk exit dari semua persoalan yang dialami sebuah bangsa, sebuah wilayah, dan bahkan sebuah keluarga.
Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Sepertinya pula aku harus berterima kasih memiliki sebuah brand merek yang namanya nasi goreng MBAH JOYO berkat itu, seharian ini tadi hingga jelang sore sekarang di ITS saya berkesempatan menghadiri seminar yang dihadiri para profesor inovatif dari negeri ini. Di dalam acara seminar profesor sumit meeting dalam rangkaian acara Dies Natalis ITS ke 62, hingga esok pagi.
Dan di atas semuanya itu adalah berkah Gusti, yang tak pernah bibir ini lupa saya lantunkan ke langit. Untuk mensyukurinya. Sebuah telpon dari seseorang yang sangat saya hormati kemarin sore. Menjadi jalan saya bertemu para profesor hebat di Tanah Air tercinta. Sekali lagi terima kasih Prof.
Saya bisa menyaksikan bagaimana seorang anak muda menyampaikan pemikirannya perihal apa saja potensi ekonomi dan industri yang dimiliki oleh wilayah di Jawa Timur ini dibanding wilayah lain di negeri ini. Dalam paparan singkat potensi ekonomi Jatim. Paparan menarik itu disampaikan oleh mas Emil Dardak Wakil Gubernur Jatim.
Serangkaian acara saya ikuti dengan saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Maklum saja serangkaian tugas domestik juga telah menanti, dan perlu saya selesaikan secepat mungkin. Hadir di ITS sebagai rasa *takdim* dan hormat yang setinggi-tingginya kepada sosok *guru* tercinta.
Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Kalaulah boleh seperti judul di tulisan. Berpikir di luar kebiasaan. Adalah cara tercepat bagaimana menemukan sebuah inovasi, itu disampaikan oleh seorang profesor, lupa namanya, tapi jelas beliau berasal dari kampus UI. Konsep itu disampaikan saat ada waktu tanya jawab sehabis paparan materi yang disampaikan oleh *wagub* Jatim.
Bagaimana kalau petani itu dijadikan PNS atau ASN saja. Untuk membuat sektor pertanian itu dilirik oleh anak-anak muda. Itu sekadar contoh yang disampaikan oleh sang profesor itu yang aku pun juga rada kaget, apa maksudnya. Sayang di sela pembahasan sedang ramai, penulis terpaksa harus keluar ruangan untuk menjawab telepon.
Sepertinya konsep berpikir di luar kebiasaan ini sedikit banyaknya telah menjadi ruang praktik empiris. Di dalam laku menjalani kehidupan, dan juga _njajal_ ilmu buka lapakan. Selagi lainnya masih banyak mikir, kenapa tidak aku coba. Meski kadang banyak gagalnya. Namun seperti omongan seorang Dahlan Iskan, menjadi kewajiban manusia salah satunya harus secepat mungkin habiskan jatah ruang kegagalan, sebelum terima suatu keberhasilan.
Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
Itu juga yang dilakukan seorang anak muda yang karir akademik dan politiknya cukup mengkilap, mas Emil Dardak. Setidaknya itu bisa aku lihat dan dengar profile tentangnya saat moderator membacakan sebelum ia sampaikan materinya tadi. Anak muda satu ini, tak akan sanggup mencapai prestasi secara personal seperti yang ia alami sekarang. Kalau tidak bisa temukan exit segala persoalan dan problem kehidupan yang ia alaminya.
Ini masih hari pertama acara, dilanjut esok pagi. Tapi setidaknya pada sore ini tadi: saya dapat tontonan juga tuntunan yang luar biasa menarik. Setidaknya para profesor hebat itu di seminar tadi mampu memberi sebuah *inspirasi* yang luar biasa. Sayang para anak-anak muda tidak banyak yang hadir, meski saja itu boleh masuk. Karena yang disampaikan oleh para guru besar itu benar-benar otentik dibutuhkan oleh para generasi muda. Sekali lagi momen barusan di ITS adalah kisah _unforgetable_ yang tak mungkin penulis lupakan seumur hidup. Mungkin kata-kata ini hanya bisa dipahami oleh teman penulis, yang kemarin sore sempat *ngopi* di griya UB
Saya kira tulisan cukup demikian. Dan saya segera harus pulang bertemu seseorang yang sedari tadi telah menunggu di rumah. Terima kasih...
Editor : Redaksi