Catatan MAS AAS

Melamun Di Emper Rumah

Reporter : -
Melamun Di Emper Rumah
Mas AAS

Saya tadi sedang duduk melamun di emper rumah. Cukup lama sekitar setengah jam.

Aku ikuti saja lamunan itu mengembang menyeruak kisahnya sendiri. Dan semua lamunan mengarah kepada sebuah cerita tentang kejadian saat kuliah S1 dahulu di kampus UB dengan segala kisahnya. Dan hampir setengah jam pikiran itu mengembara di kampus perjuangan itu, dan sekitarnya, dengan detail memanggil ceritanya satu demi satu. Cerita di kosan, di komisariat, di meja bilyard, di meja ping pong, di kampus, di studio film, semua tergambar satu demi satu, siapa orang atau kawan yang terlibat di dalam cerita serta apa kejadiannya. Dan apabila dibuat sebuah buku mungkin bisa menarik kali.

Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Dan ada tanya malam ini, orang-orang dalam kisah itu bagaimana sekarang kabarnya? Karena tiap hari, minggu, bulan, dan tahun, sampai kemudian lulus memiliki ceritanya sendiri. Dan saling bertaut satu sama lainnya. Ada cerita sedih, jenaka, dan tentu diselingi ada drama juga di dalamnya!

Menarik pastinya. Tentu saja. Dan cepat sekali sejarah dan kisah tersebut telah menjadi memori sekarang. Dan bisa terpanggil secara jernih kembali dengan cara melamun tadi, meski kemudian terdistraksi karena mulai berselancar di media sosial.

Tapi cukup berguna juga tadi melamun, setidaknya memberi ruang kreativitas untuk menulis. Yaitu tulisan ini.

Karena bagaimanapun dahulu pernah kuliah S1 di UB. Dan kini juga, sedang menimba ilmu di tempat yang sama.

Dan tulisan ini, aku batasi mengisahkan dua sosok saja. Meski sebenarnya cukup banyak yang patut diceritakan. Tapi itu nanti kalau mau aku buat menjadi buku keduaku saja.

Siapa yang mau aku ceritakan. Satu, seniorku. Dua, teman sebayaku. Keduanya punya kemampuan bercerita di atas rata-rata. Itu menurutku. Sudah galib nya setiap manusia akan suka dengar cerita bukan berita. Termasuk aku.

Karena sejak kecil aku selalu di beri cerita yang menyenangkan oleh ibu. Saat malam mau berangkat tidur.

Seniorku itu suka mentraktir aku makan, sedang teman sebayaku itu suka mengajak aku bermain bilyard. Namun yang membuat aku betah duduk berlama-lama dengan senior dan teman sebayaku itu adalah mendengarkan keduanya bercerita. Tentang apapun.

Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Dan kini aku menyadari, ternyata menulis sebuah cerita itu memiliki tingkat kesukaran tersendiri. Ia harus dibangun dengan data, dan data diperoleh dengan membaca buku yang banyak, menonton dan mendengar berita yang cukup, serta melihat sesuatu yang riil dalam kehidupan sehari-hari. Darinya perbendaharaan kosakata menjadi banyak. Menjadi bahan bakar utama dalam memilih sebuah diksi untuk bahan memilih kata dan kalimat yang bakalan ditulis.

Saya mengatakan, penulis dengan tulisannya layaknya seorang manusia yang berjalan dan menelanjangi dirinya sendiri, dengan tulisan yang dibuatnya. Kenapa bisa begitu? Bagaimana tidak, seorang penulis apalagi sebuah tulisan bergenre non fiksi, si penulis itu harus bertanggung jawab dengan semua yang ditulis nya, dan siap berargumentasi. Dan saat sebuah tulisan sudah di publish, tulisan itu akan menjadi milik umum, dan tulisan itu siap-siap di blejeti oleh pembacanya. Mengerikan bukan? Dan saat ini pun saya masih belum beranjak dari gaya menulis tulisan keseharian saja. Meski memiliki motivasi ingin berpindah menulis jenis tulisan yang lainnya semisal esai dan opini, tapi masih belum punya nyali! Tidak tahu, kalau nanti sudah lulus sekolah, barangkali.

Kembali kepada ceritaku tentang senior dan teman sebayaku di atas. Dari keduanya aku dapat inspirasi banyak, bagaimana bercerita yang bagus sebenarnya. Apabila mengingat kembali keduanya memulai bercerita.

Meski secara oral aku tak sebagus keduanya saat bertutur menyampaikan sesuatu yang ingin diceritakan. Malah tak punya kemampuan itu sama sekali. Saya lebih siap menjadi pendengar yang setia saja, lalu membuat keduanya tetap bercerita dengan mengajukan pertanyaan terus kepada keduanya. Mengapa bisa begini, mengapa bisa begitu!

Mungkin bertanya dan membuat orang selalu bercerita adalah salah satu keahlianku. Entah itu keahlian, atau memang aku suka melakukan itu saja. Tidak lebih!

Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Kalau aku sedang bertemu mendengarkan senior ku itu bercerita, otakku bertambah menjadi pintar. Sedang, saat aku mendengarkan teman sebayaku itu bercerita, aku jadi bahagia karena bisa tertawa terus menerus. Jadi saat kumpul dengan keduanya aku bisa melakukan olah pikir dan olah rasa bersamaan. Setelah itu makan bersama tentunya. Nah, di saat makan pun cerita itu masih berlanjut dan bisa bertahan berjam-jam. Tapi kalau dengan teman sebayaku ceritanya berlanjut di meja bilyar sampai pagi! Kalau sudah di meja bilyard, ceritanya menjadi lain, berapa koin yang bakalan dibayar ini nantinya!

Dan teruntuk kedua nya baik seniorku dan teman sebaya ku itu. Doa terindah dariku untuk keduanya. Sekian ceritaku, dan sekali lagi, ini adalah tulisan bebas saja, hasil melamun tadi. Sayang bila tak kutulis. Itu saja.

Demikian.


AAS, 23 Desember 2023
Emper Rumah Rungkut Surabaya

Editor : Nasirudin