Catatan Mas AAS

Menulis Sebagai Terapi

Reporter : -
Menulis Sebagai Terapi

"Anda mengendalikan pikiran sendiri atau pikiran yang akan mengendalikan Anda!"


Aku masih duduk menghadap sebuah gelas kopi dan sebungkus rokok. Duduk termenung cukup lama.

Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Dan kemudian aku melongok ke atas memandang sebuah tulisan berjudul "Selamat Datang Pasar Paing". Apakah aku akan menulis tentang pasar dan kehidupannya pada pagi ini? Tidak. Aku hanya duduk diam saja mengamati satu demi satu apa yang terlintas di pikiran, setelah kedua mataku menatap dan mengamati kehidupan pada pagi ini.

Apa yang aku lihat juga tatap secara saksama dan mendalam pada pagi ini? Banyak!

Berita dan pesan yang saling bertebaran hadir di aplikasi WhatsApp. Tulisan dan status yang diunggah oleh para netizen yang berseliweran di beranda akun media sosialku.

Juga melihat kehidupan yang pagi ini sedang terjadi di Pasar Paing, Rungkut Surabaya. Ada banyak manusia yang hilir-mudik masuk ke dalam pasar. Tidak tahu lagi mana yang jadi pembeli, penjual, dan juga copet. Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu. Aku hanya ingin duduk saja di warkop yang berada di depan pasar.

Sekali lagi aku bertanya apa yang hendak aku akan tulis pada saat sekarang? Apakah tentang kemenangan yunior ku yang terpilih jadi "Presiden Mahasiswa" di UB? Apakah tentang kehidupan masyarakat kelas bawah yang giat bekerja pada pagi ini di Pasar, seperti: tukang becak, tukang angkut, pengemis, dan tukang ngamen, yang tengah aku lihat. Atau menulis siapa yang bakalan menang di Pilpres 2024 besok, menurutku? Apakah Ganjar, Prabowo, atau malah Anis?

Sekali lagi juga tidak! Aku tidak akan dan mau menulis itu sekarang, saat pagi ini. Aku hanya duduk saja sambil merenung dan mengamati semua yang muncul di dalam pikiran ini. Sambil ditemani lagu-lagunya Naff yang diputar oleh si penjaga warkop.

Tergelitik menulis tentang berita hasil dari liputan spontan di depan pasar, sekarang. Layaknya seorang wartawan.
Juga ingin memahat esai layaknya seorang Sukarno dengan jemarinya memberikan pendapatnya tentang sosok pemuda di Tanah Air saat itu di jaman kemerdekaan. Atau juga menulis esai layaknya esais James Richardson dari Amerika, bagaimana esai ten minute yang ditulisnya selalu jenaka dan bisa mengirim pesan yang mendalam kepada pembacanya, meski hanya satu paragraf esainya dibuat.

Atau sebuah tulisan opini layaknya kolumnis terkenal papan atas di negeri ini. Seperti Romo Sindhunata dan Kang Mohamad Sobari.

Sekali lagi tidak. Semuanya tidak.

Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Sekali lagi. Aku sekadar mengamati saja apa yang sedang dipikirkan oleh pikiranku ini. Dan ternyata, luar biasa banyak.

Daripada mubazir. Aku perintahkan pikiran berpikir, dan memberi perintah kepada jemariku buat menulis. Spontan menggerakkan kedua jempol dari tangan kanan dan kiriku untuk mengetuk huruf dan memilihnya di atas hape, lalu dirangkainya menjadi sebuah kata dan kalimat yang bisa dibaca dan ada artinya. Itu saja tidak lebih.

Kegiatan semacam ini adalah sarana terapi diriku guna mengendalikan gerakan pikiran yang sedemikian cepat serta lincahnya bergerak ke sana ke mari tak tentu arahnya.

Berpikir soal alam, bertanya perihal kebijakan, berceloteh perihal orang-orang yang sedang beraktifitas di pasar, berkelakar soal ingatan tentang penggalan-penggalan hidup yang sudah berlalu dan kini menjadi seonggok sejarah saja.

Tidak ada cara lain guna menghentikan itu semua, pikiran itu aku ajak saja berpikir memilih huruf-huruf latin dan ditulis saja. Dan spontan pikiran menjalankan tugasnya dengan cepat. Ia tak sempat lagi mengembara yang tidak tentu arah dan tidak jelas apa manfaatnya.

Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Terus, tulisan semacam ini disebut dengan tulisan apa? Berita, esai, opini, atau malah feature? Saya kira tak perlu diberi arti dan juga dibahas ya! Bikin debat nantinya mempersoalkan sebuah definisi, bukan begitu?

Yang pasti tulisan soal cerita, saat aku mengamati pikiranku. Itu saja.

Dan kopi di meja yang ada di depanku sekarang. Ia mengundangku agar di seruputnya, tentu saja setelahnya ngudut!
Alhamdulilah nikmatnya.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang tengah Anda pikirkan sekarang, mas bro?


AAS, 28 Desember 2022
Warkop Pasar Paing Rungkut Surabaya

Editor : Redaksi