Catatan Mas AAS
Jadi Penulis Koq Nyebelin
Sebagai penulis pekerjaan utamanya adalah: membaca, merenung, lalu menulis!
Faktanya itu yang sehari-hari dialami oleh penulis. Baik penulis pemula, maupun penulis lawas!
Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Siapa dirimu? Adalah sesuatu yang yang engkau kerjakan secara terus menerus!
Apa keahlianmu? Adalah melakukan sesuatu dengan penuh cinta secara terus menerus! Dan merangkai kata adalah sesuatu yang saya kerjakan secara konsisten terus menerus. Setidaknya tulisan pendek buat status WhatsApp!
Pertanyaannya? Apa benar kita telah memiliki keahlian itu. Menulis misalnya.
Boro-boro ahli, Ferguso! Mau menulis saja sudah girang bukan kepalang. Perihal disebut ahli serahkan saja dan tanyakan pada rumput ilalang. Itu yang saya alami, semoga Anda tidak ya!
Mau menulis saja saat disuruh dan dilakukannya karena butuh sesuatu. Gelar misalnya, project contohnya.
Alih-alih bisa menulis dengan baik. Dengan segala macam indikator yang disampaikan pakar sehingga tulisan bisa disebut bagus tidak nyebelin saat dibaca oleh pembacanya!
Kenapa mesti kecil hati. Bukankah cabe rawit itu selalu pedas dan dicari penggemarnya. Buat saja tulisan yang nyebelin, terus dilakukan, siapa tahu bisa buat tulisan yang ngangenin!
"Sekali-kali jangan marahin penulis, Ferguso! Aku, kamu, serta kita masih belum diajari oleh lingkungan bahkan oleh sekolahan dimana kita sekolah dahulu. Menulis masih diajarkan jadi sebuah beban, bukan sebuah kegiatan yang menyenangkan! Oleh siapa? Bisa jadi oleh guru Bahasa Indonesia kita dulu."
Jadi kadang rada marah saja. Guru dan dosen yang hanya bisa berparade jari, tunjuk sana-sini salahkan siswa juga mahasiswa. Tidak mau ajarin mana tulisan yang tidak benar serta nyebelin, dan cara membuatnya!
Selidik punya selidik, guru dan dosennya juga tidak mampu lakukan itu!
Menulis bukan sesuatu kebutuhan layaknya kita butuh makan, meski saja itu bagi siswa dan mahasiswa. Tak ada lauk apa yang ada dimakan saja. Meski hanya ada nasi dan lauknya kerupuk serta garam. Saat lapar mendera, dilahap juga!
Keinginan menulis belum sampai pada tingkatan butuh layaknya makan. Bisa jadi itu yang juga saya alami sekarang. Semoga Anda tidak ya.
Menulis buat Anda sudah jadi gaya hidup! Sumpah, itu keren Ferguso.
Tukang becak tak ada penumpang, menulis. Ojek online sepi orderan, menulis. Tukang Sego goreng, sepi pembeli, menulis. Bahkan seorang Presiden pun habis pimpin rapat kabinet, menulis. Apa mungkin, ya, itu terjadi?
Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Ya, namanya juga sedang berimajinasi. Kan, boleh-boleh saja.
Menulis perihal sesuatu yang dilihat, dirasa, didengar, dialami, diamati, kemudian ditenun menjadi sebuah tulisan berupa cerita. Bukankah setiap manusia bakalan senang apabila dikasih cerita!
Saya kira tulisan ini juga bisa bikin sebel nantinya saat Anda baca. Saat tidak segera saya akhiri.
Namun, saat penulis itu tahu tulisannya dibaca oleh pembaca meski hanya satu orang saja yang baca. Wajah si penulis itu langsung berubah. Seperti esok pagi dengarkan suara adzan subuh saat hari raya Idul Fitri.
Layaknya skripsi, tesis, dan juga disertasi yang dibaca oleh dosen pembimbingnya. Mahasiswa harap-harap cemas tak berkesudahan. Suara doa juga mantra terdengar nyaring keluar dari mulut mereka.
Di situ hebatnya sebuah tulisan, ia mampu jadi cerita di tangan pendongeng hebat yang kehadirannya selalu dinantikan anak-anak kecil yang mengidolakannya.
Setiap tulisan selalu ada jodoh. Selalu ada pembacanya. Sebuah tulisan saat dikasih like, dikomentari, apalagi di share ulang oleh pembacanya.
Itu penulis kepalanya langsung membesar, kakinya sampai terasa tidak injak tanah lagi, itu badan terasa terbang ke langit. Saking bahagianya!
Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
Sekali lagi itu kata temanku lho ya. Si tukang becak yang sekarang sedang ngopi bersamaku!
Tapi saya membenarkan apa yang disampaikannya.
Sungguh tidak mudah menjadi penulis yang tidak nyebelin karya tulisannya. Ia, kudu banyak membuat tulisan yang nyebelin dahulu pada awalnya.
Semoga saja Anda selalu bahagia pada pagi ini. Meski membaca tulisan yang nyebelin ini.
Sila Anda sebel. Saya tetap senang-senang saja sambil ngopi, ngudud bersama si tukang becak sahabatku!
Sambil menunggu bel akun grab saya berbunyi. Tarik Mangggggg!
AAS, 05 Januari 2023
Warkop Rungkut Surabaya
Editor : Redaksi