Catatan Mas AAS

Jemput Istri Dari Kantornya

Reporter : -
Jemput Istri Dari Kantornya
Mas AAS

Siang ini aku jadi tukang ojek rutin jemput istri dari kantornya kembali. Sebelumnya aku suruh naik ojek saja. Karena aku sedang bawa penumpang juga. Oh dunia, ceritanya selalu indah tak ada serinya.

Terus saja. Cerita kemarin jadi memori. Cerita saat ini jadi sebuah perjuangan untuk dikerjakan. Cerita esok siapa tahu.

Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Bukankah kadang kalau ingat masa lalu. Seorang yang saban hari mendemo di sebuah kantor pusat di sebuah kampus. Saat jadi mahasiswa. Tetiba saja sekarang mahasiswa yang demo itu jadi pejabat nya di kantor pusat di sebuah kampus itu. Dan jangan sampai di demo mahasiswa millenial lho ya. Maka kerja saja yang baik-baik.

Juga buat para aktivis lainnya yang dahulu banyak berpidato "sotara-sotara" di tengah ribuan mahasiswa. Kini mereka sekarang pada duduk manis di kantor DPRD dan DPR RI.

Ya begitulah cerita kehidupan seorang suami. Ups. Aktivis mahasiswa maksudnya.

Terkadang sesuatu itu akan terasa berharga, ketika telah pergi dan tiada! Spontan jadi ingat penggalan sejarah masa-masa yang sudah terlewat.

"Apa karena cuaca dan suasana siang ini di bumi pahlawan Surabaya ya, yang membuat aku ingin menulis sesuatu yang demikian!" Cuaca mendung, langit gelap gulita di Surabaya. Udara sembribit tak enak dirasa oleh tubuh ini.

Rinai hujan datanglah. Kami mahkluk di bumi telah siap dan senang menunggu gerimis mu menyapa. Pada siang ini. Darinya tanaman dan tanah akan langsung merasakan manfaat kehadiranmu. Tanaman menghijau, bunga tampak bersemi. Dan bau tanah kering yang khas usai tersiram air hujanmu.

Suatu saat akan ada masa pada manusia ketika kita harus, melupakan selalu yang ada dalam ingatan. Dan melepaskan selalu yang ada dalam genggaman.

Sebelum hal itu terjadi, hargai dan syukuri apapun yang ada sekarang!

Caraku mensyukuri. Bisa jadi dengan jalan aku jemput istri dari kantornya sekarang. Meski harus tunggu dan duduk di jok motor di parkiran sejenak. Tidak mengapa toh aku bisa usir waktu menunggu yang buat bosan diriku dengan menulis tulisan ini.

Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Ternyata memilik hobi menulis ada manfaatnya juga. Setidaknya buat usir waktu agar tidak terasa lama saat menunggu istri!

"Say, tunggu bentar diparkiran ya, aku masih edit tugas dari dokter sebentar," begitu pesan istri!

Dan istri pun tahu. Aku orang paling tidak suka menunggu. Namun karena sudah niat sejak awal, sejak aku cancel beberapa orderan ojek tadi. Aku niat menjemput istri, pulang kerja dari kantor nya siang ini. Dan aku pun balas pesannya," ok, tak masalah, aku tunggu di parkiran!"

Mungkin saja istri. Jadi heran barangkali. "Tak biasanya," pikirnya!

Sekali lagi, kadang sesuatu terasa berharga saat kita mampu melepaskan kemelekatan terhadap apapun. Melekat terhadap ego ku sendiri bisa jadi!

Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Terima kasih atas cerita kehidupan pada siang ini. Dan tetap saja sepertinya hujan masih malu-malu untuk turun ke bumi. Meski suara pekik petir sudah terdengar sesekali dari atas langit di kota pahlawan.

Apa mungkin akan terjadi sebuah cerita pada siang ini: "mendung tidak selalu pertanda hujan akan turun?"

Ah, sudahlah. Istri sudah datang berjalan menuju ke parkiran. Dan aku harus pulang.

Semoga hujan akan turun bila kami berdua sudah sampai di rumah Rungkut Surabaya. Alhamdulilah

AAS, 15 Februari 2023
Parkiran RS Dr. Soetomo Surabaya

Editor : Redaksi