Catatan Mas AAS
Membaca Tulisan Umar Kayam
Aku sekarang telah sampai di Terminal Bungurasih. Mau lanjut pulang. Bertemulah bolo dupakan sesama ojol yang biasa mangkal di Grab Lounge Bungurasih.
Karena dia dapat order bokongan alias penumpang dalam jarak jauh. Antar ke Surabaya Barat arah Unesa. Jadilah malah cangkruk sejenak di salah satu markas besar ku di Surabaya selain di Taman Bungkul.
Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut
Sejak di dalam bus tadi, ketika menulis tulisan JASMERAH soal hiruk pikuk di alun-alun Bangil. Kepalaku dipenuhi ingatan soal sosok Umar Kayam. Yang biasa dipanggil Mister Rigen atau Pak Ageng oleh Punokawan yang biasa dipakai oleh beliau sebagai sebuah permisalan.
Tak mengapa besok kan libur. Malam ini sejenak aku baca ulang salah satu buku kumpulan tulisan kolom beliau di koran Kedaulatan Rakyat saat itu di Jogja berjudul: mangan ora mangan kumpul!
Gaya gleyengan kental dan lekat sekali. Tema berat dan sulit mampu beliau kisahkan dengan tuturan nan sederhana. Baca satu demi satu tulisan kolomnya jadi senyum-senyum sendiri malam ini di Terminal Bungurasih.
Aku merasa karya beliau layaknya mimpi-mimpi yang diantarkan kepadaku malam ini oleh semesta. Caranya membuka tulisan, caranya meledek, caranya mengajak berpikir, caranya membuat majas, caranya membuat sebuah kalimat penutup. Kok, kayak aku pernah juga melakukanya ya? Namun aku tak mungkin sepadan dengan beliau.
Aku hanya sanggup mengagumi saja!
Umar Kayam adalah seorang budayawan, Guru Besar, cerpenis, esais, dan kolomnis Tanpa tanding. Di masanya. Sukar untuk melawan cara gleyengan beliau saat memahat sebuah tulisan.
Aku suka gleyengan demikian juga beliau. Kental sekali tulisan Umar Kayam terjejer akumulasi gleyengan yang membuat terbahak dan juga memanaskan telinga. Di satu sisi bisa menyentuh ruang terdalam kalbu, contoh saja tulisan "Mbok Jah" dan "Mbak Sumringah".
Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah
Aku sekali lagi hanya bisa bilang. Kakek'ane! Sebuah penghormatan kepada beliau yang setinggi-tingginya. Dan negeri ini saya kira kekurangan para penulis muda yang mampu antarkan pikiran, hati, dan juga jiwa begitu teraduk-aduk secara natural tanpa dramatisasi kisah dalam cerita ditulisan, natural saja, apa adanya.
Karya-karya Eyang Umar Kayam memanglah bukan kaleng-kaleng. Daging semua bagi seorang penulis pemula macam saya.
Gleyengan sendiri adalah suatu cara. Nasihat, sindiran, protes, usul dan sebagainya tentu bisa disampaikan dengan berbagai cara. Tak perlu turun ke jalan, tak perlu suara lantang, dan tak perlu disampaikan dengan berapi-api. Bisa disampaikan dengan canda, tidak ngotot, dan seringnya tidak secara langsung. Itulah arti bebas dari gleyengan. Namun bagi pembaca dan penonton kisah, tulisan dan tontonan yang disampaikan secara gleyengan mampu membuatnya manthuk-manthuk membenarkan!
Keputusan bisa langsung berubah esok paginya. Bila penguasa atau pejabat terkena sihir matra dari nasihat yang dikemas dalam genre gleyengan itu hehehe.
Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil
Semakin membaca tulisan Umar Kayam. Semakin tak mau berhenti saja. Bisa-bisa sampai Subuh ini saya di Terminal. Saya kira bisa dilanjutkan besok saja.
Seorang esais selevel Eyang Umar Kayam. Yang ditunggu dari tulisannya bukan apa masalah yang diangkat dalam tulisan. Namun cara beliau membuat sebuah sudut pandang dan perspektif itulah yang di tunggu-tunggu dari tulisan-tulisan beliau.
Menariknya sebuah esai di situ. Dan menariknya karya-karya Umar Kayam untuk dibaca juga begitu. Siapapun dan dimanapun dibuatnya berpikir juga tertawa, sedih, dan juga bahagia, secara full packed saat membaca karyanya.
AAS, 17 Februari 2023
Terminal Bungurasih Surabaya
Editor : Redaksi