Catatan MAS AAS

Masih Tentang Jakarta

Reporter : -
Masih Tentang Jakarta
Photo SDN 08 pagi Kalibata, pada saat ini. (Doc Ist)

Guru BP namanya Ibu Supinah. Dan kemudian diganti Ibu Thiodor namanya. Bisa jadi kedua nama Ibu Guru itu selalu melekat dan terngiang di pikiran dan otak alam bawah sadar ku.

Beliau berdua adalah guru-guru terbaik dalam mendidik ku saat sekolah di SDN 08 pagi Kalibata.

Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Saya kira bukan saya saja yang mengakuinya. Mungkin juga teman ku sekelas: Andriani, Erni, Tumpal, Istamar, dan lain-lainya. Rada lupa nama teman yang lainnya.

Kalau tidak salah. Sekira 17 atau 18 orang di kelasku saat itu. Bu Supinah menunjukku sebagai Ketua Kelas. Dan teman-temanku juga setuju. Siapa itu? Kurang lebihnya ya ke empat orang di atas!

Tugas rutin seorang Ketua Kelas, kurang lebihnya sama. Saat aku jadi Ketua Kelas di Program Doktoral Ilmu Manajemen pada FE UB Malang di kelas A. Apa itu? Ambil absen di kantor, bawa ke kelas, lalu beritahu Bu Guru atau Profesor yang bertugas mengajar bahwa kelas sudah siap, teman-teman sudah hadir di kelas. Itu saja!

Dahulu sebelum ada Kalibata Mall. Tempat itu adalah pabrik sepatu bata. Seingat ku. Dan rumahnya Bu Supinah adalah di depan pabrik itu, tepat nya di belakang pemberhentian rel kereta, ada perkampungan di situ. Sebelum totokan lampu merah. Kalau ke kanan ke arah Cililitan, kalau ke kiri bisa ke Jalan Gatot Subroto, bahkan sampai ke Slipi sana!

Saat usai main di Empang. Di sebelah Makam Pahlawan Kalibata. Aku, bapak, juga adikku melanjutkan perjalanan, untuk cegat Metromini atau Kopaja dari arah Pasar Minggu. Tentu tidak seramai sekarang pada medio 80-an saat itu.

Karena lama menunggu. Kadang aku mengajak bapak berjalan terus saja ke arah pabrik Sepatu Bata, dan kadang malahan sampai di perkampungan rumahnya Bu Supinah. Hanya lewat saja tidak mampir di rumah beliau!

Dahulu di Kalibata Atas tempat rumahnya Pakde, kakaknya Ibu. Banyak sekali pohon rambutan. Dan rumahnya Istamar salah satu teman sekelas. Dekat rumahnya pakde. Aku, Istamar, kadang janjian bersama buat main rumahnya Andriani. Andriani ini adalah bintang kelas dan anaknya cantik rupawan. "Sik bocah kok ngerti wong ayu!" Ya, begitulah. Ternyata itu suara dari alam. Bahwa wanita disebut cantik tidak saja parasnya, namun karena tabiat nya yang baik. Itu yang bikin saya juga suka sama Andriani, bahkan semua teman-teman pada suka pada siswi itu!

Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Saya tidak tahu ke mana anak-anak itu sekarang. Aku ketika ke Jakarta. Berburu mereka, di rumahnya dahulu. Semua sudah tidak ada, pindah semua!

Dan pabrik Sepatu Bata sudah jadi mall Kalibata. Dan rumahnya Bu Supinah sudah jadi jalan flyover. Rumah Bu Thiodor jauh di daerah Pasar Minggu!

Kalau ingat itu semua. Kadang suka ketawa senyum sendirian. Sebelum orang-orang dan teman-teman itu pada tinggal di Jakarta. Dan kadang aksen bicaranya "elo" dan "gue". "Gue udah jadi anak Menteng dan hidup di Jaksel tau?" Hahahaha!

Lalu saat weekend. Aku main di daerah Kali Malang. Tepatnya di perumahan Bill&Moon. Puas main di tempat bude di situ. Aku lanjut main ke Jati Waringin. Tempat saudara yang lain. Puas main di situ. Sorenya di jemput bapak pulang ke Cililitan. Karena esok pagi, hari Senin kudu sekolah kembali di Kalibata. Kembali naik Metromini dan Kopaja di Terminal Cililitan.

Kadang di lain waktu main ke Kranji lalu ke Pondok Ungu. Oleh saudara diajak main ke Terminal Pulo gadung. Saat itu sebagai anak SD lihat itu terminal bus antar kota dan antar propinsi. Adalah wisata paling aku senangi, selain Ragunan tentunya.

Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Bagaimana pun Jakarta adalah mimpi indah yang sempat terjadi pada masa kecil dahulu. Karena dunia anak-anak memang isinya main-main dan senang-senang melulu.

Tentu harapannya di masa tua juga demikian. Hanya senang dan bahagia saja yang selalu Allah SWT hampirkan dalam kehidupan kita semua, amin yra.

Begitu cerita sebagian masa kecil ku di sebuah penggalan waktu, di sebuah sudut Ibukota saat itu! Bagaimana tentang masa kecil Anda? Sudilah kiranya Anda juga berbagi, sungguh senang sekali bila itu terjadi! 


AAS, 23 Februari 2023
Ruang Belajar Rungkut Surabaya

Editor : Redaksi