Catatan Mas AAS

Rasa malas hilang, Bergairah kembali

Reporter : -
Rasa malas hilang, Bergairah kembali
Catatan Mas AAS

Duduk di ruangan Restorasi Kereta Api Sancaka. Perjalanan dari Klaten menuju ke Surabaya.

Air Conditioner di dalam kereta yang begitu dingin membuatku pergi ke Restorasi. Ngapain? Ngopi dan beli Pop mie.

Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Ruang kabin di Restorasi yang longgar dengan tempat duduk yang nyaman serta jendela yang lebih lebar, membuat kedua mata ini melihat view di luar lebih lega. Dan tentu saja Restorasi ini menjadi tempat penulis menulis sesuatu dengan nyaman. Dapat membuang waktu agar tidak _boring_ saat duduk berlama-lama di dalam kereta, tahu-tahu nanti sampai saja di tujuan Gubeng Surabaya! Itu harapan ku.

Yang menjadi masalah selanjutnya mau menulis tentang apa? Ini bagaimana. Apakah Anda ada ide tulisan untuk saya yang bisa saya tulis sekarang, ups.

Benar. Saya menunggu ide itu dari Anda lho. Tetiba saat menunggu jawaban Anda...ingatanku tertuju pada sebuah nama yaitu Arswendo Atmowiloto. Penulis ini punya cara unik saat lagi malas menulis ia naik kereta api jalan-jalan saja tanpa tujuan yang pasti. Ia membebaskan dirinya untuk bertamasya dengan naik kereta buat _kulakan_ memasukkan input yang sebanyak-banyaknya ke dalam pikirannya. Biasanya jalan-jalan selesai. Mulailah ia rajin dan lancar menulis kembali.

Rasa malas hilang. Bergairah kembali.

Aku di Restorasi, jadi berpikir sejenak. Apa saja yang dipikirkan oleh Kang Arswendo saat mengais input dalam jejak perjalanan beliau saat naik kereta. Apa mungkin wanita berambut hitam sebahu dengan tinggi semampai dan ujung kedua mataku tak *berkedip* saat melihat wajahnya yang bak peragawati terkenal dari Ibukota. Ia lewati diriku dengan lenggak-lenggok nya dan jalannya bak macan yang tengah lapar. Apakah juga menjadi *inspirasinya* ya? Pembaca jangan punya pikiran macam-macam dahulu apalagi _ngeres_ ya! Ini tentang mengidentifikasi apa saja inputan yang bisa dikumpulkan buat bahan tulisan.

Atau malah pemandangan hijau yang terhampar selama dalam perjalanan kereta. Atau suasana macet dan banyak motor dan mobil saling mengantri dengan tertib di *palang pintu* kereta, saat kereta apiku lewat. Melanggar alamat dirinya segera pindah alam secara sia-sia.

Kenapa aku jadi membahas Arswendo Atmowiloto. Tidak. Saya hanya teringat nama beliau saja. Pagi ini saat duduk di Restorasi Kereta Api. Karena tengah alami buntu ide untuk menulis. Sedangkan apabila kegiatan menunggu di dalam kereta bisa aku gunakan untuk menulis. Cepatlah waktu itu berjalan. Rasa bosan pun hilang.

Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Sayang, mbak yang tinggi semampai dan berambut hitam sebahu tadi. Kenapa tidak duduk bersama dengan ku di Restorasi ya? Kalau ia duduk di sini, mungkin saja tulisan ini tidak jadi saya tulis.

Karena separuh pikiranku bisa tertuju melihat wajah yang membuatku tak bisa memandang sisi lain yang berbeda selain memandang wajah mbaknya itu. Dasar laki-laki ya begitu itu kelakuannya.

Terus mana bisa menulis kedua jempolku di atas _keypard_ HP ku. Kemampuan ku dalam menulis dengan mata tertutup tak berguna saat menulis di gawai.

Akhirnya saat mbaknya tidak jadi duduk di Restorasi ada gunanya juga. Aku bisa fokus menulis tanpa terhambat untuk *fokus* menatap wajah mbaknya itu terus menerus.

Dasar laki-laki itu sama saja. Tak ustad, tak kyai, tak mahasiswa, tak dosen, tak ojek online, tak juga penjual nasi goreng. Ada wanita _bathuk klimis_ cantik sekali, itu matanya berubah beberapa derajat dari pandangan semula.

Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Prosentase nya tergantung *kadar iman* _jare boloku sing dadi_ ustadz!

Ada-ada saja. Tapi fakta bukan fenomena lagi. Aku jadi tidak kedinginan lagi tubuhku saat duduk di Restorasi. Entah karena aku sedang menulis, atau karena aku sedang berimajinasi membayangkan mbaknya tadi duduk bersama dengan ku di sini sambil _guyon maton parikeno_. Membahas tentang ide yang mau ditulis.

Entahlah.


AAS, 5 Maret 2023
Ruang Restorasi Kereta Sancaka, Otw Klaten-Surabaya

Editor : Redaksi