Catatan MAS AAS

Sapa Yang Salah?

Reporter : -
Sapa Yang Salah?
Catatan MAS AAS

Jangan mengeluh, merengek, dan buat escuse. Keluarlah dari rumah kerjakan apa saja yang Anda bisa. Seorang anak muda berbincang denganku sore ini saat diriku sedang rehat sejenak di warkop usai bekerja jadi tukang ojek online. Keliling susuri jalan utama dan gang perumahan juga kampung di Surabaya!

Tak lupa aku keluarkan handuk untuk melap keringat yang sedang mengucur deras. Membasahi seluruh tubuh ini. Anak muda omongannya banyak juga besar-besar kali: ingin lakukan ini, ingin lakukan itu.

Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

"Sekarang kerja dimana mas?" Dan ia hanya jawab spontan baru tahun kemarin lulus dari kampus di Surabaya. "Kenapa tidak bekerja, atau buka lapak apa gitu mas," kejar ku!

"Tidak punya pengalaman dan modal buat usaha pak. Kalau bekerja sudah melamar ke banyak perusahaan tinggal tunggu panggilan pak!"

"Apa sekalian masnya jadi cowok panggilan saja, kalau begitu." Lalu kami berdua tertawa ngakak bersama. Dan anak muda itu bilang,"Bapak bisa bercanda pula!"

"Biar tidak stres hadapi hidup yang selalu berubah terus menerus ini mas," jawabku sambil aku aja anak muda itu bercanda lag," lha mas nya kok gak mau berubah sudah satu tahun kan nganggurnya?"

"Iya sih pak." Mas nya kan punya motor nganggur itu," Apa ngojek saja, sama dengan saya. Buruan isi itu aplikasinya daftar, besok sudah kerja, bawa orderan: penumpang dan barang dan lainnya. Bagiamana?"

"Ndak pak, saya tunggu panggilan dari perusahaan yang sudah saya lamar saja pak!"

"Apa?"

"Tunggu dapat panggilan pak!"

Hemmm...masih ada pula mahasiswa di era millenial sekarang. Mau bekerja dibelain tunggu panggilan kerja dari perusahaan yang ia lamar. Saya kira itu jamanku dahulu. Sekarang benih-benih jadi manusia malas, berlindung dibalik alasan tidak punya modal dan tidak punya pengalaman. Sekadar kerja yang ada, lalu berani keluar dari rumah lakukan kerja apa saja asal halal tak mau!

Terus aku harus bilang apa? Kepada dunia!

Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Memang pendidikan itu maha penting. Pendidikan pula yang membuat anak muda di depanku sekarang begitu kekeh untuk menunggu sesuatu yang tak pasti. Dipanggil kerja! Alasan bisa jadi begitu banyak untuk membenarkan akan apa yang ia yakini, dan tunggu. Namun aku pingin ia tidak diam saja. Tapi hanya sekadar ingin tak lebih.

Tapi juga tidak masalah. Toh jatah uang jajan masih di setor dengan rutin tiap hari, tiap Minggu, bahkan tiap bulannya, oleh kedua orang tua. Makanya anak ini jadi manja. Salah siapa kalau sudah begitu? Salah kampus yang mendidiknya dahulu, atau salah orang tuanya yang terlalu sayang tak berani tegas dengan si anak mama idaman ini!

Ah, sudahlah punya hak apa juga saya melarang anak muda ini untuk berpindah pikiran. Malah aku yang nanti kena salah. Lebih baik aku lanjutkan kerjaku saja, karena akun grab ku berbunyi. Tanda ada orderan. Lumayan antar penumpang ke Bungurasih dari Kertajaya!

"Mas aku pamit dahulu ya, lanjutkan main game nya. Main sampai Subuh nanti, sekalian," kataku!

Dan kami berdua pun ngakak lagi di dalam warkop itu, "Ashiap bapak," ujar anak itu!

Sepertinya kisah ini akan aku buat semacam case study saat aku nanti datang sebagai pembicara di Hotel Star Trawas. Pada hari Sabtu nanti. Memberikan materi perihal: entrepreneur! Kepada para anak muda tunas pemimpin negeri!

Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Bagaimana tanggapan para peserta itu nantinya. Aku ingin tahu respon mereka. Apakah sama dengan anak muda yang barusan bertemu tadi dengan ku. Atau malah berbeda, mereka punya sikap yang lain! Semoga.

Sudah terlalu lama penumpangku menunggu di titik aplikasi. Bisa dapat bintang satu. Alamat bisa zong kerjaku nanti hingga besok pagi.

Pamit dahulu semuanya.

Tarik Mangggggg.


AAS, 8 Maret 2023
Warkop Kertajaya Surabaya

Editor : Redaksi