Catatan Mas AAS

Selesai Dengan Diri Sendiri

Reporter : -
Selesai Dengan Diri Sendiri
Selesai Dengan Diri Sendiri

Coba Anda bayangkan? Membayangkan apa mas AAS.

Setiap manusia akan bahagia dan sangat antusias berkunjung ke suatu tempat. Dimana tempat itu memiliki kemiripan dengan tempat masa kecil yang selalu ia jumpai sehari-hari di masa lalu hidupnya.

Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Benar, tempat saya lahir dan tinggal di masa kecil dekat dengan sebuah lereng dan lembah wilayahnya. Banyak gunung berdiri gagah mengitari. Gunung Merapi-Merbabu. Di Klaten Jawa Tengah!

Saat kemarin siang saya berada di lembah dan lereng Pegunungan Penanggungan Trawas! Senangnya bukan kepalang. Meski siang menjelang sore ini saya sudah berada di kota Pahlawan Surabaya. Saya tinggal di kota ini!

Nah, selain saya ada job menjadi pembicara di Trawas semalam. Sebenarnya di dalam kepala saya sejak masuk daerah Trawas pada waktu siang jelang sore sebelumnya, begitu banyak yang sudah tertulis di dalam kepala ini. Hendak secepatnya tulisan-tulisan di dalam pikiran itu berpindah tempat menjadi sebuah tulisan yang saya buat di gawai, lalu bisa dibaca orang banyak!

Suasana pegunungan yang masih alami, terasa sangat sejuk, dingin, dan juga indah dipandang! Layaknya saya berada di kampung halaman saja. Saya begitu melekat dengan hamparan pepohonan tinggi yang menghijau, penampakan lereng serta lembah membuatku lama ingin singgah saja di situ.

Namun, pada tulisan ini saya hendak membicarakan yang lain. Tidak sekadar rasa senang yang saya alami saat berada di Pegunungan Penanggungan kemarin.

Terus pembicaraan lain berkenaan dengan apakah gerangan? Soal kepemimpinan!

Saya harus mengakui barangkali. Membicarakan topik bahasan perihal: manusia, sejarah sebuah negeri, negara, biografi seorang tokoh, pemimpin dan kepemimpinan, lalu kecerdasan intelektual dan spiritual manusia, peradaban, berdikari, mandiri, loyalitas, dan banyak hal lain seputar frasa dan idiom lainya yang bertautan dengan premis di atas begitu mengusik pemikiran saya dari dahulu hingga kini. Bahkan sejak saya masih SD barangkali. Dan memikirkan nya adalah sesuatu yang membuat saya antusias!

Antusias untuk membaca, berdiskusi, dan mencari informasi seputar topik tersebut.

Lalu apa hubungannya dengan keberadaan saya di Trawas kemarin.

Saya kemarin berbicara di hadapan puluhan hingga ratusan mahasiswa dalam kegiatan latihan kepemimpinan manajemen mahasiswa (LKMM) yang diadakan oleh BEM ITB Yadika Pasuruan! Tentu saja perjalanan dari Surabaya ke Trawas untuk menjumpai para mahasiswa itu benar-benar excited sekali.

Lalu saya jadi membayangkan mungkin saja para "Pemimpin Nusantara Yang Agung" di masa lalu dalam sejarah peradaban negeri ini sebelumnya. Mulai dari level Ratu macam: Prabu Airlangga, Ken Arok atau Sri Rajasa, Sri Kertanegara, Raden Wijaya, hingga Ratu Tribuana Tungga Dewi. Semua pasti belajar olah kapribaden di Padepokan Pegunungan Penanggungan ini. Dididik oleh para Maha Resi terpilih layaknya Empu Sendok dan guru-guru agung lainnya.

Tentu juga di level para Ksatria dalam sejarah kerajaan masa lalu macam: Lembu Sora, Patih Nambi, Ranggalawe, dan tentunya Banyak Wide. Semua pasti memungut sejumput kebijaksanaan di daerah Gunung Penanggungan ini.

Tentu saya kira lebih akan tepat, mencari dan mempelajari sejarah besar dari tinggalan yang pernah ada dan dimiliki oleh peradaban rumah besar Nusantara di masa silam. Menjadi keharusan bagi setiap generasi.

Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Sehingga bisa berdiri kokoh berpijak ke bumi untuk membuat kontribusi yang berarti bagi Ibu Pertiwi.

Jadi, penglihatan itu yang kemarin siang saya alami. Saat duduk di warung kopi di sebuah kedai di lereng Gunung Penanggungan sebelum saya beranjak melanjutkan perjalan menuju Hotel Star News Trawas, mengisi materi!

Saya seperti mengalami dejavu saja. Mungkin karena dahulu sering menonton drama para pendekar dan para resi yang mewedar ilmunya di sebuah padepokan. Dan tampilan padepokan yang muncul di drama TV itu layaknya suasana di Trawas kemarin! Apa malah kehidupan saya di periode sebelumnya pernah menjadi partner kawan seiring dari Empu Sendok saat tengah mendidik para Ratu dan Ksatria di Padepokan di Gunung Penanggungan kemarin, hehehe. Entahlah aku tidak tahu.

Hanya spirit dan semangat yang menyala dengan terang lah yang diri ini selalu rasakan. Apabila bertemu anak muda, siswa, juga mahasiswa yang tengah serius mau belajar! Mengenal jati dirinya sendiri dan jati diri bangsanya!

Maksud dati tulisan ini, saya mengajak para anak muda kemarin, untuk benar-benar tahu sejarah dari negerinya ini. Dan sebagai anak bangsa ia percaya diri dengan dirinya, dengan bangsanya sendiri, tidak insecure berhadapan dengan manusia dari bangsa lainnya! Siapapun itu.

Tentu keinginan saya itu saat dibaca oleh pembaca layaknya cita-cita yang absurd dan utopia belaka. Di tengah das sein dan das sollent begitu timpang jaraknya. Membuat generasi sekarang untuk benar-benar paham akan sejarah bangsanya lalu muncul rasa bangga, sepertinya rada susah terjadi.

Di tengah desain yang masif dan signifikan untuk menjauhkan setiap anak bangsa untuk lebih tahu dan mengenal sejarah dan peradaban negaranya di masa lalu.

Namun saya masih memiliki keyakinan yang begitu tinggi, lambat laun generasi muda itu akan mengerti. Setidaknya generasi muda yang hari ini tengah menimba ilmu di kampus ITB Yadika Pasuruan!

Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Saya kira itu tidak sekadar harapan dan doa semata. Karena dihari-hari mendatang saya akan sering bertemu dengan mereka, tentu saya harus berpikir keras membuat sebuah metode cita-cita saya itu tercapai!

Setidaknya para anak muda yang kemarin sempat bertemu dan menyimak paparan materi yang saya berikan. Mereka punya ilmu otentik yang saya tularkan agar mereka semua menjadi manusia yang tampil dan menaksir versi terbaik dirinya sendiri. Darinya dengan sikap yang konsisten terus menempa diri, akan lahir banyak manusia yang bisa selesai dengan dirinya sendiri, dan berkobar-kobar spirit dan semangatnya untuk memberikan mahkota pengabdian untuk bangsanya kelak dikemudian hari itu.

Kalau saya sih yesssss. Entah kalau Anda? Apakah juga bersedia Mengkader para mahasiswa serta tunas-tunas muda calon pemimpin negeri di masa depan itu? Untuk kita didik kenalkan kembali akan sejarah besar peradaban dinegeri ini, versi penghuni asli dari negeri ini bukan versi orang lain bahkan negeri lain!

Kalau Anda manusia waras tentu akan bergandengan tangan dengan saya untuk menjalankan visi hidup yang adiluhung itu. Dalam kerja-kerja yang Istiqomah dan berkelanjutan, apapun profesi Anda sekarang!

Itulah gagasan saya, mana gagasan Anda?

Demikian selamat sore.


AAS, 12 Maret 2023
Warkop Rungkut Surabaya

Editor : Nasirudin