Catatan Mas AAS

Megengan

Reporter : -
Megengan
Megengan

Saiki Wulan Ruah. Mari ngono bakalan teko Wulan Poso!

Sehabis Makaryo. Mengajar di Kampus ITB Yadika Pasuruan.

Baca Juga: Ontran-ontran Bak Sinetron FTV: Sebuah Drama yang Terus Berlanjut

Malam ini diundang menghadiri acara Megengan di tempat nya kolega kampus. Namanya Pak Mustofa.

Acara Megengan dirumah.

Mengajar kelar, lalu spontan meluncur ke TKP.

Wong Jowo ora lali Karo Jawane. Ora dadi Kejawan! Senang saja mendatangi undangan megengan malam ini.

Ritus Jawa identik dengan sanepan. Identik dengan simbol. Megengan adalah sebuah cara manusia Jawa untuk berdoa, untuk menyambut datangnya bulan yang banyak berkah yaitu bulan Romadhon. Wulan Poso.

Megengan di Bangil. Di Klaten namanya Nyadranan! Adalah sebuah budaya yang sudah mengakar dan menjadi tradisi yang adiluhung.

Biasa diadakan pada tanggal terakhir pada bulan Sya'ban (Ruwah). Untuk menandai awal masuknya bulan Romadhon.

Tradisi megengan dalam bahasa Jawa berasal dari kata Megeng yang artinya menahan.

Megengan adalah budaya yang memiliki arti bahwa sebentar lagi seluruh manusia yang beragama Islam diharapkan mampu menahan nafsunya pada bulan Romadhon.

Baca Juga: Urip Ayem Tentrem: Menikmati Gending Lawas di Emper Omah

Tradisi Megengan atau Nyadran identik dengan Bancakan atau syukuran. Makan, kumpul, dan berdoa bersama.

Meski dengan sederhana.Tidak mengurangi rasa syukur dan khusuk kami semua yang berkumpul, bancakan ditempat nya kolega yaitu pak Mustofa. Mrengeti Megengan.

Selain berbahagia bahwa sebentar lagi bulan yang penuh Rahmat itu sebentar lagi tiba. Suasana akrab ditengah rutinitas mengajar juga kami alami bersama pada malam ini!

Bahagia ternyata sederhana saja. Kumpul, guyon maton parikeno bersama. Megengan bareng, menahan bersama semua anasir yang tidak akan mampu mengantarkan diri menjadi manusia yang fitrah. Kita akrabi bersama.

Terima kasih pak Mustofa. Atas undangan dan suguhan yang begitu nikmat, dalam acara Megengan malam ini.

Baca Juga: Inspirasi dari Kebaikan Kecil

Dan nanti pada bulan Romadhon. Nanti juga ikut puasa sampai Magrib ya Pak Mustofa, jangan sampai bedug dhuhur saja lho ya. Amin.

Alhamdulilah. Akhirnya pada malam ini, bisa merasakan suasana Nyadranan kembali. Sebuah tradisi yang begitu agung, yang mengajak setiap anak bangsa dinegeri ini untuk tahu juga paham akan esensi sebuah jati diri, yang harus dan mau untuk tirakat, untuk puasa.

Sebelum meraih ampunannya Gusti.

Demikian saja ceritanya. Terima kasih.


AAS, 17 Maret 2023
Rumahnya Pak Mustofa Bangil Pasuruan

Editor : Redaksi