Catatan Mas AAS

Pendidikan Adalah Jalan Untuk Bahagiakan Orangtua

Reporter : -
Pendidikan Adalah Jalan Untuk Bahagiakan Orangtua
Mas AAS

Sore yang sebentar lagi datang, diri ini rada gamang saja menulis tentang diri sendiri. Namun, karena memahat huruf adalah sebuah olahraga jemari yang rutin penulis lakukan saban harinya. Maka, saat ada tugas membuat logline atau premis awal sebuah tulisan. Dalam acara workshop writepreneur yang diadakan oleh IKA UB sedari pagi tadi, dan sore ini tugas itu dikerjakan penulis, meski masih ada waktu dua Minggu lagi dikumpulkan. Lebih cepat lebih baik, keburu jualan nasi goreng, dan ngojek lagi soalnya!

Sembari di dalam warkop (warung kopi) tugas itu segera dikerjakan penulis. Jadilah sebuah narasi kecil perihal logline dengan tajuk "pendidikan adalah jalan ninja bahagiakan orang tua". Mulailah berbicara dengan diri sendiri sambil memanggil sinapsis kehidupan yang sudah dilewati di masa lalu.

Baca Juga: Momong Kahanan!

Meski saja logline rada kebanyakan ditulis. Seharusnya cukup 40-100 kata. Karena kebiasaan menulis di hape bukan di laptop, tak bisa melihat jumlah katanya, upps. Tapi koreksi dari pemateri cukup menjadi insight. Kira-kira isi logline nya adalah di bawah ini!

AAS adalah anak ke 6 dari 7 bersaudara. Ia sejak kecil diasuh serta dididik oleh kedua orang tuanya agar menjadi orang yang baik, sukses, dan bermanfaat untuk keluarga, syukur bagi orang banyak. Anak dari desa di daerah lereng Gunung Merapi-Merbabu Klaten, Jawa Tengah ini, sadar betul, ia harus menjadi anak yang sukses di dalam hidupnya. Dengan cara itulah ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya dan keluarga besarnya.

AAS sejak kecil sudah terbiasa hidup disiplin. Ia menyadari dengan hidup disiplin akan mengantarkannya menjadi berhasil dalam segala hal. Seturut apa yang disampaikan oleh kedua orang tuannya di rumah masa kecilnya dahulu. Sejak kecil ia sudah terlibat untuk bekerja membantu kedua orang tuanya: ia jualan es waktu SD, usai sekolah. Ia terbiasa belajar dan kerjakan PR tepat waktu, lalu istirahat malam, serta bangun tidur pagi, juga tepat waktu. Kehidupan di masa kecilnya AAS benar-benar penuh narasi yang sarat inspirasi.

Baca Juga: Merah Putih Negeri ku

AAS kecil telah memiliki kesadaran bahwa hidup dengan jumlah saudara yang banyak. Harus menjadi anak yang mau prihatin tidak manja, karena beban orang tua juga cukup berat menghidupi semua kakak, dan adiknya. Semua pada sekolah, yang membutuhkan biaya tidak sedikit!

AAS sejak kecil telah memiliki pemahaman, bahwa sekolah itu menyenangkan. Dan dengan sekolah pula membuka peluang kesuksesan terbuka lebar, seperti yang sudah dicapai dalam keluarga besar kedua orang tuanya. Maka dari itu sejak sekolah di SD, SMP, SMA, SI, S2, bahkan hingga S3, anak asli dari desa ini, tidak ingin sekadar sekolah saja. Tapi benar-benar ingin belajar mendapatkan ilmu dan harus berprestasi. Tidak mudah memang untuk meraih hasil tersebut. Namun, akhirnya mestakung terjadi. Boleh, dikatakan selama sekolah dan kuliah kesuksesan sebagai siswa juga sebagai seorang mahasiswa berhasil ia jalani dengan sukses. Rangking satu atau masuk tiga besar di masa sekolah dan lulus dengan katagori cumlaude semasa kuliah S2 ia peroleh. Dan ia bawa bapaknya untuk menerima hadiah penghargaan untuk prestasi di pendidikan yang ia alami.

AAS, untuk mencapai itu semua. Ia mempertaruhkan banyak hal dalam hidupnya. Tak jarang masa remaja ia isi dengan perjuangan untuk membantu bekerja kedua orang tuanya mencari uang bagi keluarga besarnya. Dengan cara apa? Jualan es, kue misalnya. Dan di masa kuliah pun hal serupa ia lakukan juga. Ia tak ingin meminta uang kepada orang tuanya, ia harus cari sendiri. Agar bisa meringankan beban keluarga. Sepertinya ia harus berterima kasih kepada kedua orangtuanya plus keluarga besarnya. Atas didikan mereka lah, anak yang sarat dengan pengalaman hidup itu, benar-benar merasakan bahagia di satu sisi karena sudah berhasil membahagiakan kedua orang tuanya, dengan bertekun di jalur pendidikan. Ia kini telah dinyatakan lulus sebagai seorang doktor, berkat rampungkan pendidikan S3 nya di Pascasarjana FEB UB Malang. Tapi untuk mencapai gelar tertinggi dalam dunia pendidikan itu. Anak dari Lereng Gunung Merapi-Merbabu itu benar-benar menjadi anak jalanan di kota pahlawan dengan menjadi ojek online saban hari ketika masih kuliah S3. Dan menjadi manusia malam, sebagai penjual nasi goreng Mbah Joyo miliknya.

Baca Juga: Jalani Saja, Klangenan Hidup Yang Disenangi

Kini, seorang AAS hanya bisa termangu tatkala ingat wajah kedua orang tuanya yang sudah kondur (meninggal), karena semua prestasi itu ingin ia persembahkan bagi kedua orang tua aslinya. Ia meski rada sedih namun juga gembira karena telah menunaikan amanah dari kedua orang tuanya agar bisa sekolah setinggi mungkin dan lulus tentunya. Kiranya Bapak ibu di alam kelanggengan bahagia melihat diriku akhirnya sudah lulus kuliah S3.
Maturnuwun Gusti...


AAS, 6 Januari 2024
Surabaya

Editor : Yuris P Hidayat